Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

POLITIK SMRC: Tiga Kali Pilpres, Capres dengan Tren Selalu Unggul Sulit Dikalahkan 08 Oct 2018 05:58

Article image
Petahana Jokowi dan ketua umum Gerindra Prabowo Subianto. (Foto: Ist)
Sebanyak 60,2 persen responden memilih Jokowi, sedangkan 28 persen memilih Prabowo dan responden tidak tahu atau tidak menjawab sebanyak 11,1 persen.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Calon presiden yang memiliki tren selalu unggul akan sulit dikalahkan pada hari pemilihan. Hal tersebut berdasarkan pengalaman penyelenggaraan pemilihan presiden (pilpres) pada 2004, 2009, dan 2014.

Hal ini disampaikan Direktur Eksekutif SMRC Djayadi Hanan dalam pemaparan hasil survei bertajuk Tren Elektabilitas Capres: Pengalaman Menjelang Hari H (2004-2019), di Jakarta, Minggu (7/10/2018"Dari pengalaman tiga kali Pilpres, calon yang trennya unggul terus sulit dikalahkan pada hari H," kata Djayadi.

Dia mencontohkan hal tersebut dialami Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono yang kembali dipilih pada Pilpres 2009. Kala itu, tren elektabilitasnya selalu unggul sejak jauh hari.

Sebaliknya, Djayadi mengatakan pejawat bisa kalah jika trennya selalu kalah sejak awal. Sebagai perbandingan, kata dia, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri sebagai pejawat kalah pada Pilpres 2004 karena trennya sudah kalah dalam beberapa bulan menjelang hari pemilihan. 

Sementara itu untuk Presiden Jokowi selaku pejawat dalam Pilpres 2019, dia menilai trennya selalu menguat dibandingkan capres Prabowo Subianto. Dalam survei SMRC yang dilakukan 7-14 September 2018 terhadap 1.220 responden, dalam simulasi dua nama capres yakni Jokowi dan Prabowo, sebanyak 60,2 persen responden memilih Jokowi sedangkan 28 persen memilih Prabowo dan responden tidak tahu atau tidak menjawab sebanyak 11,1 persen. 

Ketika disodorkan dua pasangan nama capres-cawapres (Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandiaga), Jokowi tetap unggul dengan elektabilitas 60,4 persen mengalahkan Prabowo yang memperoleh 29,8 persen.  Djayadi mengatakan Jokowi sejatinya pernah mengalami penurunan elektabilitas pascaperistiwa kerusuhan di Mako Brimob, dan bom di Surabaya Mei 2018 silam

Ia mengatakan penurunan karena ada kecemasan publik atas kondisi keamanan. Namun kecemasan itu bisa cepat diatasi. Menurut Djayadi, Jokowi bisa mengalami penurunan elektabilitas saat ini jika ekonomi dan masalah keamanan mengalami gejolak.

--- Redem Kono

Komentar