Breaking News
  • Bos First Travel Andika Divonis 20 Tahun, Istrinya 18 Tahun
  • Dolar AS Melambung, Harga Premium dan Solar Tak Naik Tahun Ini
  • Hendropriyono: TNI/Polri Jangan Takut Tegakkan Hukum
  • JK: Eks Koruptor Dilarang Nyaleg Agar Wibawa DPR Baik
  • Jonan Targetkan Akuisisi Saham Freeport Rampung Juni

TEKNOLOGI Seskab: Orang Tua Perlu Dampingi Anak di Era Digital 24 Jul 2018 05:18

Article image
Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung. (Foto: Ist)
Walaupun era digital tidak bisa dihindari, Seskab mengingatkan bahwa pentingnya bersosialisasi dengan kawannya, bermain, dan juga anak-anak yang tumbuh dan berkembang tidak hanya sekadar pelajarannya saja yang saat ini dinilai terlalu berlebihan.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Era digital tidak bisa dihindari, dan karenanya anak-anak juga harus dikenalkan dengan dunia tersebut. Di sini, orang tua untuk terus mendampingi anak-anak yang dalam masa pertumbuhan agar terhindar dari informasi-informasi yang bersifat hoax (bohong).

Demikian pendapat Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung dalam wawancara menyambut Hari Anak Nasional Indonesia (HANI) 2018 yang jatuh pada Senin, (23/7/2018)  di ruang kerjanya, Jakarta, akhir pekan lalu.

“Harus ada pengawasan dari orang tua, karena begitu menyebarnya informasi di dalam era digital ini maka yang namanya hoax, ketidaksiapan kita untuk menerima informasi seringkali itu juga menjadi persoalan,” kata Seskab Pramono Anung sebagaimana dilansir setkab.go.id.

Seskab menunjuk contoh, sekarang ini banyak anak-anak karena lebih banyak menghabiskan waktunya dengan gadget-nya sehingga dia tidak bersosialisasi dengan temannya. Menurut Seskab, ini juga menjadi hal yang harus dipikirkan.

Walaupun era digital tidak bisa dihindari, Seskab mengingatkan bahwa pentingnya bersosialisasi dengan kawannya, bermain,  dan juga anak-anak yang tumbuh dan berkembang tidak hanya sekadar pelajarannya saja yang saat ini dinilai terlalu berlebihan.

Untuk itulah, lanjut Seskab, Presiden telah memerintahkan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) untuk mengurangi beban (pelajaran, red) itu.

“(Sehingga, red) Anak-anak masih bisa bermain, main tradisional, anak-anak mengerti era digital, dan tidak kehilangan kebahagiaan, kesenangannya ketika kecil, karena ketika kecil itu anak-anak harus gembira, jangan sampai nggak gembira,” tegas Seskab seraya menambahkan, begitu anak-anak sudah menghadapai  masa dewasa, beban yang makin berat nantinya akan berbeda.

“Jadi sekali lagi teknologi itu dimanfaatkan, jangan kemudian teknologi menjadi beban,” sambung Seskab.

Tahu ‘Basic Need’

Mengenai pengalaman dalam mendampingi anak-anaknya sendiri, Seskab Pramono Anung mengemukakan, bahwa anaknya sudah tumbuh di era digital, era milenial, dan dirinya termasuk yang kemudian mencoba masuk di dalam pemikiran anak-anak.

“Ternyata memang orang tua harus tahu apa yang menjadi basic need dari anak-anak tersebut, sebab kalau tidak, cara berpikir anak dan orang tua ini karena perkembangan teknologi bisa sangat berbeda,” ungkap Seskab.

Maka untuk itu, Seskab mengaku  membiarkan kepada anak-anaknya untuk mengerti digital, tetapi memberikan rambu-rambu mana yang boleh, mana yang tidak boleh. Hal ini, lanjut Seskab, karena dalam era digital ini, sangat gampang dengan tangan, pencet-pencet saja sudah bisa lihat apa saja, yang mungkin belum waktunya dilihat oleh anak-anak kita.

Itulah, menurut Seskab, yang ia  sebut dengan memberikan rambu-rambu kepada anak-anak.

“Tetapi sekali lagi, orang tua harus memberikan kepercayaan kepada anak kita, tidak hanya melarang tetapi juga mengarahkan, mengawasi.  Bahkan dalam hal tertentu juga harus bisa memberikan solusi. Karena anak kita dengan diri kita itu sudah sangat berbeda,” tutur Seskab.

Tidak semua beruntung

Sebelumnya Seskab Pramono Anung mengemukakan, bahwa pemerintah dan negara sudah berusaha memberikan perlindungan terhadap anak-anak. Tetapi diakuinya, tentunya ini belum cukup karena bagaimanapun persoalan ekonomi bangsa, persoalan pendidikan dan juga dalam banyak hal masih selalu ada anak-anak yang tidak mendapatkan keberuntungan.

Anak-anak yang tidak mendapatkan keberuntungan inilah menurut Seska yang harus menjadi tugas negara untuk memberikan perlindungan kepada mereka, masa depan mereka, bagaimana mereka tumbuh kembang.

Salah satu hal yang menjadi perhatian pemerintah, lanjut Seskab, adalah misalnya dalam proses penanganan stunting. Ia menyebutkan, pemerintah betul-betul secara serius terkait hal ini, serbagaimana dilakukan  dengan Bank Dunia untuk mendorong langkah-langkah memperkecil anak-anak yang stunting.

“Bagaimanapun masa depan bangsa ini terletak pada mereka-mereka, pada anak-anak ini. Kalau mereka sehat, mereka berpendidikan,  mereka gizinya baik, mereka terlindungi oleh negara. Saya yakin bangsa kita adalah bangsa yang sangat menjanjikan untuk menjadi bangsa besar dunia,” ujar Seskab seraya menyampaikan keyakinan, jika  anak-anak ini dari sekarang dipersiapkan dengan lebih baik gizi, pendidikannya, kemudian juga cara pandang terhadap persoalan bangsanya, maka mereka akan menjadi lebih baik.

--- Redem Kono

Komentar