Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

POLITIK Setara Institute: Politisasi Agama Sebagai Cara Terburuk Meraih Kekuasaan 21 Feb 2018 00:12

Article image
Ketua Setara Institute, Hendardi (Foto: Ist)
"Secara aktual, seruan moral kebhinekaan ini juga ditujukan untuk mengingatkan semua pihak yang berkontes dalam Pilkada dan Pemilu 2019, untuk tidak menggunakan sentimen sara dalam berkampanye karena dampak dari itu adalah kohesi sosial kita akan terkoya

JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Ketua Setara Institute, Hendardi menilai berbagai kekerasan bernuansa agama yang belakangan terjadi disebabkan karena menguatnya politisasi agama untuk kepentingan kekuasaan. Menurutnya, wujud politisasi agama tersebut berupa intoleransi, persekusi, dan diskriminasi.

"Politisasi agama atau identitas adalah cara paling buruk untuk meraih kekuasaan. Berbagai kasus kekerasan bernuansa agama yang marak terjadi pada awal tahun ini di berbagai daerah, merupakan ancaman serius terhadap kebhinekaan. Ini sesuatu yang mengkhawatirkan," ujar Hendardi dalam konferensi pers di Hotel Atlet Century, Jakarta, Selasa (20/2/18).

Berangkat dari kekhawatiran tersebut, Setara Institute mengajak 186 tokoh masyarakat dari berbagai latar belakang sosial untuk menyerukan seruan moral dalam menjaga dan memperjuangkan nilai keberagaman.

Setara Institute mengemukakan beberapa kejadian bernuansa agama seperti kasus persekusi terhadap Biksu Mulyanto Nurhalim dan pengikutnya di Desa Caringin Kecamatan Legok Kabupaten Tangerang, penyerangan di Gereja St. Ludwina, Yogyakarta serta dua serangan terhadap tokoh tokoh NU dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah Cicalengka Bandung, KH. Umar Basri dan ulama sekaligus Pimpinan Pusat Persis, H. R. Prawoto.

"Berbagai serangan fisik terhadap tokoh-tokoh berbagai agama dan persekusi terhadap minoritas keagamaan dan banyak dimensi lain dari kekerasan yang terjadi, menunjukkan adanya ancaman serius terhadap kebhinekaan. Oleh sebab itu, diharapakan agar para politisi untuk tidak memakai isu SARA (suku, agama ras dan antar-golongan) dalam kontestasi Pilkada 2018 dan Pemilu 2019. Itu cara terburuk dalam demokrasi untuk meraih kekuasaan," imbuhnya.

Ia menegaskan bahwa sentimen SARA hanya menimbulkan perpecahan di tengah kehidupan masyarakat.

"Secara aktual, seruan moral kebhinekaan ini juga ditujukan untuk mengingatkan semua pihak yang berkontes dalam Pilkada dan Pemilu 2019, untuk tidak menggunakan sentimen sara dalam berkampanye karena dampak dari itu adalah kohesi sosial kita akan terkoyak-koyak," tandas Hendardi.

--- Guche Montero

Komentar