Breaking News

HUKUM Sejumlah Elemen Kecam Dugaan Pemukulan Ketua PMKRI Kupang oleh Oknum Satlantas Polres Kupang 21 Jan 2020 08:04

Article image
Forum Pemuda NTT (FPN) menggelar Diskusi guna melakukan aksi tuntutan di Polda NTT atas dugaan kasus pemukulan Ketua Presidium PMKRI Cabang Kupang. (Foto: Dok.FPN)
"Ini cara-cara intimidatif yang tidak boleh dibiarkan tumbuh subur dalam institusi penegak hukum,” kecam Bedi Roma.

KUPANG, IndonesiaSatu.co-- Sejumlah elemen menyatakan reaksi kecaman dan tuntutan menyikapi dugaan kasus pemukulan Ketua PMKRI Kupang, Adrianus Oswin Goleng oleh oknum Satlantas Polres Kupang, Sabtu (19/1/20).

Menanggapi dugaan tindakan represif, intimidasi dan kekerasan tersebut, Forum Komunikasi Alumni (FORKOMA) PMKRI Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Sekretaris Umum, Kristofurus Efi menyesalkan tindakan aparat yang arogan terhadap masyarakat apalagi dengan menggunakan kekerasan.

Untuk itu, secara organisasi Forkoma PMKRI NTT mengecam keras tindakan pemukulan tersebut dan mendesak Polda NTT agar mengusut kasus ini secara tuntas.

"Kalau benar terjadi pemukulan, maka ini tindakan aparat yang arogan terhadap masyarakat dan sangat disesalkan. Untuk itu, Forkoma mengecam keras tindakan ini dan mendesak Polda NTT agar mengusut tuntas kasus ini," kata Kristo Efi kepada media, Minggu (19/1/20).

Kecaman senada disampaikan FORKOMA Manggarai Barat (Mabar) yang menilai tindakan kekerasan secara fisik ini sangat memalukan dan menunjukkan ketidakmatangan emosional oleh oknum aparat.

"Memalukan dan kecewa dengan tindakan kekerasan secara fisik dan verbal yang dilakukan oknum Satlantas Polresta Kupang. Tindakan pemukulan dan intimidasi ini bentuk ketidakmapanan emosional oknum aparat kepolisian dalam melayani, melindungi dan mengayomi msyarakat. Perilaku oknum aparat seperti ini tidak bisa dibiarkan dan harus disikapi sesuai aturan hukum," kata Ketua FORKOMA Mabar, Dominikus Jehadun.

FORKOMA Mabar, kata Dominikus, juga mendukung penuh upaya hukum yang dilakukan Adrianus Oswin Goleng dengan melaporkan kejadian ini kepada Propam Polda NTT.

FORKOMA Mabar berharap, Propam Polda NTT dapat menindak tegas oknum kepolisian yang melakukan kekerasan terhadap masyarakat sipil.

"Hal ini penting demi mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap institusi penegak hukum. Sehingga masyarakat mengetahui institusi kepolisian tidak pernah melegalkan cara kekerasan, termasuk melindungi aparat kepolisian yang melakukan kekerasan dalam menegakan hukum," kata Dominikus.

Desak Copot Oknum Pelaku

Sementara Forum Pemuda NTT (FPN) mendesak Polda NTT mencopot Brigpol Polce Adu, Cs yang diduga melakukan penganiayaan terhadap Ketua Presidium PMKRI Cabang Kupang, Adrianus Oswin Goleng.

Ketua Forum Pemuda NTT, Agustinus Budi Utomo Gilo Roma di Kupang mengecam keras tindakan represif yang diduga dilakukan oleh Bripol Polce Adu, Cs.

“Forum Pemuda NTT secara tegas meminta Polda NTT untuk mengusut tuntas persoalan ini. Ini cara-cara intimidatif yang tidak boleh dibiarkan tumbuh subur dalam institusi penegak hukum,” kecam Bedi Roma.

Bedi Roma menegaskan bahwa tindakan represif seperti itu jangan sampai berdampak pada rakyat kecil nantinya.

Menurutnya, tindakan itu merupakan tindakan biadab dan tidak manusiawi. Perlakuan oknum Polantas Polres Kupang Kota tidak mencerminkan spirit Polri yang melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat.

Lebih lanjut Agustinus mendesak agar Polda NTT segera menindak tegas dengan mencopot Brigpol Polce Adu, Cs karena dianggap tidak pantas menjadi anggota Polri.

“Mentalitas bar-bar, berwatak premanisme kok bisa jadi anggota Polri? Ini harus ditindak tegas dengan mencopot dari anggota Polri," desaknya.

Cederai Institusi Polri

Kecaman dan sorotan senada juga diutarakan Direktur Pelayanan Advokasi untuk Perdamaian dan Keadilan (PADMA) Indonesia, Gabriel Goa.

Gabriel menilai, dugaan kekerasan fisik dan verbal terhadap Oswin sungguh mencoreng dan mencederai citra institusi Polri sebagai aparat penegak dan pengayom masyarakat.

“Tindakan para oknum seperti preman, bukan  Polri,” sorot Gabriel dalam rilis kepada media ini, Senin (20/1/20).

Gabriel mengaku, sebagai lembaga bantuan hukum Indonesia, pihaknya merasa terpanggil  untuk mengingatkan Polri sebagai pengayom masyarakat dan aparat penegak hukum.

Gabriel mendesak agar Kapolda NTT menindak tegas dan memproses secara hukum oknum Polantas Polresta Kupang karena telah mencoreng nama baik marwah Polri sebagai pengayom masyarakat dan penegak hukum serta HAM.

PADMA Indonesia, lanjutnya, juga mendesak Kapolda NTT untuk meminta maaf kepada rakyat NTT  atas tindakan premanisme yang telah  dilakukan oknum Polantas Polresta Kupang terhadap Ketua Presidium PMKRI Cabang Kupang, Oswin.

"Tindakan oknum Polantas yang demikian justru mencederai hakikat dan citra institusi Polri. Ini presenden buruk di mata publik NTT terhadap perilaku oknum aparat (Polri)," kecam PADMA.

Kecaman dan tuntutan serupa juga dinyatakan oleh PMKRI Cabang Ende, PMKRI Cabang Ruteng, elemen Organisasi Cipayung dan Organisasi kepemudaan di NTT.

Jika tidak segera disikapi dan ditindaklanjuti oleh Polda NTT, maka aliansi gerakan pemuda NTT akan menggelar aksi tuntutan di Polda NTT terhadap kasus tersebut.

--- Guche Montero

Komentar