Breaking News

BERITA Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, Angelo Wake Kako: Yang Penting Implementasi Konkrit 14 Feb 2020 10:39

Article image
Anggota DPD RI, Camat Paga, Polsek dan Danramil Paga (depan) saat kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Kantor Camat Paga, Kabupaten Sikka. (Foto: Che)
"Kita di Flores, NTT mesti bersyukur karena kita menjadi penyumbang ideologi negara ini yakni Pancasila. Pancasila digali dari nilai-nilai yang ada dalam kehidupan kita yaitu gotong royong," kata Angelo.

MAUMERE, IndonesiaSatu.co-- Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Nusa Tenggara Timur (NTT), Angelius Wake Kako, Rabu (12/2/20) menggelar sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di depan puluhan tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, perangkat desa, pemuda dan tokoh pendidikan serta pihak keamanan dari Polsek dan Danramil Paga, yang berlangsung di Aula Kantor Camat Paga, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka.

Camat Paga, Mauritius Minggo saat membuka kegiatan sosialisasi mengatakan bahwa Empat Pilar Kebangsaan merupakan konsep penyangga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang begitu beragam dan kompleks.

"Dengan kondisi yang luar biasa ini, maka para pendiri bangsa telah menyanggah bangsa ini dengan empat pilar kebangsaan yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika," kata Camat Mauritius.

Camat berharap agar kegiatan sosialisasi oleh Anggota DPD tersebut harus dicerna secara baik mengikuti dengan baik agar nilai-nilai kebangsaan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

"Kita patut bersyukur dan memberikan apresiasi, karena kegiatan resmi dari Pusat dapat berlangsung di sini untuk wilayah kabupaten Sikka. Diharapkan agar nilai-nilai dari empat pilar kebangsaan ini tetap kokoh menyanggah bangsa dan terutama menjadi cerminan hidup kita sehari-hari," harap Mauritius.

Sosialisasi: Membangun Pemahaman

Anggota DPD RI, Angelius Wake Kako mengatakan bahwa negara (pemerintah, red) memandang bahwa keberadaan empat pilar kebangsaan ini penting untuk disosialisasikan kepada masyarakat melalui lembaga Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

"Pada kesempatan ini, sebagai Anggota DPD RI, melekat juga sebagai Anggota MPR RI. Sebab, konsentrasi empat pilar menjadi kewenangan MPR RI," kata Angelo.

Angelo menerangkan bahwa dalam perjalanan sejarah bangsa, terjadi kekosongan terkait diskursus dasar bernegara, sehingga negara memandang penting dan memberikan kewenangan kepada MPR untuk memulainya.

"Bahkan, saat ini bukan hanya di MPR tetapi juga di eksekutif dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP)," katanya.

Setelah rezim Soeharto berakhir, lanjut dia, semuanya lepas. Orang melihat di zaman Presiden Soeharto hanya indoktrinasi atau hafalan terhadap pancasila dan UUD 1945. Artinya, hanya menghafal, padahal jauh lebih penting adalah implementasi.

Kondisi Ketidakstabilan

Angelo juga menyinggung bahwa persoalan lain yakni kondisi negara saat ini yang begitu tidak stabil.

"Terjadi pergolakan yang berkaitan dengan ideologi. Ketika zaman berubah, hari ini kita disusupi oleh ideologi-ideologi yang berasal dari luar. Ideologi yang cenderung memisahkan. Selama ini sudah bersatu. Tetapi ada orang dengan kepentingan tertentu ingin mengganggu keberadaan negara ini dengan ideologi-ideologi baru yang menyesatkan disertai berbagai gerakan ekstrim dan radikal. Berhadapan dengan kondisi ini, salah satu upaya yang bisa negara lakukan yakni dengan sosialisasi empat pilar kebangsaan," ungkapnya.

Master ilmu ketahanan nasional Universitas Indonesia (UI) ini mengaku dengan membangun pemahaman dan kesadaran bersama tentang nilai-nilai luhir bangsa dari empat pilat ini, masyarakat dapat menata kembali nilai-nilai luhur yang selama ini sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

"Kita di Flores, NTT mesti bersyukur karena kita menjadi penyumbang ideologi negara ini yakni Pancasila. Pancasila digali dari nilai-nilai yang ada dalam kehidupan kita yaitu gotong royong. Coba kita refleksikan sejenak, apakah gotong-royong itu masih kuat hari ini. Saya yakin ini sudah mulai luntur. Padahal, gotong-royong adalah modal sosial yang sangat besar yang semestinya harus dihidupkan kembali oleh semua kita terutama di kampung-kampung," singgungnya.

Senator Angelo menggambarkan bahwa arus besar di Senayan saat ini akan mengarah kepada amandemen UUD 1945. Hampir setiap partai pun menyetujui, dan lembaga DPD pun setuju untuk ikut mendorong.

"Tahun 2020 ini sudah mulai diwacanakan, namun dengan satu hal: kita sudah kunci bahwa tidak boleh mengganggu yang namanya pembukaan UUD 1945. Boleh amandemen batang tubuhnya, sementara Pembukaan yang berkaitan dengan dasar negara Pancasila, itu sudah final, tidak boleh diutak-atik lagi," tandasnya.

Disaksikan media ini, para peserta sosialisasi tampak antusias mencerna setiap materi yang disampaikan hingga terlibat aktif dalam dialog yang dibagi dalam empat termin, masing-masing untuk lima orang penanya.

Sesi dialog berlangsung selama hampir dua jam dan ditutup dengan kata kesimpulan oleh Camat Paga dan Senator Angelo.

Di sela-sela acara sosialisasi, tokoh muda kecamatan Paga sekaligus koordinator kecamatan Relawan AWK Paga, Tedjo Banda Seko mengapreasiasi kehadiran Anggota MPR RI yang hari ini mensosialisasikan empat pilar kebangsaan.

"Sebagai orang muda, kami senang dan bangga karena hari ini kami mendapat pemahaman dan penguatan terkait empat pilar kebangsaan. Terutama, kami bangga karena kecamatan Paga dijadikan tempat sosialisasi di kabupaten Sikka. Ini energi baru dari tokoh muda melalui figur Angelo yang kembali hadir untuk menggali nilai-nilai praktis bersama masyarakat di kampung," kesan Tedjo.

--- Guche Montero

Komentar