Breaking News
  • Defisit Lebih Rendah Dari Proyeksi APBN-P 2017
  • Menkeu: investasi tumbuh karena kepercayaan pelaku usaha
  • Penerimaan Bea Cukai hingga November Rp130,1 triliun
  • Presiden Jokowi setuju pendiri HMI jadi Pahlawan Nasional

MUSIK Suara Malaikat di Lembah Sasa 27 Sep 2017 21:05

Article image
Paduan suara dari Seminari St Yohanes Berkhmans Mataloko berpose bersama Uskup TNI/Polri Mgr. Ignatius Suharyo, Pr, Ibu Dr Endang Siburian (istri Wakasad Letjen TNI Hinsa Siburian), Kasdam IX/Udayana Brigjen TNI Stefanus Tri Mulyono dan Kelompok
Menyaksikan paduan suara Seminari St Yohanes Berkhmans Mataloko menyanyi ibarat menyaksikan perjalanan hidup yang berliku (seperti roda) dalam gelombang permainan nada-nada yang kadang menghentak, kadang berpacu, kadang melambat, dan kadang menghiba-hiba

Oleh Redem Kono

 

“YOU all really have such very beautiful voices. So I infite you all to have drinks and foods with me,” demikian Pater Patrisius Pa, SVD tidak kuasa menahan dirinya berbicara di atas altar misa, meja tempat pastor Katolik merayakan perayaan Ekaristi atau peribadatan Katolik. Pemimpin rumah retret Kemah Tabor Mataloko, Flores, Kabupaten Ngada, Provinsi NTT tersebut sangat terpukau akan penampilan paduan suara yang dibawakan para siswa Seminari Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko, Senin (25/9/2017).

Saya pun demikian. Namun, saya tahu bukan sendirian yang merasa dipukau. Saya juga tahu bahwa Pater Patris, demikian mantan Direktur Karya Kepausan Indonesia 2003-2009 tersebut tidak asal bicara. 

Mengapa? Uskup di Keuskupan Umat Katolik TNI/Polri atau Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI) Mgr. Prof. Dr Ignatius Suharyo, Pasbanmilpol RD Rofinus Neto Wuli, M. Si (Han), Ibu Dr Endang Siburian (istri Wakasad Letjen TNI Hinsa Siburian), Kasdam IX/Udayana Brigjen TNI Stefanus Tri Mulyono, perwakilan Subdisbinrohkat Disbintalad Letkol (K) Dra Gaudensiana Diana KF, M.Hum, M.Si, para peziarah Ave Maria dari Jakarta, serta umat yang hadir dalam misa ini bertepuk tangan tiga kali selama misa, karena daya pikat penampilan paduan suara dari para calon pastor Katolik itu.

“Suara anak-anak Seminari calon imam ini seperti malaikat. Saya merasa seperti di surga,” puji Dr Endang Siburian seusai misa.

Bahkan, Pasbanmilpol Pastor Ronny, yang juga alumni Seminari Mataloko tidak dapat menahan diri untuk membagikan Rosario Merah Putih kepada para pemilik suara-suara merdu itu. Ia mengaku sengaja mengundang paduan suara ini untuk tampil dalam misa pembukaan retret prajurit TNI/Polri sedaratan Flores dan Lembata di rumah retret Kemah Tabor Mataloko, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Senin (25/9/2017) malam.

Tampil dengan peserta sebanyak 30 orang, mereka sukses menyita perhatian publik. Kombinasi lagu-lagu inkulturatif dan lagu-lagu aransemen Latin dinyanyikan merdu dan penuh harmoni. Iringan organ dan petikan gitar semakin mengundang harmoni.

Menariknya, paduan suara yang semuanya beranggotakan laki-laki tersebut memiliki pembagian suara yang jelas-lumrah, seperti pembagian suara dalam paduan yang menggabungkan antara perempuan dan laki-laki. Ada sopran, alto, tenor, dan bas. Lebih mengejutkan lagi, suara sopran dinyanyikan secara halus dan mampu menggapai not-not tinggi yang seharusnya menjadi “milik para perempuan”!

“Suara sopran saya ambil dari para siswa seminari yang baru saja masuk SMP Seminari Mataloko. Mereka lebih mudah menggapai nada-nada tinggi, ketimbang para siswa yang mencapai puncak remaja,” papar Agustinus Dhae (65), pelatih musik vokal kelompok Besmart seusai perayaan.  

Langkah yang diambil Agus cukup menyulitkan, karena selama satu hingga dua tahun, ia harus melatih ulang para sopranis. Para sopranis harus ditambal sulang untuk mendapatkan kriteria sesuai yang diharapkan.

“Karena kemungkinan mereka yang dulunya di suara sopran, tidak mampu menggapai nada-nada tinggi. Itu artinya posisi mereka harus diganti,” ungkap Agus. Ia aktif melatih paduan suara setelah pensiun dari PNS. Juga mau mengabdikan diri demi musik. Juga mau mengabdi demi Gereja Katolik.

Namun, Agus merendah ketika dipuji bahwa penampilan koor ini adalah murni hasil karya pamungkasnya. Menurutnya, nyanyian merdu koor ini di tempat penggembelengan calon imam yang berada di lembah Bukit Sasa tersebut buah dari tradisi para pewarta agama Katolik (misionaris). Para misionaris yang  berkarya di sekolah calon imam ini berjasa besar membangun tradisi bernyanyi merdu.

“Saya sebutkan misalnya Pater Albert Van der Heyden, SVD. Beliau banyak menginspirasi saya dalam melatih lagu-lagu inkulturatif ketika saya masih calon imam. Baginya, bermusik tidak boleh asal-asalan. Musik adalah salah satu puncak kreativitas yang harus dimiliki para calon pastor Katolik,” ungkap Agus.

Agus mengaku sangat kagum terhadap cara para misionaris bermusik dan memperkenalkan musik. Para misionaris tidak hanya memperkenalkan musik klasik, tetapi mengolah musik tradisional setempat dalam lagu-lagu inkulturasi.

“Mereka mengajarkan musik-musik klasik yang mengajarkan harmoni dan keindahan bermusik. Namun, tidak hanya berhenti di situ. Mereka berani keluar dari budaya mereka, masuk dalam budaya Ngada atau berbagai suku di Flores, dan menangkap inspirasi musik tradisional demi penyebaran iman sekaligus menarik banyak orang untuk jadi pastor,” kisah Agus.

Butuh kerja keras dan kedisiplinan untuk mempertahankan tradisi tersebut. Frater Silvano Keo Baghi, SVD (25) yang juga alumnus Seminari Mataloko memberi kesaksian bahwa para anggota koor dipilih melalui seleksi yang ketat dan latihan yang teratur.

“Kita tidak hanya melatih mengeja nada-nada, tetapi pula latihan pernapasan,” kenang Frater Sil yang kini bekerja sebagai reporter harian cetak Flores Pos.

Frater Sil mengaku terharu ketika mendengar lantunan lagu-lagu merdu tadi. Lagu-lagu merdu membangkitkan kenangan yang membahagiakan tentang Seminari Mataloko sebagai “rumah”.

"Lagu-lagu yang dinyanyikan tadi seperti memanggil pulang ke salah satu rumah dan sekolah terbaik yang ada dalam hidup saya,” katanya bangga.

Dalam musik ada narasi tentang nilai-nilai keutamaan dan kerja keras. Anggota paduan suara dibiasakan untuk berdisiplin, hidup dalam harmoni, dan bekerja keras. Terhadap sikap disiplin, misalnya, mereka sering berlatih pada Sabtu dan juga Minggu. Latihan biasanya dilakukan selama dua jam.

Kedisiplinan, harmoni dan kerja keras ini menghantar mereka pernah melakukan konser di mana-mana, sedaratan Flores. Bahkan pada 2014, mereka diundang ke Jakarta atas inisiatif dari kelompok Alumni Seminari Mataloko (ALSEMAT) di Jakarta.

“Melalui musik, kami bisa belajar terbuka pada budaya lain untuk dapat hidup dalam harmoni,” tegas Agus.

Saya yang menyaksikan secara langsung dalam hening bahagia Kapela Kemah Tabor terpukau paduan suara tersebut. Menyaksikan mereka menyanyi ibarat menyaksikan perjalanan hidup yang berliku (seperti roda) dalam gelombang permainan nada-nada yang kadang menghentak, kadang berpacu, kadang melambat, dan kadang menghiba-hiba. Mereka menyanyikan kehidupan.

Tambahan lagi, perpaduan berbagai suara dari latar belakang keunikan pribadi justru akan menampilkan harmoni yang indah. Perbedaan terasa indah bila dirangkai dalam kebersamaan yang merdu. Pesona mereka menjanjikan tawaran nilai-nilai estetik agama. Dalam agama terdapat banyak kekayaan nilai-nilai luhur yang patut digali. Musik dalam agama, misalnya, menjadi kekayaan universal yang menembus batas-batas agama dan peradaban.

Penulis adalah wartawan IndonesiaSatu.co

Komentar