Breaking News
  • Bos First Travel Andika Divonis 20 Tahun, Istrinya 18 Tahun
  • Dolar AS Melambung, Harga Premium dan Solar Tak Naik Tahun Ini
  • Hendropriyono: TNI/Polri Jangan Takut Tegakkan Hukum
  • JK: Eks Koruptor Dilarang Nyaleg Agar Wibawa DPR Baik
  • Jonan Targetkan Akuisisi Saham Freeport Rampung Juni

KEAMANAN Sosiolog UI: Waspadai Pergerakan Islamic State of Indonesia and Philipines (ISIP) 05 Jun 2017 06:02

Article image
Sosiolog Universitas Indonesia Thamrin Amal Tomagola. (Foto: Ist)
Islamic State of Indonesia and Philipines (ISIP) atau Negara Islam Indonesia-Filipina tidak berbeda jauh dengan Islamic State of Iraq and Syriah (ISIS) yang kini telah terdesak di Timur Tengah.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Sosiolog Universitas Indonesia Thamrin Amal Tomagola menilai Indonesia harus mewaspadai pergerakan Islamic State of Indonesia and Philipines (ISIP) atau Negara Islam Indonesia-Filipina. ISIP di mata Thamrin tidak berbeda jauh dengan Islamic State of Iraq and Syriah (ISIS) yang kini telah terdesak di Timur Tengah.

Hal ini disampaikan Thamrin saat diskusi di kantor Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Jalan Cisadane 8, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (4/6/2017).

“Sekarang yang lebih mengkhawatirkan namanya bukan ISIS, tapi ISIP, Islamic State of Indonesia and Philipines. Itu yang memicu adanya konflik militer. Karena mereka sudah kalah di Timur Tengah, maka mereka menyebar ke berbagai belahan dunia," urai Thamrin.

Menurut Thamrin, kedatangan teroris yang sebelumnya bergabung dengan ISIS ke kawasan Mindanao, Filipina didasarkan pada anggapan  bahwa tempat itu menjadi kawasan strategis di kawasan Asia Tenggara.

"Mereka menganggap tempat yang paling bagus ada di Mindanao. Titik temu Indonesia, Filipina dan Malaysia," tambahnya.

Thamrin berpendapat bahwa untuk menghadapi ISIS, pemerintah harus memeranginya dengan angkatan bersenjata.

"Negara dengan kekuatan senjata.  ISIS ini menjadi ISIP di Asia Tenggara. Ancaman itu telah merongrong tiga hal, yang utama dia merongrong NKRI, dan merongrong keanekaragaman, kemajemukan," imbuhnya.

Thamrin menuturkan, ISIS atau ISIP digerakkan oleh kelompok menengah atas. Namun, setiap aksi terornya seperti bom bunuh diri mereka memanfaatkan 'pengantin bom' warga menengah ke bawah. Mereka rela menjadi korban bunuh diri karena faktor ekonomi, sehingga mudah dipengaruhi oleh kelompok tersebut.

"Contohnya pelaku bom Kampung Melayu dan Bandung dari keluarga miskin," pungkasnya.

--- Redem Kono

Komentar