Breaking News

OPINI Sikap Anti-Kritik Persit Kodim 1603 Sikka; Sebuah Upaya Pembungkaman dan Pembodohan 23 Nov 2019 12:41

Article image
Oleh: Petrus Selestinus*
Peristiwa di mana warga (Abel) diperhadapkan hanya untuk meminta maaf melalui Polres Sikka tidak boleh lagi terjadi, karena ini bagian dari sikap membungkam haak kritik dari publik.

OPINI, IndonesiaSatu.co-- Pemberitaan sebuah media online lokal di Maumere, Kabupaten Sikka, tanggal 21 November 2019, dengan judul "Cemarkan Nama Baik Persit Kodim 1603 Sikka, Abel Akhirnya Minta Maaf", sunguh-sungguh sebuah pemberitaan yang sangat menggangu akal sehat setiap orang yang membaca judul dan isi berita di tersebut. 

Yang muncul dalam benak setiap pembaca adalah pertanyaan-pertanyaan 'apa gerangan' yang terjadi dengan seorang Abel Fernando, warga RT.008/RW.002, Desa Kajowair, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, sehingga harus meminta maaf kepada Persit Kartika Chandra Kirana (PKCK) Cabang XIV Kodim 1603 Sikka, yang bagi sebagian warga Sikka tidak paham apa itu makhluk yang bernama PKCK ini.

Sesuai dengan isi berita media online tersebut, bahwa Abel akhirnya menyampaikan permintaan maafnya atas unggahan status di group facebook Forum Peduli Rakyat Sikka yang berkonten bahwa: "organisasi Persit Kartika Chandra Kirana (PKCK) Cabang XIV Kodim 1603 Sikka tidak layak untuk mendapatkan juara pertama lomba kuliner berbahan lokal, yang diselenggara-kan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka.

Lantas, apakah hanya karena pernyataannya yang bersifat kritik sebagai bentuk partisipasi publik terhadap sebuah perlombaan yang juga milik publik Sikka, karena penyelenggaranya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka, lantas untuk apa PKCK harus merasa nama baiknya dicemarkan? Di manakah letak pencemarannya? Toh ini sebuah penilaian dari sebuah proses lomba yang legitimasinya terletak pada dukungan, reaksi dan penilaian publik.

Persit Kartika Chandra Kirana adalah organisasi para istri anggota TNI AD yang sudah berusia 76 tahun, usia yang tidak lagi muda, karena itu seharusnya PKCK semakin matang, berjiwa besar, tidak kerdil dan anti terhadap kritik. Sebagai sebuah organisasi yang sudah berumur 76 tahun yang didirikan dengan cita-cita yang sangat mulia yaitu untuk mengamalkan Pancasila, membina istri prajurit dan keluarganya di bidang mental, fisik, moril dan kesejahteraan sehingga dapat berpengaruh terhadap keberhasilan tugas prajurit, menciptakan rasa persaudaraan dan kekeluargaan, rasa persatuan dan kesatuan serta kesadaran nasional, maka sikap PKCK Sikka yang menolak dikritik, jelas berpotensi mematikan dan membungkam peran partisipasi publik dan ruang kebebasan berpendapat dalam bentuk kritik, yang tentu dibutuhkan oleh Pemerintah.

Ini adalah tindakan membungkam kritik dengan memperalat kekuasaan Kodim 1603 Sikka dan Polres Sikka sekedar mendapatkan permintaan maaf dari Abel Fernando, seorang warga Desa Kajowair yang layaknya mendapat penghargaan karena keberaniannya melakukan kritik.

Apa yang terjadi dengan PKCK di Sikka hari-hari ini, justru sesuatu yang berbanding terbalik bahkan semakin jauh dari cita-cita dasar pendiriannya, semakin jauh dari harapan pimpinan TNI AD, bahkan bisa mencoreng wajah Persit Kartika Chandra Kirana yang melekat dalam tubuh institusi TNI-AD, karena anti kritik, salah mengartikan kritik serta tidak mampu membaca kritik untuk kepentingan siapa.

Abel Fernando telah menggunakan media sosial secara tepat, memposting berita yang bersifaf kritik positif dan konstruktif bahwa PKCK Cabang XIV Kodim 1603 Sikka sebagai "tidak layak untuk mendapatkan juara pertama lomba kuliner berbahan lokal".

Sebagai warga Sikka, Abel Fernando juga memiliki hak untuk memberikan penilaian, apalagi yang dinilai adalah Keputusan Panitia Lomba Kuliner yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka, bukan Keputusan Panitia PKCK Sikka.

Jika pun gelar juara lomba dimaksud merupakan keputusan PKCK Sikka, quod non, maka Abel Fernando bahkan seluruh warga Sikka berhak memberikan komentar atau penilaian baik berupa pujian maupun kritik, termasuk kritik soal "ketidaklayakan" pemberian gelar juara dimaksud atau sampai menuntut pembatalan pemberian gelar juara dimaksud oleh Panitia Lomba entah siapa pun penyelenggaranya.

Tindakan Represif

Apa pun masalahnya, sebagai alat negara, jika ingin berinteraksi dengan warga, maka tidak pada tempatnya anggota Babinsa diperintahkan menjemput warga pada malam hari di luar jam kerja tanpa alasan yang jelas. Tindakan demikian dapat dikualifikasi sebagai penculikan dan/atau pengekangan kemerdekaan, karena memaksa orang untuk meninggalkan rumahnya pada malam hari oleh aparat yang tidak berwenang, tanpa alasan yang jelas apalagi dibawa ke kantor Kodim, yang bagi sebagian masyarakat awam Sikka sungguh menyeramkan. Oleh karena itu, peristiwa di mana Abel Fernando diperhadapkan hanya untuk meminta maaf melalui Polres Sikka tidak boleh lagi terjadi, karena ini bagian dari sikap membungkam kritik dari publik.

* Penulis adalah Koordinator TPDI dan Advokat PERADI, salah satu tokoh Sikka di Jakarta.

Komentar