Breaking News
  • Bos First Travel Andika Divonis 20 Tahun, Istrinya 18 Tahun
  • Dolar AS Melambung, Harga Premium dan Solar Tak Naik Tahun Ini
  • Hendropriyono: TNI/Polri Jangan Takut Tegakkan Hukum
  • JK: Eks Koruptor Dilarang Nyaleg Agar Wibawa DPR Baik
  • Jonan Targetkan Akuisisi Saham Freeport Rampung Juni

INTERNASIONAL Stephen Hawking, Lahir dan Wafat Pada Tanggal yang Spesial 14 Mar 2018 17:05

Article image
Stephen Hawking di kantornya, Depatemen Matematikan Terapan dan Fisika Teori, Cambridge University pada 2005. (Foto: The Guardian)
Hawking mengatakan bahwa bila umat manusia dapat bertahan 200 tahun yang akan datang dan belajar untuk tinggal di luar angkasa, maka masa depan kita akan cerah.

FISIKAWAN ternama Stephen Hawking telah meninggal dunia pada usia 76 tahun. Menurut anak-anaknya, Lucy, Robert, dan Tim, Hawking menghembuskan nafas terakhir di rumahnya di Cambridge Rabu (14/3/2018) dini hari waktu setempat.

"Kami sangat sedih atas kematian ayah kami tercinta hari ini,” tulis sky.com.

Hawking meninggal di atas kursi rodanya  dalam posisi agak mengerut dengan tangan menyilang pada alat pengontrol kerjanya.

Hawking menikah dua kali. Dia dan istri pertamanya Jane Wilde, demikian ditulis cnn.com (14/3/2018), menikah ketika dia masih menjadi mahasiswa dan hidup bersama selama 30 tahun sebelum bercerai pada 1995. Hawking kemudian menikah selama 11 tahun dengan Elaine Mason, seorang mantan perawatnya.

Hawking lahir dan meninggal pada tanggal yang spesial. Ia lahir di Oxford, Inggris, pada 8 Januari 1942 – tepat 300 tahun kematian astronom dan fisikawan ternama Galileo Galilei. Dia meninggal pada tanggal yang sama dengan tanggal kelahiran fisikawan besar Albert Einstein. Einstein lahir pada 14 Maret 1879.

Dalam sebuah wawancara khusus dengan CNN pada Oktober 2008, Hawking mengatakan bahwa bila umat manusia dapat bertahan 200 tahun yang akan datang dan belajar untuk tinggal di luar angkasa, maka masa depan kita akan cerah.

Stephen Hawking adalah ilmuwan terkenal di dunia karena sumbangsihnya di bidang fisika kuantum, terutama teori-teorinya mengenai kosmologi, gravitasi kuantum, lubang hitam, dan radiasi Hawking.

Dia menderita kelumpuhan akibat sklerosis lateral amiotrofik (ALS). Menurut asosiasi ALS, tulis nationalgeographic.co.id (5/9/2016),  orang yang terdiagnosa mengidap penyakit ini, 50 persen hanya mampu bertahan hingga empat tahun, dan hanya 10 persen yang mampu hidup lebih dari 10 tahun. Faktanya, Hawking mampu bertahan selama lebih dari 50 tahun dengan ALS hingga usianya yang menginjak hampir 80 tahun. Hawking terus berjuang melawan penyakitnya dan melanjutkan kariernya sebagai ilmuwan dan melahirkan lebih banyak karya.

ALS adalah penyakit neurodegeneratif yang progresif dan memberikan efek pada jaringan sel otak dan saraf tulang belakang. Kata amiotrofik ini memiliki arti ‘tidak adanya asupan bagi otot’. Penyakit ini juga menyerang motorik otak yang memerintahkan untuk melenturkan otot, sehingga otak kehilangan kemampuan untuk memerintahkan otot. Sekali otot tubuh berhenti mendapat perintah, mereka akan mulai mengalami atrofi dan menyusut.

Tahun 2002, seorang ahli neurologi dalam British Medical Journal mengatakan bahwa dirinya tidak menyadari ada orang yang mampu bertahan begitu lama dalam penyakit ALS. Hal ini sangat jarang sekali terjadi.

Tidak ada yang tahu bagaimana dan mengapa Hawking mampu mengatur hidupnya begitu lama dengan ALS yang diidapnya. Ketika New York Times meminta Hawking untuk memberikan saran bagi mereka yang berjuang menghadapi disabilitas, Hawking hanya menjawab dengan gaya inspirasionalnya yang khas, “Keterbatasan Anda bukan menjadi hal yang mencegah Anda untuk melakukan hal dengan baik, dan jangan menyesali hal yang melawan kita itu,” ujarnya. “Jangan meniadakan semangat, maupun juga fisik.”

Pada akhir hidupnya, demikian ditulis The Guardian (14/3/2018), Hawking melanjutkan risetnya tentang masalah gravitasi-kuantum dan segala hal yang berhubungan dengan kosmologi. Namun pada saat yang bersamaan dia terlibat dalam upaya popularisasi ilmu pengetahunan, terutama yang berhubungan dengan karyanya sendiri. Dia sukses melahirkan karyanya yang terkenal berjudul A Brief History of Time (1988), yang telah diterjemahkan ke dalam 40 bahasa dan sudah laku terjual sebanyak 25 juta kopi di seluruh dunia.

Karya-karya terkenal Hawking selanjutnya yang tidak kalah populernya antara lain The Illustrated Brief History of Time (1996) dan The Universe in a Nutshell (2001). Bersama putrinya Lucy, dia menulis  buku yang menjelaskan ilmu pengetahuan kepada anak-anak berjudul George’s Secret Key to the Universe (2007). Di luar karyanya sendiri, Hawking juga menjadi editor, co-author dan komentator untuk banyak buku ilmu pengetahuan populer.

Selama hidupnya, Hawking telah menerima begitu banyak tanda jasa dan tanda kehormatan. Lebih khusus, dia terpilih sebagai fellow of the Royal Society pada usia 32 tahun dan peraih medali Copley pada 2006. Pada 1979, dia menjadi pemegang gelar Lucasian Chair, gelar profesor prestisius bidang matematika ke-17 dari Cambridge, 310 tahun setelah Sir Isaac Newton yang menjadi pemegang gelar kedua. Pada 1989 dia mendapat penghargaan Companion of Honour.

--- Simon Leya

Komentar