Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

UKM Strategi Pemasaran Produk UKM Indonesia Harus Menyerang Pasar Global 07 Mar 2018 17:00

Article image
Focus Group Discussion, dengan tema “Produk UMKM Dalam Gempuran Produk Impor di Pasar Global” di Jakarta, Rabu (7/3/2018). (Foto: ist)
Gempuran produk impor ke dalam negeri mulai ramai terjadi ketika dibuka pasar perdagangan bebas pada tahun 2016, maka momentum ini menjadi tantangan bagi pelaku UMKM Indonesia supaya bagaimana bisa merebut pasar global.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Menghadapi gempuran produk impor, pelaku UMKM tanah air dituntut membuat strategi menyerang. Disamping harus mempertahankan produk UMKM dalam negeri agar mampu bersaing dengan produk impor, pelaku usaha juga harus menggempur pasar global.

Pernyataan itu dikemukakan Deputi Bidang Restrukturisasi Usaha, Kementerian Koperasi dan UKM, Abdul Kadir Damanik dalam acara Focus Group Discussion, dengan tema “Produk UMKM Dalam Gempuran Produk Impor di Pasar Global” di Jakarta, Rabu (7/3/2018).

“Ada dua hal kalau kita melihat gempuran produk impor.  Artinya kalau main bola itu posisinya bertahan, padahal pertahanan terbaik dalam sepakbola itu adalah menyerang,” kata Damanik.

Damanik mengatakan gempuran produk impor  ke dalam negeri mulai ramai terjadi ketika dibuka pasar perdagangan bebas pada tahun 2016. Momentum ini menjadi tantangan bagi pelaku UMKM Indonesia supaya bagaimana bisa merebut pasar global.

“Ketika MEA dibuka pasar yang ingin kita serang itu ada 600 ribu di luar sana. Sedangkan di dalam tetap harus kita pertahankan. Gempuran produk itu tidak hanya bertahan tetapi perlu juga menyerang ke pasar lain,” tandasnya.

Hanya saja, menurut Damanik agar bisa diterima di pasar global, produk UMKM harus terlebih dahulu go modern. Pertama dengan memperhatikan aspek kualitas dan kuantitas produk, serta memanfaatkan sarana teknologi informasi (IT) dalam melakukan kegiatan pemasaran.

“Setelah itu, baru masuk go online. Dengan begitu, produk UMKM kita bisa go global, yang lebih penting harus dikelola dalam pendataan yang besar,” ujar Damanik.

Anggota Komisi IV DPR RI, Rahmad Handoyo saat menjadi pembicara dalam FGD tersebut, mengatakan e-commerce merupakan sarana yang mudah bagi pembeli maupun penjual untuk bertransaksi melakui sistem jaringan internet. E-commerce juga dapat menjangkau pasar yang sangat luas.

“Hanya dengan bantuan jangkauan internet, e-commerce dapat menaklukan pasar lebih luas,” kata Handoyo.

Namun, langkah yang harus disiapkan dalam mengembangkan UMKM melalui e-commerce, yakni dengan meningkatkan daya saing, serta untuk mendapatkan peluang ekspor dan peluang bisnis lainnya dapat dilakukan dengan memanfaatkan perkembangan IT, dan mengembangkan website.

“Permasalahan UMKM dalam memperluas akses pasar dan menembus pasar ekspor bisa diatasi dengan menggunakan e-commerce. Jangkauan media internet yang sangat luas menjadi peluang bagi UMKM untuk menembus pasar internasional,” tukas dia.

Di tempat yang sama, Ketua Umum Koperasi Pemuda Indonesia (Kopindo), Pendi Yusuf mengungkapkan bahwa perkembangan UMKM di Indonesia masih dihadapkan pada berbagai persoalan sehingga menyebabkan lemahnya daya saing terhadap produk impor. Antara lain soal keterbatasan infrastruktur dan akses  pemerintah terkait dengan perizinan.

“Meskipun UMKM dikatakan mampu bertahan dari adanya krisis global, namun pada kenyataannya permasalahan-permasalahan yang dihadapi sangat banyak dan lebih berat,” ungkap Pendi.

--- Sandy Romualdus

Komentar