Breaking News
  • Ada 70.000 ibu hamil dan menyusui di antara pengungsi Rohingya
  • ASEAN Para Games - Doni Yulianto sumbang emas nomor kursi roda 1.500m
  • Kemenperin buka rekrutmen PNS untuk 380 formasi
  • Malaka, NTT diguncang gempa
  • Menhub: uji coba Transjabodetabek hasilnya kurang maksimal

PERTAHANAN Susaningtyas Kertopati: Nagapasa-403, Kapal Selam Andalan Terbaru TNI AL 28 Aug 2017 17:49

Article image
Kapal selam baru milik TNI AL yang dipesan dari Korea Selatan tiba di Surabaya. (Foto: detik.com)
Presiden dan kabinet dapat memanfaatkan data intelijen maritim untuk pengambilan keputusan dalam menentukan kebijakan nasional sesuai visi Poros Maritim Dunia.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Berlayar selama 17 hari, sejak 11 Agustus 2017,  kapal selam KRI Nagapasa-403 akhirnya tiba di Surabaya. KRI Nagapasa-403 yang dikomandoi Letkol Laut Harry Setyawan dan 41 awak berlayar dari galangan kapal Okpo, Geoje, Korea Selatan (Korsel).

Pengamat pertahanan, pakar intelijen, dan dosen Universitas Pertahanan (Unhan) Dr Susaningtyas Kertopati berpendapat, dengan datangnya kapal selam pertama dari galangan kapal Korsel, maka komposisi kekuatan TNI AL menjadi 3 (tiga) kapal selam berstatus operasional. Fungsi asasi kapal selam adalah intai taktis-strategis dan pemukul awal. Dengan fungsi asasi tersebut, maka pola penggelaran dan pola pengerahan harus difokuskan pada efek penggentar.

"Pola gelar kapal selam harus berada di pangkalan depan. Sedangkan pola pengerahan dari pangkalan depan ke daerah operasi atau ke pangkalan aju. Dengan pola penggelaran dan pola pengerahan yang tepat, maka 1 (satu) kapal selam bisa menyebabkan 1 (satu) armada kapal lawan terkunci di suatu zone. Kapal selam dapat melaksanakan blokade laut yang efektif dan efisien," kata Susaningtyas kepada IndonesiaSatu.co, Senin (28/8/2017).

"Jika kapal selam dilengkapi kemampuan menyebar ranjau, maka efek penggentar tersebut meningkat beberapa kali. Efek penggentar sebesar itu dalam dunia militer dikenal sebagai salah satu bentuk psycho warfare atau perang urat syaraf," lanjut Susaningtyas.

Dijelaskannya, filosofi penggunaan kapal selam pada masa damai dan masa perang juga berbeda. Penggunaan pada masa damai juga ditujukan untuk pengumpul data intelijen maritim. Data-data intelijen tersebut dapat diolah dan disampaikan kepada pengguna akhir yaitu Presiden RI melalui BIN (Badan Intelijen Negara).

Presiden dan kabinet dapat memanfaatkan data intelijen maritim untuk pengambilan keputusan dalam menentukan kebijakan nasional sesuai visi Poros Maritim Dunia. Penggunaan pada masa perang dapat digunakan terlebih dahulu untuk melaksanakan infiltrasi agen intelijen dan/atau pasukan khusus.

"Dengan kapasitas dan kompetensi tersebut memang layak kapal selam dinilai sebagai Alutsista unggulan TNI di masa depan. Tepat kiranya pemerintah saat ini meningkatkan postur tempur TNI dengan menambah jumlah kapal selam," ujar Susaningtyas.

Kapal selam KRI Nagapasa 403 adalah Alutsista TNI AL terbaru yang memperkuat jajaran TNI. Dua kapal selam dengan tipe yang sama sedang dalam proses penyelesaian akhir (oleh Korsel) dan pembuatan baru (oleh PAL). Pengadaannya masuk di dalam program MEF yang telah disetujui oleh pemerintah dan DPR. Perkuatan kapal selam baru untuk mengimbangi antara tuntutan tugas TNI AL untuk pengamanan perairan Indonesia dengan ketersediaan Alutsista.

KRI Nagapasa 403 direncanakan akan bermarkas di pangkalan TNI AL Palu untuk ikut mengamankan perairan Blok Ambalat. Hal ini semakin memperjelas kebutuhan pembentukan Komando Armada RI Kawasan Tengah. Prinsipnya, kedatangan Alutsista harus dibarengi dengan fasilitas logistiknya sehingga baik Alutsista maupun fasilitas pada akhirnya membutuhkan validasi organisasi, yakni Koarmateng.

Kedatangan KRI Nagapasa 403, lanjut Susaningtyas, juga menjadi akselerator bagi PT. PAL untuk berbenah diri menyiapkan sarana prasarana pembangunan kapal selam baru dan galangan kapal untuk pemeliharaan dan perbaikan.

Karena itu, dia berharap PAL harus mampu menjaga sustainability peralatan KRI Nagapasa 403 baik platform dan permesinan maupun sistem deteksi dan senjata. Pada skala nasional, kedatangan KRI Nagapasa 403 juga momentum bagi industri maritim dan galangan kapal lainnya di seluruh Indonesia untuk ikut aktif menyiapkan diri menerima perbaikan kapal selam.

"Kita tidak boleh bertumpu hanya kepada PT. PAL. Pemerintah harus membuka kompetisi yang sehat agar tidak dimonopoli PT. PAL. Kompetisi industri yang sehat dapat meningkatkan kinerja industri pertahanan," tandas pengamat militer tersebut.

Dia menegaskan, Koarmateng harusnya terwujud 2014 dengan Mako di Makassar sedangkan Koarmatim geser ke Sorong. "Fasilitas sudah 75 % tinggal geser saja tapi belum ada izin dari Mabes TNI padahal kebutuhan sudah mendesak," pungkasnya.

 

 

--- Simon Leya

Komentar