Breaking News

SOSOK Siapakah Mohsen Fakhrizadeh? 28 Nov 2020 12:07

Article image
Mohsen Fakhrizadeh, ilmuwan nuklir paling senior Iran. (Foto: Arise News)
Fakhrizadeh telah lama dibicarakan oleh sumber keamanan Barat sebagai orang yang sangat kuat dan penting dalam program nuklir Iran.

MOHSEN Fakhrizadeh, ilmuwan nuklir paling senior Iran, dibunuh di dekat Teheran pada hari Jumat (27/11/2020) waktu setempat. Iran berjanji untuk membalas pembunuhan terhadap

Fakhrizadeh adalah ilmuwan nuklir Iran paling terkenal dan perwira senior Korps Pengawal Revolusi Islam elit.

Fakhrizadeh telah lama dibicarakan oleh sumber keamanan Barat sebagai orang yang sangat kuat dan penting dalam program nuklir Iran.

Dilansir BBC, menurut dokumen rahasia yang diperoleh Israel pada 2018, Fakhrizadeh memimpin program pembuatan senjata nuklir.

Pada saat itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan dia mengidentifikasi Fakhrizedeh sebagai kepala ilmuwan dalam program tersebut, dan mendesak orang untuk "mengingat nama itu".

Pada 2015, New York Times membandingkannya dengan J Robert Oppenheimer, fisikawan yang mengarahkan Proyek Manhattan yang selama Perang Dunia Kedua menghasilkan senjata atom pertama.

Fakhrizadeh, seorang profesor fisika, dikatakan telah memimpin Proyek Amad, program terselubung yang didirikan pada tahun 1989 untuk meneliti potensi untuk membuat bom nuklir. Proyek itu ditutup pada tahun 2003, menurut IAEA, meskipun Netanyahu mengatakan dokumen yang diambil pada tahun 2018 menunjukkan Fakhrizadeh memimpin program yang diam-diam melanjutkan pekerjaan Proyek Amad.

IAEA telah lama ingin berbicara dengannya sebagai bagian dari penyelidikannya terhadap program nuklir Iran.

Kecurigaan bahwa Iran menggunakan program tersebut sebagai kedok untuk mengembangkan bom nuklir mendorong UE, AS dan PBB untuk menjatuhkan sanksi yang melumpuhkan pada tahun 2010.

Kesepakatan 2015 yang dicapai Iran dengan AS, Inggris, Prancis, China, Rusia, dan Jerman membatasi aktivitas nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi.

Sejak Presiden Donald Trump membatalkan kesepakatan itu, kesepakatan itu gagal. Awal bulan ini, IAEA mengatakan Iran memiliki lebih dari 12 kali jumlah uranium yang diperkaya daripada yang diizinkan berdasarkan kesepakatan.

Sementara itu, ketegangan antara AS dan Iran telah meningkat, memuncak pada Januari dengan pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani oleh Amerika, komandan pasukan Quds Pengawal Revolusi Iran.

--- Simon Leya

Komentar