Breaking News
  • Banjir landa 21 kelurahan di Tebing Tinggi
  • Imigrasi Ngurah Rai beri "exit pass" seminggu bagi wisman
  • Jokowi: Kawasan GBK Harus Jadi Ruang Publik Bagi Masyarakat
  • PVMBG: gas SO2 Gunung Agung menurun
  • Sebanyak 50 ton ikan Danau Maninjau mati

NASIONAL Survei: 61,8 Persen Warga Inginkan Jokowi Jadi Presiden 2019-2024 04 Dec 2017 09:51

Article image
Presiden RI Joko Widodo. (Foto: Ist)
Elektabilitas Jokowi berada di angka 34,9 persen berdasarkan pertanyaan terbuka. Namun, jika berdasarkan pertanyaan tertutup dan hanya dibatasi 16 capres, elektabilitas Jokowi naik menjadi 41,8 persen.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Sebanyak 61,8 persen responden menginginkan Jokowi untuk kembali menjadi presiden Indonesia periode 2019-2024.

Simpulan ini menjadi salah satu temuan survei Indo Barometer yang dirilis di Hotel Atlet Century Park, Jakarta, Minggu (3/12/2017).

"Mayoritas publik, 61,8 persen, menginginkan Joko Widodo kembali menjadi Presiden untuk periode 2019-2024," ucap Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari.

Qodari menjelaskan terdapat 23,6 persen yang tidak menginginkan Jokowi kembali menjadi Presiden. Sedangkan yang tidak menjawab tidak tahu atau tidak menjawab sebesar 14,7 persen.

Sementara itu, elektabilitas Jokowi berada di angka 34,9 persen berdasarkan pertanyaan terbuka. Namun, jika berdasarkan pertanyaan tertutup dan hanya dibatasi 16 capres, elektabilitas Jokowi naik menjadi 41,8 persen.

Sedangkan jika diajukan pertanyaan tertutup dan capres dibatasi enam nama, elektabilitas Jokowi meningkat menjadi 44,9 persen.

Selain itu, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto masih diprediksi menjadi pesaing utama Jokowi pada Pemilu 2019.

Berdasarkan pertanyaan terbuka, elektabilitas Prabowo berada di angka 12,1 persen. Jika didasarkan pada pertanyaan tertutup dan jumlah capres dibatasi 16 capres, elektabilitas Prabowo naik menjadi 13,6 persen.

Sedangkan jika jumlah capres dibatasi 6 nama, elektabilitas Prabowo naik tak signifikan menjadi 13,8 persen.

"Tren elektabilitas Joko Widodo sejak 2015-2017 perlahan semakin meningkat. Meski sempat melemah pada September 2015. Sementara elektabilitas Prabowo Subianto sejak 2015-2017 mengalami fluktuasi," ujar Qodari.

"(Prabowo) sempat naik pada September 2015 dan melemah pada Oktober 2016. Pada Maret 2017 sempat beranjak namun melemah kembali pada November 2017," tutur dia.

Survei ini lakukan  pada 15-23 November 2017 di 34 provinsi di Indonesia. Jumlah sampel sebanyak 1.200 responden dengan margin of error sebesar 2,83 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Survei ini menggunakan metode multistage random sampling.

--- Redem Kono

Komentar