Breaking News
  • Bos First Travel Andika Divonis 20 Tahun, Istrinya 18 Tahun
  • Dolar AS Melambung, Harga Premium dan Solar Tak Naik Tahun Ini
  • Hendropriyono: TNI/Polri Jangan Takut Tegakkan Hukum
  • JK: Eks Koruptor Dilarang Nyaleg Agar Wibawa DPR Baik
  • Jonan Targetkan Akuisisi Saham Freeport Rampung Juni

KEAMANAN Sidney Jones: Serangan Surabaya Indikasi Melemahnya Ekstrimis di Indonesia 23 May 2018 12:34

Article image
Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sidney Jones sedang berbicara. (Foto: Simon Leya)
Pada saat suatu kelompok mulai menurun pengaruhnya, mereka justru mencari taktik-taktik yang spektakuler untuk muncul di depan umum dan dapat perhatian umum.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co – Ketika banyak orang berspekulasi bahwa serangan bom bunuh diri di tiga gereja dan markas polisi di Surabaya sebagai kebangkitan kekuatan kaum radikalis dan ekstrimis Indonesia, justru Sidney Jones berpendapat sebaliknya. Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) asal Amerika Serikat (AS) tersebut mengatakan, apa yang terjadi di Surabaya, adalah indikasi melemahnya kekuatan kaum ekstrimis.

“Menurut saya bukan indikasi kekuatan ekstrimis. Justru seperti indikasi kelemahan,” kata Jones ketika berbicara pada diskusi public dan media bertajuk Menguak Fakta Aktual Radikalisme dan Terorisme di Indonesia, yang diselenggarakan SETARA Institute, di Jakarta, Selasa (22/5/2018). Turut menjadi pembicara, di antaranya Irjen Pol (Purn) Benny J Mamoto (Dosen UI/Sekolah Kajian Strategi Global), Ahmad Taufan Damanik (Ketua Komnas HAM), Retno Liystiarti (Komisioner KPAI), dan Bonar Tigor Naipospos (Wakil Ketua SETARA Institute).

“Karena kalau kita lihat pola aksi di beberapa daerah lain, justru pada saat suatu kelompok mulai menurun pengaruhnya, mereka justru mencari taktik-taktik yang spektakuler untuk muncul di depan umum dan dapat perhatian umum. Kadang-kadang juga, rekrutmen sudah mulai menurun karena sudah lama tidak aktif, justru pemimpin melakukan sesuatu yang spektakuler,” tambah Sideny.

Dikatakan Jones, kita harus melihat ekstrimisme sebagai sesuatu yang tidak punya kekuatan besar di Indonesia walaupun apa yang terjadi selama bulan Mei mungkin sesuatu yang agak menakutkan. Kita harus lihat apa yang terjadi di Suriah. Kalau kita lihat dari tahun 2014 waktu Khilafah diumumkan sampai sekitar 2016, tidak ada banyak aksi teror di Indonesia. Ada tapi tidak terlalu banyak. Kenapa? Karena semua energi diarahkan untuk berhijrah ke Suriah. Jadi lebih penting bergabung ke Timur Tengah daripada melakukan jihad di Asia.

Sekarang hampir tidak ada lagi yang mau berhijrah karena ISIS hampir tidak ada lagi di Timur Tengah. Walaupun belum ada banyak orang kembali dari Suriah, orang pro-ISIS yang ada di Indonesia tidak lagi mengarahkan energi untuk ke luar negeri tapi justru melakukan aksi-aksi di sini.

Dijelaskan Jones, kalau kita melihat kelompok pro-ISIS yang ada di Indonesia sekitar 2017, kita bisa melihat bahwa ada tiga kelompok besar: ada JAD dengan pemimpin ideologis Aman Abdurrahman. Tapi dulu di Suriah ada orang yang namanya Abu Janda. Sebetulnya jaringan di Suriah tidak begitu kuat. Di Indonesia jaringannya lebih besar dan lebih dahsyat daripada organisasi lain. Ada Bahrul Naim yang berbeda dari JAD. Dia punya jaringan sendiri seperti di Solo, ada HTI, jaringan yang sangat pribadi. Satu pertanyaan sekarang, yang tidak termasuk JAD, kelompok-kelompok kecil yang tidak ada pemimpinnya, mereka bebas bergabung dengan siapa saja. Terus ada kelompok Bachrumsyah, tokoh ISIS Indonesia yang paling penting pada tahun 2017, tapi tidak begitu banyak pengikutnya.

Sekarang ini keadaan jauh lebih kacau ketika Bakrul Naim meninggal bulan November 2017 walaupun tidak seratus persen konfirmasi. Bachrumsyah hingga bulan April di Suriah, tinggal Abu Wali tokoh yang paling penting dan tidak diketahui nasibnya sekarang tapi punya banyak kontak di Filipina.

Sekarang ini, JAD bukan satu-satu organisasi, masih ada banyak kelompok kecil. Ada satu kelompok di Solo namanya Khatibul Umam yang juga punya pengikut di Jambi.

“Jadi jangan melihat bahwa semua kelompok ISIS punya satu struktur di Indonesia. Ada banyak kelompok kecil dan itu menyulitkan tugas polisi dan BNPT. Dengan tertangkapnya satu kelompok tidak berarti kelompok lain ikut kena dampaknya.”

Yang menarik, kata Jones adalah kelompok yang ikut serangan Mapolda Riau. Karena mereka sebetulnya bukan dari kelompok JAD dan ada kemungkinan mereka ikut bermain setelah melihat apa yang terjadi di Surabaya.

“Sering terjadi di Indonesia ada semacam persaingan kalau satu kelompok melakukan suatu aksi ada yang lain melakukan suatu aksi yang lebih besar,” kata Jones.

Ada semacam jaringan antara Riau, Jambi dan Sumatera Selatan yang terdiri dari beberapa kelompok termasuk DI/NII. Yang menarik, hampir semua kelompok ini punya kontak di Suriah. Kalau kita lihat yang di Surabaya, Kholid Abubakar yang menjadi guru punya keluarga di Suriah dan juga sangat dekat dengan salah satu orang yang namanya ustad Gana, masih hidup, masih aktif di Suria yang bisa berkomunikasi dengan media ISIS sehingga ISIS dengan segera mengklaim bahwa mereka yang bertanggung jawah atas aksi di Surabaya, Riay dan sebagainya.

Dipaparkan Jones, ada asumsi salah yang harus kita koreksi adalah para mujahidin yang kembali dari Suriah. Mungkin yang lebih berbahaya adalah orang lokal yang tidak pernah injak kaki di Suriah tetapi masih punya harapan, masih punya ilusi bahwa Jamaah Islamiyah adalah yang terpenting. Kalau orang yang sudah bergabung di ISIS, mereka sudah menyaksikan kemunafikan dan korupsi di tubuh organisasi itu. Tapi yang belum pernah bergabung, mereka yang masih punya semangat.

Asumsi kedua, pamor ISIS menurun dengan kekelahan di Suriah dan Irak. Timor Tengah saat ini mungkin jadi tidak relevan lagi karena kelompok ISIS di Inonesia punya kehidupan sendiri di Indonesia tanpa referensi ke Timur Tengah.

Asumsi ketiga, bahwa orang asing yang menjadi target saat ini. Tapi justru gereja dan polisi yang menjadi target sejak dulu.

--- Simon Leya

Komentar