Breaking News

REGIONAL Sengketa Tanah di Adonara, Enam Tewas, Jenazah Belum Dievakuasi 05 Mar 2020 19:57

Article image
Korban perang perebutan lahan di Witihama, Adonara, Flotim, NTT. (Foto: ANTARA)
Keterangan yang diperoleh menyebutkan konflik berdarah sampai meminta korban jiwa tersebut, hanya karena sengketa lahan di daerah Wulenwata.

KUPANG, IndonesiaSatu.co – Perang antar suku di Witihama, Adonara, Kabupaten Florres Timur (Flotim), NTT menelan enam korban jiwa. Kantor Berita Antara melaporkan, jenazah para korban belum dievakuasi dari lokasi kejadian.

Wakil Bupati Flores Timur, Agustinus Payong Boli yang dikonfirmasi dari Kupang, Kamis (5/3/2020) malam melalui telepon genggam mengakui jenazah belum dievakuasi karena alasan keamanan.

"Sampai saat ini jenazah belum dievakuasi, selain karena alasan keamanan juga karena lokasi kejadian jauh dari pemukiman," katanya.

Korban yang tewas adalah Moses Kopong Keda (80), Yakobus Masan Sanga (70), Yosep Ola Tokan (56), dan Seran Raden (68) dari suku Kewaelaga.

Sedang, korban yang tewas dari suku Lamatokan adalah Yosep Helu (70) dan Wilem Kwasa (80).

Keterangan yang diperoleh menyebutkan konflik berdarah sampai meminta korban jiwa tersebut, hanya karena sengketa lahan di daerah Wulenwata.

Dia mengatakan, sejumlah personil TNI sudah berada di lokasi kejadian, dan saat ini masih menunggu personil kepolisian tiba di Desa Sandosi sebelum jenazah dibawa masuk kampung.

"Personil kepolisian sudah dalam perjalanan ke Desa Sandosi. Mereka akan berada di desa untuk menjaga keamanan, sebelum jenazah di evakuasi dari lokasi kejadian," katanya.

"Langkah ini dilakukan untuk menjaga situasi keamanan, karena suku-suku ini berada dalam satu desa," demikian Agustinus Payong Boli.

 

Perebutan lahan

Seperti diberitakan, perang antar suku yang dipicu perebutan tanah di Weluweta terjadi pada Kamis (5/3/2020) sekitar pukul 10.00.

"Saya baru komunikasi lewat telepon dengan BPD dan aparat Desa Sandosi, diketahui korban meninggal dunia enam orang dan luka-luka belum diketahui keberadaan karena lokasinya cukup jauh dari Desa Sandosi," kata Wabup Flotim, Agus Payongh Boli, kepada POS-KUPANG.COM, Kamis (5/3/2020) petang.

Agus Payong mengatakan telah minta pemerintah Desa Sandosi agar menghimbau suku-suku lain jangan terprovokasi dan masing-masing suku yang bertikai menahan diri supaya jangan lagi bertambah korban.

"Kepada para camat se-daratan Pulau Adonara dan desa-desa lain, saya menghimbau dan menahan masyarakatnya jika punya niatan membantu suku-suku yang lagi bertikai di Desa Sandosi karena di Adonara secara Lamaholot ada namanya "nara" atau sekutu lintas desa dan wilayah.

Biarkan pemerintah dan aparat keamanan menyeselesaikan masalah yang ada. Kepada warga masyarakat agar tidak boleh membuat di medsos hal-hal yang provokatif peruncing keadaan disana.

"Jika ada yang menulis bernada provokatif atau ujaran kebencian, saya minta Kapolres tangkap pihak-pihak yang dengan sengaja provokasi para pihak," kata Agus Boli.

Ia minta pihak kepolisian dan TNI agar mengirim pasukan lebih banyak dan siaga di Desa Sandosi dan sekitarnya sebelum korban di bawa masuk kampung karena situasi rusuh bisa saja terjadi saat itu.

"Kepada seluruh warga Lamaholot Flores Timur mari kita mendoakan agar masalah ini segera diselesaikan dan korban tidak lagi bertambah. Pemerintah juga menyampaikan turut berdukacita atas tragedi kematian saudara-saudara kita di Sandosi dalam konfik tanah ini. Semoga Tuhan menghapus dosa mereka dan menerima arwah mereka di sisi-Nya dan keluarga dikuatkan dalam kedamaian sejati.

--- Simon Leya

Komentar