Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

INTERNASIONAL Spanyol Putuskan Kirim Senjata ke Arab Saudi 14 Sep 2018 14:13

Article image
Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (kiri) dan Menteri Pertahanan Spanyol Maria Dolores Cospedal dalam acara penandatanganan perjanjian bilateral disaksikan PM Spanyol Mariano Rajoy (kanan) di Istana Moncloa, Madrid, 12 April 2018. (Fot
Organisasi Pengawasan Senjata (OPW) mendesak otoritas Spanyol untuk mempertimbangkan kembali keputusannya agar tidak memperburuk konflik internasional.

MADRID, IndonesiaSatu.co Pemerintah Spanyol mengeluarkan keputusan untuk mengirimkan senjata yang dipesan oleh otoritas Arab Saudi. Seperti dilansir faz.net, Jumat (14/9/2018), keputusan tersebut menandai perubahan sikap Spanyol sebelumnya yang menunda pengiriman demi menahan ekskalasi konflik di Timur Tengah.

Terkait penundaan itu pemerintah Spanyol mengatakan, persenjataan yang dikirim dikhawatirkan akan digunakan oleh aliansi Saudi dalam konflik di Yaman yang dapat membahayakan warga sipil di sana.

Kelompok-kelompok prokemanusiaan seperti Amnesty International, Greenpeace, Intermon Oxfam, dan “FundiPau" (Spanyol) melontarkan kritik tajam atas keputusan terbaru Spanyol.

Penjualan senjata ke negara-negara yang terlibat perang dinilai akan memperburuk keadaan dan menyebabkan jatuhnya korban sipil.

 Organisasi Pengawasan Senjata (OPW) mendesak otoritas Spanyol untuk mempertimbangkan kembali keputusannya.

Salah satu wakil dari OPW bernama Alberto Estevez menegaskan, langkah terbaru Spanyol secara otomatis bisa dianggap ikut melakukan kejahatan perang internasional.

Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutkan, lebih dari 22 juta orang di Yaman kini berada dalam kesulitan.

Menurut PBB, kondisi buruk akibat konflik di Yaman yang pecah sejak Maret 2015 merupakan krisis kemanusiaan paling parah di dunia saat ini.

--- Rikard Mosa Dhae