Breaking News

REGIONAL Sikapi Persoalan Migran-Perantau, Gubernur NTT Ajak Gereja Berkolaborasi 25 Jul 2019 02:49

Article image
Gubernur NTT, Viktor B. Laiskodat saat hadir sebagai pemateri dalam pertemuan pastoral ke-11 regio Nusra-Bali di Atambua, NTT. (Foto: Biro Human Pemprov NTT)
"Pemerintah sepakat dengan niat pihak Gereja untuk terlibat dalam pemberdayaan ekonomi dan upaya peningkatan pendidikan masyarakat desa," kata Viktor.

ATAMBUA, IndonesiaSatu.co -- Delapan keuskupan wilayah Nusa Tenggara (Nusra) dan Bali, Rabu (23/7/2019), menggelar pertemuan pastoral ke-11 bertempat di Hotel Matahari, Atambua, Kabupaten Belu, Nusa  Tenggara Timur (NTT).

Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat hadir sebagai pembicara pada pertemuan yang mengusung tema 'Gereja Peduli Migran dan Perantau' dan berlangsung hingga 27 Juli nanti.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Viktor mengajak pihak Gereja untuk terlibat dalam menyelesaikan persoalan Pekerja Migran Indonesia (PMI) khususnya yang berasal dari NTT. Sebagai langkah konkrit, Gubernur Viktor meminta setiap keuskupan untuk mengutus imam terbaiknya, terlibat bekerja bersama tim percepatan.

“Saya minta masing-masing keuskupan memberikan nama dengan spesifikasi keahlian masing-masing. Kita bisa sama-sama terlibat sejak kegiatan perencanaan, penganggaran, dan pelaksanaan program,” ajak Viktor sesuai siaran Pers Biro Humas dan Protokol NTT.

Gubernur Viktor, dalam presentase materinya berjudul 'Kebijakan Pemerintah NTT tentang Migran-Perantau' menyebutkan, kemiskinan sebagai salah satu faktor pendorong (push factor) persoalan tenaga kerja asal NTT. Pada sisi lain, cerita sukses segelintir orang menjadi faktor penarik (pull factor) minat orang untuk bekerja di luar negeri.

"Pemerintah sepakat dengan niat pihak Gereja untuk terlibat dalam pemberdayaan ekonomi dan upaya peningkatan pendidikan masyarakat desa," ungkapnya.

Secara umum, Gubernur menjelaskan berbagai potensi NTT dengan prospeknya. Ia meyakini, jika komponen masyarakat sipil, pengusaha dan pemerintah bekerja serius, semuanya bisa segera dicapai.

Selain Gubernur NTT, hadir sebagai pemateri yakni Pater Hubert Thomas Hasulie, SVD dengan materi 'Kajian tentang Situasi Migran Perantau di NTT.' Bersama timnya dari Pusat Penelitian Candraditya Maumere, Pater Hubert memaparkan berbagai fakta temuan.

Selain itu, RD. Dr. Martin Chen berkesempatan membawakan refleksinya dari aspek teologi biblis. Sementara pada akhir kegiatan nanti, disepakati  untuk membuat rumusan rekomendasi pastoral seputar migran dan perantau.

Sebanyak 167 orang peserta hadir dalam kegiatan tiga tahunan itu. Mereka berasal dari delapan keuskupan regional Nusra, para direktur dan sekretaris pastoral, utusan keuskupan, pendamping ahli, pengamat serta panitia.

Hadir pula dalam kegiatan tersebut para Uskup yakni Mgr.Vincentius Sensi Potokota (Uskup Keuskupan Agung Ende), Mgr. Silvester San (Uskup Keuskupan Denpasar sekaligus Administrator Keuskupan Ruteng), Mgr. Frans Kopong Kung (Uskup Keuskupan Larantuka), Mgr. Edwaldus Martinus Sedu (Uskup Keuskupan Maumere), Mgr. Petrus Turang (Uskup Keuskupan Agung Kupang), Mgr. Edmund Woga (Uskup Keuskupan Weetebula), dan Mgr. Dominikus Saku (Uskup Keuskupan Atambua).

Turut hadir juga Kepala Dinas Koperasi dan Nakertrans NTT, Sisilia Sona bersama para undangan lain.

Dalam rangka memeriahkan kegiatan pertemuan pastoral itu, panitia dan pihak penyelenggara juga menyelenggarakan pameran ekonomi kreatif yang berpusat di sekitar lapangan Emaus, Seminari Santa Imaculata Lalian. Terdapat 46 stand pameran dari perwakilan paroki-paroki yang ada dalam empat wilayah Dekenat Keuskupan Atambua.

--- Guche Montero

Komentar