Breaking News

INFRASTRUKTUR Sekian Tahun Belum Terjamah, Ruas Jalan dan Jembatan di Wilayah Utara Ende Kian Memprihatinkan 21 Mar 2020 09:13

Article image
Kondisi salah satu titik jembatan putus di Desa Fataatu, Kecamatan Wewaria, Ende. (Foto: Che/IndonesiaSatu.co)
"Diharapkan pemerintah segera menanggapi keluhan masyarakat terkait jalan di jalur Utara Kabupaten Ende. Kami juga punya hak yang sama untuk menikmati pembangunan sehingga jangan dianaktirikan," sorot Arman.

ENDE, IndonesiaSatu.co-- Kondisi ruas jalan dan beberapa titik jembatan di sepanjang jalur Utara Ende, sejak daerah Kecamatan Detusoko hingga Kecamatan Maukaro, sudah menjadi keprihatinan tahunan setiap musim hujan tiba.

Dalam pantauan media ini, Jumat (20/3/20), sejumlah ruas jalan yang merupakan jalur Provinsi dan tanggung jawab Pemprov NTT tersebut mengalami kerusakan cukup parah.

Selain ruas jalan yang mengalami kerusakan berat, beberapa titik jembatan di wilayah Kecamatan Wewaria juga putus total dan hancur, yakni jembatan di sekitar Pasar Tendaleo, jembatan di desa Tanali, Desa Fataatu, desa Sokoria, dan desa Mukusaki.

Sementara di wilayah Kecamatan Maukaro, kondisi ruas jalan sungguh memprihatinkan, baik karena genangan air maupun akibat abrasi laut.

Dengan kondisi infrastruktur yang masih memprihatinkan ini, selain menghambat arus lalu lintas, juga mengganggu aktivitas perekonomian masyarakat.

“Kami selalu mengalami kesulitan setiap kali musim hujan. Kondisi jalan dari daerah Detusoko hingga Maukaro sangat memprihatinkan. Selain rusak dan berlubang, beberapa jembatan yang sudah jebol (putus, red) masih dibuat darurat sehingga sangat sulit untuk dilewati jika terjadi banjir," keluh Topan, salah seorang pegiat usaha komoditi dan pengemudi roda empat.

Topan menuturkan, kondisi jalan di wilayah Utara Ende hampir lima tahun belum ada perbaikan, baik dari pihak pemerintah daerah maupun pemerintah Provinsi.

"Sudah sekian tahun kondisinya masih sama, baik badan jalan maupun jembatan. Jika jembatannya putus akibat banjir, maka akses transportasi menjadi lumpuh total. Diharapkan pemerintah buka mata untuk segera memperbaiki kondisi jalan dan jembatan sehingga dapat mendukung aktivitas ekonomi masyarakat," ujar tokoh muda dari Desa Nabe Kecamatan Maukaro ini.

Potret Kesenjangan Infrastruktur

Senada dengan Topan, Hilar Bendi selaku salah satu tokoh muda dari Desa Kobaleba, Kecamatan Maukaro menyayangkan sikap pemerintah daerah yang selalu memberikan janji kepada masyarakat namun tidak direalisasi.

"Persoalan infrastruktur jalan selalu menjadi keluhan utama masyarakat, namun hingga kini belum ada tindak lanjut sehingga hal ini selalu menjadi persoalan lama yang dirasakan. Masyarakat selalu mendengar janji pembangunan namun minim realisasi. Ini fakta kesenjangan pembangunan antara di pusat kota dengan di desa-desa. Transportasi sudah menjadi kebutuhan utama masyarakat yang harus didukung oleh pemerintah. Jangan sampai hanya janji politik tanpa bukti," kritik Hilar.

Selain karena faktor alam, kerusakan badan jalan juga disebabkan oleh kendaraan dengan muatan berat yang melintasi wilayah tersebut sehingga memperparah kondisi jalan yang awalnya sudah rusak.

"Ada sejumlah kendaraan roda enam maupun roda delapan yang mengangkut material proyek maupun aspal panas dan melintasi daerah yang kondisi jalannya sudah rusak parah. Jika tidak segera diatasi maka kondisi jalan akan semakin parah dan menghambat arus transportasi. Sangat disayangkan jika kebutuhan infrastruktur jalan dibiarkan begitu saja walaupun kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Diharapkan pemerintah segera menanggapi keluhan masyarakat terkait jalan di jalur Utara Kabupaten Ende. Kami juga punya hak yang sama untuk menikmati pembangunan sehingga jangan dianaktirikan," sorot Arman.

--- Guche Montero

Komentar