Breaking News

PENDIDIKAN Sejarah Berdirinya SMPSK Kotagoa Boawae 06 May 2020 14:58

Article image
Kompleks SMPSK Kotagoa Boawae. (Foto: ist)
Pada 2019 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menyematkan Predikat Sekolah Bermutu bagi SMPSK Kotagoa Boawae.

Oleh Mateus Tule, S.Pd

SMPSK KOTAGOA Boawae terletak di Km 1 Jalan Boawae – Soa, Lingkungan 3, Kelurahan Natanage, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, NTT. Dalam perjalanan memasuki usia 69 tahun  di tahun 2020 ini, SMPS Katolik Kotagoa Boawae terus membenah diri dan mengalami berbagai perubahan. Hingga saat ini SMPSK Kotagoa Boawae merupakan salah satu sekolah menengah pertama swasta katolik yang cukup populer  di Kabupaten Nagekeo sebagai buah dari prestasi dan kemajuan di berbagai aspek yang dicapai oleh sekolah ini.  

Kondusifitas suasana di lingkungan sekolah sangat terjaga; hijau, rindang, bersih dan sejuk, membuat suasana belajar siswa terasa sangat nyaman. Kondisi ini menghantar siswa dan semua yang bekerja di lembaga ini merasa betah, semangat dan bahagia. Ini menjadi ciri khas taman pendidikan ini termasuk di musim kemarau yang panjang lingkungan tetap hijau dan teduh. Di luar kelas juga menjadi tempat belajar yang nyaman bagi siswa. Kondisi ini menjadi salah satu indikator kunci keberhasilan para siswa  dalam menyelesaikan studi dan meraih prestasi selama masa-masa belajar di SMPS Katolik Kotagoa Boawae. Oleh karena itu SMPS Katolik Kotagoa Boawae senantiasa menerapkan pola kebijakan yang antisipatif, inisiatif, kreatif dan inovatif dalam bingkai Motto Sekolah : Solider Pasti Kotagoa Prestasi (Sopas Go Press).

Saat ini sebanyak kurang lebih 545 peserta didik yang belajar di SMPS Katolik Kotagoa Boawae. Mereka berasal dari berbagai lintasan penjuru wilayah Kabupaten Nagekeo dan Ngada serta Kabupaten Ende, dengan berbagai latar belakang budaya, suku, dan agama.  Perolehan prestasi dan predikat sekolah yang semakin gemilang terus dialami dari tahun ke tahun. Hingga pada tahun 2019 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menyematkan Predikat Sekolah Bermutu bagi SMPSK Kotagoa Boawae. Ini adalah kebanggaan karena sebuah prestasi yang diperjuangkan dengan pengorbanan dan kerja keras seluruh civitas akademika sekolah ini.  Hal ini menunjukkan grafik animo masyarakat luas terhadap lembaga ini meningkat tajam dengan mengirim anak-anak mereka untuk belajar di SMPS Katolik Kotagoa Boawae.

Berikut  disajikan sejarah perjalanan SMPSK Kotagoa Boawae sejak awal berdiri tahun 1951 hingga saat ini. Seiring waktu bergulir, tak terasa SMPSK Kotagoa Boawae telah memasuki usia 69 tahun pada tahun 2020. Untuk usia hidup seorang manusia 69 tahun adalah tingkat usia di ambang batas harapan hidup. Bagi SMPSK Kotagoa Boawae 69 tahun adalah sebuah ziarah panjang pengorbanan mendidik anak-anak bangsa menoreh beraneka kisah dan kenangan yang tak mudah terlupakan. Kenangan bagi mereka yang pernah menikmati manisnya madu dan jernihnya mata air serta segarnya udara Kotagoa Boawae.

Ketika Negara Indonesia baru enam tahun merdeka dan diliputi oleh kualitas hidup yang sangat rendah, karena kungkungan kebodohan dan kemiskinan, timbul pikiran cerdas para pendahulu mendirikan sebuah sekolah lanjutan pertama untuk membina kader-kader bangsa dan Gereja di wilayah Ngada saat itu.  Sekolah Menengah Pertama Swasta Katolik Kotagoa Boawae (SMPSK Kotagoa Boawae) berdiri pada tanggal 1 Agustus 1951 sebagai sebuah studiefonds bagi masyarakat di wilayah Swapraja Nagekeo, lalu dikenal dengan nama; “ Studiefonds Nagekeo” berasal dari kata bahasa Belanda; studie = belajar dan fonds = bantuan/biaya. Ini merupakan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Swasta di Kabupaten Ngada saat itu.

Studiefonds Nagekeo ingin menyelenggarakan pendidikan setingkat SLTP untuk menampung para lulusan SR/SD pada waktu itu. Berikut tokoh-tokoh visioner yang memiliki kecerdasan berpikir jauh ke depan dan melahirkan  gagasan brilliant sebagai Fundator/Perintis/Pendiri SMPSK Kotagoa Boawae. Mereka adalah :

1.    Bapak Yoseph Djuwa Dobe Ngole  (Raja Nagekeo).
2.    Bapak Janssen da Cunha (Ayahanda Mgr. Abdon Longginus da Cunha) yang saat itu menjabat sebagai Kepala Kehewanan Nagekeo.
3.    Pater F. X. Cornelissen,SVD (Seorang guru di SLTP Yapenthom Maumere yang mendapat dorongan dari Raja Sikka J. Don Thomas Ximenes da Silva untuk mengambil langkah kongkrit segera hadirnya sekolah ini di wilayah swapraja Nagekeo.
4.    Pater Herman J. Scholte, SVD yang dikirim oleh P. F.X. Cornelissen, SVD untuk turut mengusahakan berdirinya SLTPS Kotagoa Boawae menjadi guru dan selanjutnya menjadi Kepala Sekolah pertama.

Dalam mempersiapkan segala sesuatu bagi berdirinya sekolah ini, maka para pendiri dan penggagas membentuk sebuah kepanitiaan sekolah dengan komposisi sebagai berikut :

1.    Ketua            : Bapak Yosef Djuwa Dobe Ngole (Raja/Kepala Swapraja Nagekeo).
2.    Wakil Ketua    : Bapak A. Fr. Batamude (Wakil Raja)
3.    Panitera         : Bapak Frans Dapa Ngole.
4.    Bendahara     : Bapak A. Fr. Batamude.
5.    Pembantu        : Bapak Emanuel Lena, Bapak Hasan Bali dan Bapak Illias Pua Upa

Semua rencana mendirikan SLTP ke-3 di Flores ini, ternyata bagai gayung bersambut tidak saja oleh tokoh pemerintahan swapraja Nagekeo, tokoh agama dan tokoh adat tapi juga para pemilik tanah. Para pemilik tanah dengan sukarela memberikan tanahnya untuk dijadikan lokasi sekolah. Tersebutlah nama-nama tuan tanah antara lain : Bapak Yohanes Godho Wea, Bapak Lambertus Ngato Noi dan Bapak Lasarus Lewa Mepe. Mereka tidak menuntut bayaran akan tetapi memberi dengan tulus ikhlas..

Dukungan yang luar biasa datang juga dari masyarakat “18 Hamente” (wilayah setingkat sub kecamatan, bukan desa) seluruh Nagekeo untuk mewujudkan semua impian berdirinya SLTPS Kotagoa Boawae dengan memberikan sumbangan baik moril maupun materil (dana dan tenaga). Dengan membawa bahan bangunan serta makanan sendiri, mereka datang dari berbagai wilayah dengan penuh pengorbanan dan bekerja secara gotong royong untuk mendirikan gedung SLTPS Kotagoa Boawae secara bergilir. Ke-18 Hamente tersebut di atas yakni :


1.    Hamente Boawae            7. Hamente Lejo                13. Hamente Wolowae
2.    Hamente Deru-Rowa        8. Hamente Keo Tengah    14. Hamente Nataia
3.    Hamente Kelimado          9. Hamente Pautola           15. Hamente Rendu
4.    Hamente Raja               10. Hamente Riti                 16. Hamente Munde
5.    Hamente Maukeli           11. Hamente Tonggo           17. Hamente Mbay
6.    Hamente Sawu              12. Hamente Ndora             18. Hamente Dhawe

Antusiasme masyarakat menyambut berdirinya Studiefonds Nagekeo ditandai dengan pengiriman siswa untuk belajar di sekolah tersebut yang tidak hanya berasal dari kabupaten Ngada, tetapi juga meliputi Ende, Sikka, Flores Timur dan Manggarai. Untuk membimbing siswa-siswi angkatan pertama yang berjumlah 39 orang hanya tersedia 2 orang tenaga guru yaitu Pater Herman J. Scholte, SVD dan Bapak Linus Djogo Dadjo. Pada tahun 1952 bertambah lagi seorang guru yakni bapak Aloysius Tao dari Nuamuri-Maunori. Tahun-tahun berikutnya terus diwarnai penambahan dan pengurangan guru.

Perkembangan demi perkembangan sekolah ini terus menata diri kendati tantangan-tantanganpun juga meliputi perjalanannya. Tahun 1952 diadakan peletakan batu pertama  gedung permanen ukuran 60 x 8 meter, yang pengerjaannya dipimpin oleh kepala tukang Bapak Ence Ewu. Gedung tersebut selesai dikerjakan tahun 1954. Tantangan lain juga datang menghadang, yakni kurangnya tenaga guru serta keadaan dana yang memprihatinkan. Bapak Jansen da Cunha yang juga seorang penasehat Raja Yosef Djuwa Dobe Ngole menaruh perhatian akan krisis guru ini. Beliau mendatangkan guru-guru dari tanah Sikka dengan upayanya sendiri.

Berbarengan dengan itu, siswa siswi dari tanah Sikka juga datang menimba ilmu di SLTPS Kotagoa Boawae. Berbagai krisis ini tidak dapat begitu saja dibiarkan. Sekolah harus dikelola dengan baik oleh suatu lembaga.  Maka dibentuklah oleh para pemuka waktu itu sebuah Yayasan untuk mengelola studiefonds Nagekeo, yaitu  Yayasan SMP Katolik Boawae pada tahun 1953. Hal inipun belum memecahkan masalah di atas. Sekolah masih membutuhkan sokong-sokongan untuk hidup.

Pada tahun 1954 SLTPS Kotagoa Boawaea mendapat Skp dari menteri PP dan K RI untuk status “Berbantuan” dengan saran “agar panitia sekolah harus dirubah menjadi yayasan dengan akte notaris” sementara yayasan SMPK Boawae tidak memiliki akte notaries. Maka dengan akte notaries di Ende tanggal 26 September 1957, Panitia/Yayasan SMPK Boawae dirubah menjadi Yayasan Pendidikan Nagekeo dengan komposisi kepengurusan tetap sama seperti pada panitia sekolah. Syarat administrasi dari menteri PPdan K RI telah dipenuhi, tapi bantuan yang diharapkan tak kunjung tiba. Biaya Studiefonds menjadi beban masyrakat Nagekeo. Karena beban rakyat terlalu berat akibat kebutuhan yang meningkat, maka rakyat tak sanggup lagi untuk membantu mendanai studiefonds. Apalagi tahun 1957 dibuka pula SMP Setia Budi Maunori, SMEPK Batarende Wolosambi dan SMEPK Tozupazo Danga yang semuanya memerlukan bantuan rakyat.

Sekolah mengalami beban berat membiayai para guru dan pengadaan sarana-prasarana. Tanggal 3 Desember 1960, penyelenggaraan sekolah terpaksa diserahkan ke Yayasan Vedapura Ende. Biaya penyelenggaraan sekolah mulai ditata dengan sumbangan-sumbangan  Yayasan Vedapura. Gedung sekolah yang diperdirikan tahun 1952 beratap genteng diperbaiki tahun 1963  menjadi beratap seng oleh Vedapura dibawah KVS Pater A. Wetzer, SVD. Setelah melewati perjuangan, Pater Markus Moa, SVD yang pada saat itu menjadi Deken Nagekeo, dengan kemampuan yang ada padanya membantu membangun asrama dan gudang peralatan sekolah. Tapi tahun 1968 sumbangan Vedapura terhenti akibatnya untuk membiayai seluruh kegiatan sekolah, dana dipungut dari siswa. Atas pertimbangan memberdayakan partisipasi masyarakat dari bawah untuk menerima tanggung jawab persekolahan katolik sesuai dengan hasil siding para Uskup se-Nusa Tenggara bulan November tahun 1969, maka Yayasan Vedapura dibubarkan dan pada tanggal 2 Mei 1971 pengelolaan SMPK Boawae diserahkan ke Yayasan Persekolahan Umat Katolik Kabupaten Ngada (Yasukda).

Beralih ke Yasukda tidak berarti menuntaskan masalah. Kekurangan guru serta dana tetap menjadi masalah besar. Pada bulan Desember 1975 SLTPS Kotagoa Boawae mendapat Skp Menteri PP dan K RI untuk status “Bersubsidi”. Maksud bersubsidi adalah subsidi guru dan pegawai. Tentu hal ini merupakan berita gembira. Tetapi realisasinya subsidi guru tak kunjung tiba apalagi dana. Pengadaan guru diusulkan sendiri oleh sekolah.

Tahun-tahun terus berjalan, bantuan guru negeri mulai dipikirkan pemerintah setelah melalui lobi-lobi Yayasan, meskipun belum memenuhi harapan. Perubahan-perubahan mulai dipikirkan bersama. Dengan bantuan guru negeri, setidak-tidaknya ikut meringankan beban sekolah membiayai gaji guru swasta. Pemerintah mulai memberikan bantuan fasilitas belajar. Tapi nasib guru swasta kurang beruntung, gaji tetap melorot.

Tahun 1992 gedung permanen yang didirikan tahun 1952 porak poranda dihantam gempa bumi Flores berkekuatan besar. Kerusakan terjadi hamper seluruh bagian bangunan. Dengan bantuan pemerintah dan bantuan lembaga kewartawanan yang termasuk di dalamnya seorang alumni Kotagoa, Bapak Damianus Godho, maka gedung baru permanen dengan pelaksana konstruksi bangunan Pater Tadeuz Gruca, SVD boleh kembali memayungi Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di SLTPS Kotagoa Boawae tahun 1993. Sebagai jantung dari proses belajar mengajar di sekolah, ketersediaan buku-buku di perpustakaan menjadi keprihatinan Bapak Basilius Bengo Teku. Maka sebagai seorang alumni, beliau turut menyumbngkan buku-buku perpustakaan yang jumlahnya cukup banyak. Ruang perpustakaan dibangun dengan bantuan Pater Herman J. Scholte,SVD; begitu pula asrama puteri semi permanen dibangun.

Tentunya telah banyak hal yang menghiasi perjalanan sekolah hingga saat ini. Pahit dan manis direguk. Semua yang telah dibuat dan yang akan diusahakan adalah bukti kecintaan untuk menjadikan sekolah ini tetap hidup, bukan sekedar hidup tetapi sekolah yang memiliki arti karena kualitas atau mutu. Momentum peringatan atau Reuni emas 51 tahun SMPK Kotagoa Boawae pada 1 Agustus 2002 yang lalu menjadi sarana mempertemukan kembali kader-kader yang telah dilahirkan dari rahim sang bunda SLTPS Kotagoa Boawae yang telah mengalirkan potensi Sumber Daya manusia (SDM) berkualitas. Enam tahun lagi yakni tahun 2026 sekolah ini akan bersorak riang dan bersyukur merayakan intan (75 tahun). Momentum ini hendaknya mengetuk hati kita semua para alumni, Yayasan Persekolahan Umat Katolik Nagekeo (Yapersukna), masyarakat peduli pendidikan, Pemerintah, simpatisan dan seluruh umat katolik paroki St. Fransiskus Xaverius Boawae untuk memperkuat keberadaan lembaga ini dan juga hendaknya menjadi reuni pemikiran cerdas generasi-generasi sekarang. Para perintis, pendiri, tokoh-tokoh masyarakat serta masyarakat Nagekeo dahulu telah membuktikan kecerdasan berpikir mereka dan mampu mewujudkannya lewat usaha-usaha menghadirkan sekolah ini dengan kemampuan dan keterbatsan yang ada pada mereka. Mereka mewariskan harta yang sangat bernilai. Pikiran cerdas apa yang dapat kita sumbangkan bagi masa depan anak cucu kita ?

Sebagai generasi penerus kitapun terpanggil untuk memberikan andil bagi masa depan sekolah ini. Andil yang kita berikan baik langsung maupun tidak langsung merupakan investasi yang sangat berarti bagi pembangunan SDM anak cucu kita serta ikut mempertahankan eksistensi SMPSK Kotagoa Boawae dari badai dan amukan zaman.  Sejarah telah membesarkan kita, sejarah pula yang telah membimbing kita menuju pada puncak eksistensi kita. Sejarah telah mencatat perbuatan besar para penjasa terdahulu. Oleh karena itu jangan pernah kita melupakan karya besar mereka. Mengenang jasa dan karya merekapun belumlah cukup, namun kita perlu melakukan perbuatan besar dengan cara dan kemampuan yang kita miliki. Ir. Soekarno (pemikir dan Bapak Bangsa Indonesia) mengingatkan agar ‘kita tidak boleh melupakan sejarah’   dengan analoginya yang terkenal : Jas Merah : “jangan sekali-kali melupakan sejarah”.

Urutan Kepala SMPSK Kotagoa Boawae Tahun 1951 Hingga Sekarang.

Kepala Sekolah ke-1    :     P. Herman J. Scholte,SVD      : ( 1951 -  1954 )
Kepala Sekolah ke-2    :     Bpk. Linus Djogo Dadjo         : ( 1954 – 1959 )
Kepala Sekolah ke-3    :     Bpk. Martinus J. Nuwa Feto     : ( 1959 – 1960 )
Kepala Sekolah ke-4    :     Bpk. Lambertus J. Lali Uda     : ( 1960 – 1964 )
Kepala Sekolah ke-5     :     Bpk Andreas Lea Owa              :  ( 1964 – 1977 )
Kepala Sekolah ke-6    :     Ibu Margaretha Tukan               : ( 1977 – 1980 )
Kepala Sekolah ke-7    :     Bpk. Drs. Theofilus Woghe      : ( 1980 – 1983 )
Kepala Sekolah ke-8    :     Bpk. Alfons Jemu        : ( 1983 – 2004 )
Kepala Sekolah ke-9    :     Ibu Maria Goreti Gu, SM         : ( 2004 – 2019 )
Kepala Sekolah ke-10    :     Bpk. Mateus Tule,S.Pd        : ( 2019 – sekarang )


Hari ini indah terukir
Sejarah sekolahku, riwayat almamaterku
Dari sini aku telah diutus
Ke penjuru mata angin  

Jadi dian ‘tuk menyluh
Jadi duta “tuk mencintai
Viva Kotagoaku tetap abadi
Dan jayalah selalu, Terima Kasih

Penulis adalah Kepala SMPSK Kotagoa Boawae


YAYASAN PERSEKOLAHAN UMAT KATOLIK NAGEKEO
SMP SWASTA KATOLIK KOTAGOA BOAWAE
Alamat : Jln. Boawae – Soa Km 01 Kode Pos 86462-Email;kotagoa@yahoo.co.id
STATUS TERAKREDITASI A

Komentar