Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

PENDIDIKAN Selain Ekstrakurikuler, Faktor Guru Sangat Menentukan Masuknya Radikalisme ke Sekolah 26 Jan 2018 12:53

Article image
Direktur Maarif Institute Abdullah Darraz. (Foto: Ist)
Direktur Maarif Institute Abdullah Darraz menyatakan selain dari kegiatan ekstrakurikuler, radikalisme juga masuk ke sekolah saat kegiatan belajar mengajar (KBM).

JAKARTA, IndonesiaSatu.coSelain masuk ke sekolah lewat kegiatan ekstrakurikuler, faktor guru juga berperan dalam masuknya radikalisme dalam bidang pendidikan.

Demikian salah satu kesimpulan penelitian bertajuk 'Penguatan Kebijakan Ekstrakurikuler dalam Meredam Radikalisme di Sekolah' dari Maarif Institute yang diterima redaksi IndonesiaSatu.co di Jakarta, Jumat (26/1/2018).

Penelitian tersebut dilakukan di 6 kabupaten/kota di 5 provinsi di Indonesia, yaitu Padang (Sumbar), Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Sukabumi (Jabar), Surakarta (Jateng), Denpasar (Bali), dan Tomohon (Sulut). Pengambilan data dilakukan pada Oktober hingga Desember 2017.

Ada 40 sekolah yang menjadi sampel dengan jumlah narasumber kurang lebih 450 orang. Metode pengumpulan data dilakukan dengan analisis dokumen, wawancara semi terstruktur, observasi lapangan, dan Focus Group Discussion.

Direktur Maarif Institute Abdullah Darraz menyatakan selain dari kegiatan ekstrakurikuler, radikalisme juga masuk ke sekolah saat kegiatan belajar mengajar (KBM).

"Kami juga lihat radikalisme itu masuk ke sekolah lewat proses KBM. Faktor utamanya adalah karena guru," kata Darraz.

"Kami coba tracking ke siswa. Apa yang diajarkan? Pernahkah mereka mengajarkan sesuatu di luar mata pelajaran? Ternyata guru-guru ini meskipun ngajar apa, tapi mereka terafiliasi dengan kelompok pengajian radikal tertentu di luar sekolah, akhirnya menyisipkan pandangan radikal saat di sekolah," sambung Darraz.

Maarif Institute mendorong agar ada kebijakan sekolah untuk melibatkan pihak moderat untuk menangkal radikalisme. Hal ini bertujuan agar siswa memiliki referensi dalam membangun rasa toleransi dan kebhinekaan.

"Jadi kami mendorong adanya kebijakan yang menyuburkan rasa kebhinekaan dan demokratis di sekolah. Lalu adanya aktor-aktor moderat yang belum banyak mungkin untuk mengcounter radikalisme. Kita libatkan kelompok sipil moderat turut mengcounter radikalisme," tambahnya.

"Seharusnya siswa jadi punya referensi lain dalam bagaimana membangun kebhinekaan dan lain lain," pungkasnya.  

--- Redem Kono

Komentar