Breaking News
  • 12 parpol lama lolos verifikasi faktual
  • 150 ton bahan narkoba asal China gagal masuk ke Indonesia
  • Eropa murka, siap jawab tantangan perang dagang Donald Trump
  • KM Pinang Jaya tenggelam di Laut Jawa akibat cuaca buruk
  • Presiden Jokowi masih pertimbangan Plt Gubernur dari Polri

NASIONAL Silatnas II, Jokowi Tekankan Dua Kunci Hadapi Tantangan ke Depan 12 Aug 2017 10:18

Article image
Suasana acara Silaturahmi Nasional (Silatnas) II Pendukung Setia Jokowi 2017, Jumat (11/8/2017) di Hall A2/3 JIEXPO Kemayoran, Jakarta Pusat. (Foto: Simon Leya)
Menurut Jokowi, kepercayaan adalah modal sosial yang sangat penting. Karena kalau kita sudah dipercaya, dan kemudian kita mengingkari, kepercayaan itu hilang, maka akan sangat sulit untuk mengembalikkan kepercayaan itu.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) menekankan dua kunci yang harus dimiliki bangsa Indonesia untuk menghadapi tantangan masa depan. Dua kunci dimaksud yakni saling percaya dan saling bekerja sama.

“Pertama, saling percaya. Yang kedua, saling bekerja sama. Dua hal ini yang sangat penting,” kata Jokowi di hadapan ribuan peserta Silaturahmi Nasional (Silatnas) II Pendukung Setia Jokowi 2017, Jumat (11/8/2017) di Hall A2/3 JIEXPO Kemayoran, Jakarta Pusat.

Menurut Jokowi, kepercayaan adalah modal sosial yang sangat penting. Karena kalau kita sudah dipercaya, dan kemudian kita mengingkari, kepercayaan itu hilang, maka akan sangat sulit untuk mengembalikkan kepercayaan itu.

Sehubungan dengan aspek saling percaya, Jokowi berkali-kali menekankan kepada para peserta yang adalah para Relawan Jokowi untuk ikut mengawasi program-program pemerintah yang sudah berjalan, seperti Kartu Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Sehat, dan Kartu Keluarga Sejahtera.

“Tolong diawasi, tolong dikontrol agar digunakan tepat sasaran sesuai yang kita inginkan,” tegas Jokowi.

Jokowi juga menyinggung soal dana desa yang sudah digelontorkan ke seluruh Indonesia dalam jumlah yang tidak sedikit.

“Tapi kita hati-hati. Saya ingatkan kita semuanya, yang namanya dana desa, saya harap kita semua ikut mengawasi,” ujar Jokowi.

Dijelaskan Jokowi, jumlah dana yang sudah digelontorkan ke desa-desa selama tiga tahun terakhir sangat besar, sekitar Rp 127 triliun. Adapun rinciannya, pada tahun 2016 sebesar Rp 20 triliun, sebesar Rp 47 triliun tahun 2016, dan pada tahun 2017 sebesar  60 triliun.

Jokowi mengahrapkan dana tersebut digunakan secara tepat untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di daerah.

“Kita semua ikut mengawasi agar uang ini tidak dikorupsi. Jangan sampai ini diselewengkan oleh aparat-aparat pemerintah,” jelas Jokowi.

Jokowi menekankan aspek kepercayaan sebagai modal sosial yang sangat penting.

“Kita pada rangking pertama di mana rakyat percaya pada pemerintahnya,” ungkap Jokowi.

Survei Gallup World Poll

Pada kesempatan tersebut, Jokowi kembali mengutip hasil survei Gallup World Poll (GWP) yang menempatkan Indonesia pada posisi pertama dalam hal tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Indonesia bahkan mengalahkan negara-negara seperti Swiss dan Norwegia yang selama ini selalu berada pada peringkat teratas.

Survei Gallup menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat Indonesia kepada pemerintah semakin tinggi.  

Ketika melaporkan hasil survei ini kepada Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, Indonesia menduduki ranking pertama dalam hal 'trust and confidence in national government' berdasarkan data Gallup.

Sri mengatakan, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dipengaruhi beberapa faktor, di antaranya, masyarakat menganggap pemerintah dapat diandalkan, cepat, tanggap, adil serta mampu melindungi masyarakat dari risiko sekaligus memberikan pelayanan publik secara efektif.

Hasilnya, 80 persen responden menyatakan, pemerintah memenuhi hal itu seluruhnya.

Angka 80 persen ini meningkat 28 persen dibandingkan angka tingkat kepercayaan 10 tahun lalu, yakni 2007 yang hanya mencapai 52 persen.

Angka tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah itu cukup tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara maju yang tergabung dalam Organization for Economic Co-operation and Development (OECD), seperti Amerika Serikat (30 persen), Inggris (31 persen), Jerman (55 persen), dan Perancis (28 persen).

Tidak hanya negara yang tergabung dalam OECD, negara yang tak tergabung di dalamnya juga masih di bawah Indonesia, yakni India (73 persen), Brazil (26 persen), dan Afrika Selatan (48 persen).

"Kepercayaan terhadap pemerintah ini adalah pendorong efektivitas pemerintah dan pembangunan ekonomi, serta merupakan ukuran dari hasil kebijakan pemerintah," ujar Sri.

"Kepercayaan terhadap pemerintah juga berhubungan kuat dengan dukungan masyarakat terhadap kepemimpinan negara mereka. Saat pemerintah dipandang memiliki integritas moral yang tinggi lebih banyak masyarakat percaya ke pemerintah," lanjut dia.

--- Simon Leya

Komentar