Breaking News
  • Bos First Travel Andika Divonis 20 Tahun, Istrinya 18 Tahun
  • Dolar AS Melambung, Harga Premium dan Solar Tak Naik Tahun Ini
  • Hendropriyono: TNI/Polri Jangan Takut Tegakkan Hukum
  • JK: Eks Koruptor Dilarang Nyaleg Agar Wibawa DPR Baik
  • Jonan Targetkan Akuisisi Saham Freeport Rampung Juni

PERDAGANGAN Tahun 2017, Realisasi Ekspor Indonesia Meningkat 16,22 % 06 Apr 2018 06:51

Article image
Kopi, salah satu produk ekspor unggulan Indonesia. (Foto: Ist)
Menurut Karyanto, ada 3 (tiga) penilaian untuk ekspor yakni size, spread, dan sustainable. Dari ketiga aspek tersebut, lanjutnya, sustainable menjadi poin terkuat dalam ekspor Indonesia.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Realisasi ekspor produksi dalam negeri sepanjang tahun 2017 telah mencapai 168,7 miliar dolar AS atau meningkat 16,22 persen dibanding realisasi yang dicapai sepanjang 2016, yaitu sebesar 145,1 miliar dolar AS.

“Untuk kawasan ASEAN, angka pertumbuhan ekspor Indonesia itu nomor dua setelah Vietnam,” kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Karyanto Supri  pada Forum Tematik Badan Koordinasi Hubungan Kemasyarakatan (Bakohumas), di Hotel Santika Premiere, Yogyakarta, Kamis (5/4/2018). 

Menurut Karyanto, ada 3 (tiga) penilaian untuk ekspor yakni size, spread, dan sustainable. Dari ketiga aspek tersebut, lanjutnya, sustainable menjadi poin terkuat dalam ekspor Indonesia. Namun demikian, Karyanto menyampaikan Kemendag terus memperbaiki aspek size dan spread dengan pembelajaran dari negara lain.

Ia menyebutkan, untuk tahun 2018 ini, Kemendag menargetkan pertumbuhan ekspor sebesar 11 persen, yang didukung oleh 59,2 juta jumlah usaha mikro, kecil, dan menengah di tanah air.

Belum Sesuai Pasar

Sementara itu Direktur Pengamanan Perdagangan Kemendag, Pradnyawati, menambahkan bahwa ekspor Indonesia belum sesuai dengan struktur permintaan pasar dunia, yakni 81% produk manufaktur dan 19% produk primer.

Vietnam, lanjut Pradnyawati, memiliki keunggulan karena berbasis produk high skill dan technology intensity. 

“Produk manufaktur seperti kedirgantaraan, robotik, high skill yang dibutuhkan dunia pada posisi pertama,” tutur Pradnyawati seraya menyampaikan bahwa produk Indonesia kebanyakan pada posisi low skill.

Adapun Manajer AEC Center, Primajoko, menyampaikan bahwa tahun ini Indonesia akan menandatangani kesepakatan dengan Jepang, Pakistan, dan Uni Eropa.

 “Produk Indonesia yang masuk ekspor diantaranya bulumata palsu dari Purbalingga, PT PAL, PT Indofood,” ujarnya.

Sementara wakil dari Asosiasi pengusaha Tekstil, Liliek Setiawan, menyampaikan bahwa hanya 3 negara yang memiliki usaha hulu sampai hilir yakni India, Indonesia, dan Tiongkok.

Namun, ia menambahkan hanya Indonesia yang tidak memiliki bahan baku.

“Memang bisa dilakukan impor namun tetap saja kita harus memiliki ketahanan bahan baku di dalam negeri,” kata Liliek.

Produk kopi Indonesia, menurut Liliek, menempati peringkat keempat di dunia dan sekarang saatnya mencari pasar-pasar yang baru.

Acara Forum Tematik Bakohumas kali ini turut dihadiri diantaranya Sekjen Kemendag Karyanto Supri, Asdep Humas dan Protokol Setkab Al Furkon Setiawan, Kepala Biro Humas Kemendag Marolop Nainggolan, Direktur Kemitraan Komunikasi Kemkominfo Dedet Surya Nandika, Direktur Pengamanan Perdagangan Kemendag Pradnyawati serta perwakilan pejabat/pegawai humas kementerian/lembaga serta Polri. 

--- Redem Kono

Komentar