Breaking News
  • BI: penurunan suku bunga mendorong intermediasi perbankan
  • BI: penurunan suku bunga sudah perhitungkan FFR
  • Perusahaan China bidik sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia
  • Petambak Lombok berpenghasilan Rp20 juta per bulan
  • Tiga BUMN kembangkan pelabuhan dukung Tol Laut

REGIONAL Selvi, Remaja yang Jatuh Hati Pada Tenun Ikat Sejak SD 04 Sep 2017 15:18

Article image
Maria Selvina Tanga (18), gadis remaja jatuh hati pada tenun ikat. (Foto: Guche Montero)
Meski tidak semua gadis seusianya menekuni dunia tenun ikat, Selvi mengaku bangga dengan kekayaan nilai budaya, salah satunya yakni tenun ikat.

KETERAMPILAN menenun tradisional (tenun ikat) tidak lagi menarik minat para gadis dan perempuan di era modern ini. Karena itu, tidak semua gadis usia remaja memiliki keterampilan mumpuni ketika bersentuhan dengan pekerjaan yang menuntut kesabaran, ketekunan, dan komitmen ini.

Tidak demikian halnya dengan Maria Selvina Tanga (18), sosok gadis remaja asal kampung Wololanu, Desa Bokasape Timur, Kecamatan Wolowaru, Ende.

Sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP), Selvi, demikian ia biasa disapa, mulai mengenal tenun ikat dari sosok ibunya, sang penenun tulen.

"Setiap kali ada kesempatan libur, ibu selalu mengajarkan bagaimana tahap-tahap menenun. Memang tidak mudah. Apalagi saat melihat ibu mengikat motif tenun hingga beberapa hari bahkan seminggu. Jika motifnya sulit, bisa 1-2 bulan lamanya. Awalnya saya belajar dari ibu dengan melihat lalu bertanya jika ada hal yang tidak saya pahami. Ibu selalu setia menjelaskan lalu menuntun saya secara perlahan-lahan untuk mencoba. Saat masih di bangku SMP, saya sudah bisa membuat motif sederhana pada selendang," kisahnya saat ditemui IndonesiaSatu.co, Minggu (3/9/2017)

Berkat kemauan dan kerja kerasnya, anak pertama dari tiga bersaudara ini terus mengisi waktu liburnya saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Ende.

Setiap kali ada kesempatan liburan sekolah, Selvi selalu pulang kampung agar bisa terus belajar menenun dari ibu. Suatu saat, ibu meyakinkan Selvi agar mulai membuat motif pada kain sarung setelah bisa menenun kain selendang. Selvi memberanikan diri untuk mencoba dan akhirnya selembar kain sarung bermotif daerah Ende-Lio selesai ditenun sebelum dia menamatkan pendidikan di bangku SMA.

“Saat itu saya merasa sangat bangga karena selain dinyatakan lulus, saya bisa mengenakan kain sarung hasil tenunan sendiri pada saat syukuran di sekolah. Sejak saat itu, saya mulai jatuh hati dengan tenun ikat," ungkapnya.

Tenun ikat merupakan hasil karya dari rutinitas para penenun. Lazimnya, penenun adalah kelompok para ibu yang sudah bertahun-tahun menekuni pekerjaan itu sebagai sumber utama penghasilan mereka. Menyebut tenun ikat, hal itu identik dengan dunia perempuan terutama kaum ibu. Hingga kini, tenun ikat masih menjadi warisan tradisi di berbagai daerah termasuk di Ende-Lio, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Terdapat berbagai tahap yang harus dilalui sebelum menghasikan selembar kain tenun ikat. Berawal dari proses pemintalan benang, pembuatan motif hingga proses tenun, seorang penenun memerlukan waktu dan kesabaran. Identik dengan dunia perempuan, gadis remaja ini memiliki kisah unik hingga akhirnya jatuh hati dengan rutinitas tenun ikat.

Pesan untuk generasi muda

Meski tidak semua gadis seusianya menekuni dunia tenun ikat, Selvi mengaku bangga dengan kekayaan nilai budaya, salah satunya yakni tenun ikat.

"Saya harap, anak-anak muda sekarang tetap memiliki rasa bangga dan mencintai kekayaan budaya sendiri. Jangan sampai perkembangan zaman menghilangkan rasa penghargaan terhadap kekhasan budaya sendiri. Anak-anak muda harus diarahkan pada kekayaan nilai dan unsur budaya sehingga tidak terlena dengan budaya modern yang serba instan dan menggiurkan. Tenun ikat, misalnya, harus diupayakan wadah atau komunitas bagi kawula muda agar dapat menunjukkan keterampilan, kreativitas dan inovasi secara berkelanjutan," harapnya.

Selvi mengakui, niatnya untuk terus melanjutkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi harus ditunda sambil membantu kedua orang tuanya menenun.

Menurut Selvi, pendidikan tetap menjadi prioritas utama di samping keterampilan menenun. Saat ini konsen menenun sambil menyisihkan penghasilan dari hasil tenun ikat untuk tabungan biaya kuliah. Menenun juga pekerjaan yang bisa menghasilkan uang jika ditekuni.

“Namun pendidikan tetap nomor satu," pungkas gadis pencinta motif Kelimara ini.

--- Guche Montero

Komentar