Breaking News
  • Indonesia-Australia jajaki tarif 0 persen untuk tiga komoditas
  • Kemendag amankan minuman beralkohol tanpa izin impor
  • Laos tertarik alutsista dan pupuk Indonesia
  • OJK: Masyarakat banyak belum paham fungsi produk jasa keuangan

BOLA Pasca ETMC 2017, Surat Terbuka Kepada Bupati Ende 11 Aug 2017 11:09

Article image
Suasana Stadion Marilonga, Ende menjelang laga final antara PSN Ngada vs Perse Ende. (Foto: youtube)
Ini semua adalah ironi yang mendegradasi semua idealisme yang semestinya tersaji, segalanya jatuh ke titik terendah dari suatu obsesi jujur yang kita miliki.

Oleh Yulius H. Kila Moi

 

Bapak Bupati Ende yang saya hormati.

Sebagai orang Ngada saya harus jujur mengakui bahwa Bapak telah berusaha dengan maksimal mengomandani perhelatan ETMC 2017 agar boleh diproses dan diakhiri dalam konteks tujuan sukses. Sekali lagi saya sungguh percaya Bapak memiliki komitmen ideal tersebut.

Namun Bapak dan kita semua telah mengalami tragedi yang sungguh hancur sebagai puncak dari ETMC 2017. Sungguh, laga final ETMC 2017 telah sangat ternoda karena Panpel, Asprov PSSI NTT tidak peka terhadap berbagai situasi dan kondisi sebelum laga final disajikan, seperti tumpah ruahnya penonton sampai ke line lapangan hal mana seharusnya sudah diprediksi berpotensi sangat besar mengganggu jalannya pertandingan.

Dalam konteks pengelolaan pertandingan kita semua menyaksikan bahwa wasit tidak lagi mampu memimpin dengan adil karena sering tidak melakukan komunikasi pada asisten wasit sehubungan dengan berbagai kejadian dalam pertandingan. Saya menilai bahwa wasit telah mengalami tekanan psikologis akibat padatnya penonton tepat di sekitar line lapangan sehingga terpaksa memproteksi diri dengan cara seminimal mungkin mengurangi risiko dikanibalisasi oleh penonton tuan rumah. Wasit sangat takut pada fanatisme tifosi tuan rumah.

Pak Bupati yang saya hormati.

Saya tak kehilangan respek pada Bapak yang saya kagumi. Hal kejadian di luar lapangan, sebagai orang yang mengalami langsung betapa Panpel kurang memiliki komitmen untuk menciptakan suasana yang kondusif, saya harus membantu Pak Bupati untuk memahami fakta apa adanya.

Suporter PSN mengalami situasi yang tidak mengenakkan karena harus berjubel dan berdesakkan di pintu gerbang, sementara Panpel tak kunjung membuka gerbang masuk karena mereka memaksakan prosedur pemeriksaan ketat sehingga dari ribuan tifosi PSN, mereka paksakan masuk ke tribun setelah diperiksa oleh pihak keamanan sementara pemahaman suporter Ngada hal tersebut tidak adil karena pada pintu blok lain yang nota bene diperuntukkan bagi fans tuan rumah,  penonton boleh masuk dengan bebas.

Pak Bupati,

Semua suporter Ngada telah di-sweeping oleh petugas keamanan di Kecamatan Nangaroro. Akibat prosedur ketat di saat yang tidak tepat, sebagian superter Ngada kemudian merangsek maju dan mendorong pintu gerbang hingga roboh dan masuk ke tribun yang sesungguhnya sudah sesak oleh tifosi Ende.

Saya tercenung Pak Bupati karena Panpel telah tahu dan mau membiarkan tifosi PSN harus berjubel sesak di sisa tempat duduk yang amat terbatas. Setelah ada dalam tribun, tifosi Ngada kemudian diprovokasi dengan lemparan batu dari luar yang intesitasnya dari waktu ke waktu semakin sering yang menyebabkan sebagian besar fans PSN berhamburan keluar menyelamatkan diri. Pada saat itulah terjadi pengrusakan pagar demi menyelamatkan diri masing-masing akibat situasi yang telah tak bisa dikendalikan.

Pak Bupati,

Kerusakan yang terjadi adalah proteksi pada diri manusia untuk menghargai diri dari brutalisme yang diciptakan karena fans Ngada memahami harga diri manusia jauh lebih berharga dari sekadar piala dan status juara. Penyampaian Pak Bupati untuk mengatasi masalah bagi saya kurang pas. Karena himbauan Pak Bupati yang saya dengar terkesan lebih mementingkan soal menyelesaikan pertandingan ketimbang memeriksa situasi dalam stadion yang tak bisa lagi dikendalikan.

Pak Bupati mungkin tidak diinformasikan bahwa cukup banyak penonton yang cedera akibat terkena lemparan batu. Pak Bupati tidak diberi tahu bahwa ada korban akibat runtuhnya tembok stadion. Sekali lagi Panpel saya nilai tidak memiliki komitmen yang cukup untuk menilai dan menyampaikan pada Pak Bupati berbagai situasi keamanan dalam final kemarin sebagai masukan agar pertandingan kemarin dihentikan dari awal.

Pak Bupati.

Ini semua adalah ironi yang mendegradasi semua idealisme yang semestinya tersaji, segalanya jatuh ke titik terendah dari suatu obsesi jujur yang kita miliki.

Saya mohon maaf Bapak Bupati Ende, perhelatan ETMC 2017 di Ende telah gagal dan jauh dari idealisme sukses.

 

Penulis adalah salah seorang tokoh masyarakat Ngada.

Komentar