Breaking News

AGAMA Soal Puisi Neno Warisman, Buya Syafii: Ini Puisi Biadab 01 Mar 2019 13:40

Article image
Mantan Ketum PP Muhammadiyah, Buya Syafii Maarif. (Foto: Geotimes)
Menurut Buya Syafii, doa yang dipanjatkan Neno Warisman dengan membawa nama tuhan ke ranah Pemilu sebagai perbuatan biadab.

YOGYAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Puisi Neno Warisman yang dibacakan pada acara Munajat 212 di Silang Monas masih menuai kritik dari kalangan pemuka agama Islam. Salah satu pemuka agama yang bersuara keras yakni mantan Ketum PP Muhammadiyah, Buya Syafii Maarif.

Buya Syafii berpendapat apa yang disampaikan Neno biadab dan memperlihatkan bahwa dia tak mengerti agama. Buya Syafii mengatakan ini usai menghadiri bedah buku karyanya berjudul Krisis Arab dan Masa Depan Dunia Islam di Gedung Pascasarjana UMY, Jumat (1/3/2019).

"Itu puisi, itukan sudah saya (jelaskan). Saya kemarin di Jakarta bicara ini puisi biadab. Biadab itu bahasa Persia, Bi itu artinya tidak, adab itu tata krama," jelasnya.

Menurut Buya Syafii, doa yang dipanjatkan Neno Warisman dengan membawa nama tuhan ke ranah Pemilu sebagai perbuatan biadab.

"Ini dia membuat (membawa nama) Tuhan dalam Pemilu, itukan biadab, dan dia nggak ngerti agama. Neno itu nggak paham agama," tegasnya.

Dikatakan Buya Syafii, pemahaman seseorang tentang agama tidak bisa hanya diukur dengan jilbab.

"Hanya pakai jilbab itu sebagai simbol (beragama), bukan jaminan dia mengerti agama," tuturnya.

Dijelaskan Buya Syafii, penggalan doa yang dibacakan Neno lahir pada konteks Perang Badar yang berbeda dari konteks Pemilu.

"Iya, betul. Itu doa Perang Badar. Itukan tentara Islam hanya 300, tentara Quraisy ada 1.000, itu kan... dan menang yang minoritas itu karena kualitasnya," jelasnya.

"Di samping itu Nabi (Muhammad) berdoa waktu itu ya. Kalau nanti kami kalah ya Allah, maka mungkin tidak ada lagi orang yang menyembahmu," sambungnya.

--- Simon Leya

Komentar