Breaking News

HUKUM Sugeng Santoso: Jargon Penegakan Hukum yang Presisi Kapolri Baru sebagai Marwah Keadilan Publik 31 Jan 2021 00:01

Article image
Sugeng Teguh Santoso (tengah berpeci) saat menjadi Koordinator Hukum kasus Rasisme di Surabaya tahun 2019 lalu. (Foto: Dokpri STS)
"Sebagai pejuang dan pembela keadilan, semoga Pak Kapolri mampu amanah dalam menegakkan hukum dan keadilan," harap Sugeng.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- "Tindakan cepat Polri menetapkan tersangka dan menahan Tersangka Ambrocius Nababan dalam kasus ujaran kebencian atas dasar rasisme, sudah tepat. Mungkin ini penerapan pertama jargon Presisi oleh Kapolri baru, Jenderal Pol Listyo Sigit wibowo."

Demikian hal itu diungkapkan Advokat Litigasi, Sugeng Teguh Santoso (STS), dalam keterangan tertulis kepada media ini, Sabtu (30/1/2021).

Menurut Sugeng, Polri tidak ingin kecolongan hingga terjadi ekses rusuh besar di Papua dan Papua Barat pasca-ujaran rasis dengan kata-kata "Monyet" seperti kasus di Surabaya tahun 2019 lalu.

Ia beralasan, diksi rasis yang digunakan mirip kasus rasisme Surabaya namun penanganan sangat lambat sehingga pelaku rasis tidak segera ditangkap dan ditahan saat itu, walau akhirnya diproses setelah kerusuhan di Papua terlanjur meledak.

"Dalam ekses kasus rasisme Surabaya 2019 yang meledak di Jayapura, 27 orang ditahan. Saya menjadi Koordinator pembela mereka," ujarnya. Meski demikian, kata Sugeng, ada fakta tersisa yang menjadi tanya besar baginya sebagai Advokat penegak hukum; bahwa rusuh di Jayapura menelan kerugian material besar yang diakibatkan oleh peristiwa kebakaran; yaitu terbakarnya gedung-gedung pemerintah; kantor MRP, gedung Pelni, gedung Telkom, kantor Bank, perkantoran, ruko-ruko dan rumah-rumah penduduk.

Sementara 17 perkara dengn 27 terdakwa yang didakwa di Pengadilan Negeri Jayapura hanya terbukti mereka melempar gedung-gedung tersebut dengan batu-batu, paling besar satu kepal tangan. Sedangkan barang bukti hanya katapel, bahkan tidak ada yang terbukti mereka membawa molotov, bahkan tertangkap karena membakar.

Selanjutnya, terang Sugeng, dalam pemeriksaan atas saksi-saksi oleh Polisi di depan Pengadilan, saya mengorek keterangan dari Polisi yang ada di lapangan saat rusuh terjadi.

"Dari keteranhan, justru ada kebakaran, ada pelaku yang membakar. Ketika ditanya mengapa tidak diproses dan ditangkap (pelaku pembakaran, red), para polisi tersebut justru diam seribu bahasa. Bahkan ketika ditanya para terdakwa yang adalah mahasiswa yang diadili tersebut, apakah yang membakar adalah mereka, jawabannya justru mereka tidak tahu (sesungguhnya bukan mereka)," kisah Sugeng.

Sugeng yang dikenal sebagai Advokat Pergerakan ini justru mempertanyakan; jika terbukti ada tindak pidana pembakaran, mengapa Polisi tidakk memproses?

"Tidak mau, tidak mau tahu atau justru tidak mampu? Justru peristiwa kebakaran (pembakaran, red) inilah yang sesungguhnya menimbulkan kerugian besar," sentilnya.

Dugaan "Invisible Power"

Sugeng beralasan, dalam kasus rusuh massal, selalu ada kelompok yang 'bermain di belakang layar'

Ia menduga, aparat Polisi tahu karena dibekali keahlian Polisi dalam mengungkap setiap motif peristiwa. 

"Namun peristiwa kerusuhan Jayapura 2019, siapa pelaku pembakaran dan 'kekuatan tak terlihat" (invisible power), malah tidak pernah terungkap alasannya, karena memang tidak diproses oleh Polisi. diduga ada operasi kelompok tertentu yang tidak dapat atau tidal mampu disentuh Polisi," imbuhnya.

Wujudkan Keadilan Publik

Akankah Kapolri Baru, Jenderal Listyo Sigit Wibowo, dengan jargon Presisinya, akan mampu menegakkan keadilan tanpa pandang bulu?

Sugeng berkeyakinan bahwa ketika orang-orang berlomba-lomba mengucapkan selamat secara menyolok pada Kapolri Baru dengan menampilkan foto diri bersama Pak Kapolri baru, diriny justru memilih tidak memasang ucapan selamat.

Namun, ia mendoakan dengan diam, agar Pak Kapolri yang beragama Kristen ini sungguh-sungguh mampu mewujudkan jargon Presisinya itu, sehingga Polri sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat dapat diwujudkan.

Sugeng mengaku, sebagai Advokat Litigasi yang telah berpraktek selama 30 tahun, dirinya 'kenyang' menghadapi banyak keluhan masyarakat atas praktek Polisi yang tidak adil, termasuk membela kasus-kasus berdimensi publik interest case, berdimesi politik yang banyak menyisakan tanda tanya dalam proses penegakan hukumnya.

"Sebagai pejuang dan pembela keadilan, semoga Pak Kapolri mampu amanah dalam menegakkan hukum dan keadilan. Selamat untukmu, Jenderal Listyo Sigit Wibowo. Jangan permalukan Tuhanmu yang telah menyelamatkanmu dari Dosa," dukung Sugeng yang juga Ketua DPD PSI Kota Bogor ini dalam nada Doa.

--- Guche Montero

Komentar