Breaking News
  • Arus kendaraan Gerbang Tol Palimanan berkurang 29 persen
  • Ledakan truk minyak di Pakistan tewaskan ratusan orang
  • Nurul Arifin siap maju di pemilihan wali kota Bandung
  • Presiden Jokowi terima GNPF-MUI di Istana Merdeka
  • Wapres dampingi Presiden Jokowi open house di Istana

REFLEKSI Soal Motivasi dan Berpikir Positif: Realistiskah? 14 Mar 2017 10:03

Article image
Cakrawala kehidupan tetap menyingkap pilihan bagi Anda untuk bahagia. (Foto: Smart Circle)
Berpikir positif tetap patut dianjurkan, dan itu bukan saja realistis tetapi justru membantu kita menghadirkan aura positif bagi terciptanya realitas positif.

Oleh Valens Daki-Soo

 

BANYAK hal dalam hidup ini ditentukan oleh pilihan kita sendiri. Mulai dari hal sepele seperti bagaimana cara makan sampai hal lebih serius, misalnya soal ideologi, politik, jodoh dan pekerjaan. Bahkan juga soal ini: Anda mau percaya Tuhan atau tidak. Jika percaya, dengan cara/jalan mana yang Anda pilih untuk menghayati, mengekspresikan dan membuat kepercayaan atau iman kepada Tuhan itu berdampak maslahat bagi Anda dan semesta.

Jika tidak percaya, itu pun hak Anda, meskipun di Indonesia negara 'mewajibkan' semua warganya untuk menganut salah satu agama atau keyakinan spiritual. De facto, di belahan dunia lain seperti Eropa dan AS konon makin banyak pemeluk "ateisme praktis". Ya, sudahlah, itu urusan mereka.

Kembali ke soal berpikir positif dan kaitannya dengan urusan "motivasi". Waktu seorang motivator terkenal dirundung masalah dan gencar di-'bully' di medsos, seorang kerabat berkomentar, "Untuk apa lagi kita percaya motivator kalau begini? Ngapain kita capek-capek nulis motivasi kalau motivator super top saja bisa tersandung, lalu kita ini siapa? Masih ada gunakah tulisan-tulisan motivasional-inspiratif?"

Saya berbagi jawaban ini: setiap orang berpotensi jatuh dalam kesalahan, kegagalan, kehancuran. Oleh karena itu, tidak realistis jika Anda mengharapkan orang tua, pastor, kyai, pendeta, bintang sepakbola, jago kungfu, wartawan hebat, dosen keren -- ya, siapapun termasuk motivator -- tak boleh salah dan gagal. Sekali lagi, siapapun bisa jatuh. Disebut hebat, jika dia jatuh lalu melenting lebih tinggi dan jauh ke depan!

Kedua, sampai kapanpun dunia butuh manusia-manusia tangguh yang kisah hidup ataupun sekadar catatan tentang jejak hidupnya bernilai inspiratif sebagai pelajaran bagi yang lain.

Ilustrasinya bisa seperti ini. Anda mau jadi pendaki gunung yang jagoan? Anda bisa saja langsung bergerak, merangsek naik dengan segala cara yang Anda bisa lakukan. Namun, jika bijak, Anda akan menelisik kisah-kisah pendakian gunung oleh para 'penakluk' sebelumnya, lalu memetik saripati pengalaman mereka sebagai referensi atau bekal informasi.

Kalau Anda Katolik, sampai kapanpun Anda akan tetap mau mendengarkan kotbah pastor di gereja, meski mungkin Anda tahu hidup sang pastor tidak sesuci kata-katanya. Toh, dia bukan berkotbah tentang dirinya sendiri melainkan mewartakan apa yang Anda imani sebagai firman Tuhan serta merefleksikannya dalam kotbah sesuai kemampuan, pengalaman dan pengetahuannya.

Jika misalnya Anda keberatan dengan gaya hidup sang motivator atau siapapun yang tidak sesuai dengan ucapan bijaknya, Anda tetap bisa menarik manfaat dari kata-katanya. Memang, alangkah lebih indah dan kharismatisnya, jika siapapun bicara atau menulis sesuai dengan apa yang diperbuatnya dalam praksis hidup.

Namun, kita tetap perlu beri ruang bagi siapapun untuk menjadi manusia dalam arti sejati: bahwa tak ada orang yang sempurna, dan oleh karenanya kita mafhum jika dia berbuat kesalahan.

Kalau hanya orang yang tak pernah salah atau relatif sempurna boleh berbicara dan menulis seratus persen sesuai dengan hidupnya, Bumi ini akan sunyi-senyap. Mengapa? Karena tidak ada satupun manusia yang layak untuk itu.

Tak ada satu orang pun yang pantas berbicara jika dituntut harus selalu selaras antara ucapan dan perbuatan. Mungkin hanya para nabikah? Namun mereka tiada lagi secara fisik di dunia ini. Malaikat tentu bukan 'orang'.

Memang, kita harus berjuang menjadi manusia integral, pribadi utuh yang selalu memancarkan kekuatan karakter, konsistensi dan kongruensi: selaras antara kata dan tindakan. Itulah integritas.

Kendati demikian, sebagai manusia rapuh di dunia yang juga tak sempurna, kita tetap bisa menerima kenyataan bahwa tiada yang sempurna selain Tuhan. 

Secara pribadi saya tetap mengambil pilihan untuk tetap berpikir positif meski pengalaman hidup tak selalu "positif" dalam arti serba menyenangkan. Tak ada yang bisa menghapus pengalaman sakit, luka, derita dan semacam itu dari kehidupan ini. Sekuat-kuatnya Anda berdoa tiap saat, sebesar-besarnya niat Anda untuk selalu berbuat baik, itu tak berarti Anda lepas bebas dari pengalaman terluka, sedih, marah, resah bahkan sesekali mungkin ingin melabrak orang atau preman di jalanan.

Melampaui semua itu, cakrawala kehidupan tetap menyingkap pilihan bagi Anda untuk bahagia. Itulah alasan bagi saya untuk selalu bersyukur dan membagikan rasa syukur itu melalui tulisan reflektif sederhana di dunia maya ini.

Bayangkan, betapa rawan dan riskannya jika setiap hari kita menulis status "siap perang" atau mengajak berkelahi.

Berpikir positif tetap patut dianjurkan, dan itu bukan saja realistis tetapi justru membantu kita menghadirkan aura positif bagi terciptanya realitas positif.

Saya bukanlah motivator profesional. Bukan orang yang hidup dengan menjual kata-kata motivasional. Saya hanya senang, gembira dan bahagia jika bisa menularkan energi positif.

Ya, setidaknya kita bisa memberi manfaat, bukan mudarat bagi sesama, meski 'cuma' lewat kata.

 

Penulis adalah penikmat psikologi, pemerhati politik dan militer, Chairman PT VDS, Pendiri dan Pemred IndonesiaSatu.co

Komentar