Breaking News

INTERNASIONAL Taliban Batalkan “Perundingan Tanpa Hasil” dengan Pemerintah Afghanistan 07 Apr 2020 16:29

Article image
Sejumlah anggota Taliban yang ditahan di Kabul, Afghanistan. (Foto: faz.net)
Kabul: Kubu Taliban menuntut pembebasan 15 komandan top yang merupakan “para pembunuh rakyat kami”, namun pemerintah Afghanistan tidak akan melakukan itu.

KABUL, IndonesiaSatu.co -- Kelompok radikal Taliban membatalkan rencana pembicaraan lanjutan dengan pemerintah Afghanistan mengenai pertukaran tahanan.

Seperti dilansir Frankfurter Allgemeine Zeitung, Selasa (7/4/2020), kelompok radikal tersebut menuding otoritas di Kabul menunjukkan tanda-tanda yang mengingkari salah satu tujuan pembicaraan, yakni pembebasan tahanan milisi.

Juru bicara kubu Taliban Suhail Shahin menyatakan, mereka tidak akan mengambil bagian lagi dalam rangkaian pembicaraan yang disebut sebagai “perundingan tanpa hasil”.

Ia menuduh Presiden Afghanistan Ashraf Ghani sengaja mempersulit rencana pertukaran tahanan dengan berbagai alasan.

Shahin menambahkan, tim teknisnya akan menarik diri dari rencana pembicaraan mulai Selasa ini (7/4/2020).

Sejak pekan lalu kedua kubu telah memulai pembicaraan dan perundingan di Kabul mengenai pertukaran tahanan, yang seharusnya telah dilakukan pada 10 Maret lalu namun gagal menyusul perbedaan pandangan keduanya.

Sementara itu, juru runding pemerintah Afghanistan Matin Bek menyalahkan kubu Taliban sebagai pihak yang bertanggung jawab atas gagalnya pertukaran tahanan.

Bek mengatakan, kubu Taliban menuntut pembebasan 15 komandan top yang merupakan “para pembunuh rakyat kami”, namun pemerintah Afghanistan tidak akan melakukan itu.

“Kami tidak ingin mereka kembali ke medan tempur dan menguasai seluruh provinsi kami,” ujar Bek seperti dikutip dari Frankfurter Allgemeine Zeitung/faz.net, Selasa (7/4/2020).

Menurut Bek, otoritas Kabul telah setuju untuk membebaskan sekitar 400 tahanan Taliban yang “tidak berbahaya” sebagai bukti niat baik jika Taliban bersedia mengurangi aksi kekerasan.

Namun, keputusan pemerintah Afghanistan tersebut ditolak oleh kelompok radikal Taliban, yang justru menuding pemerintahan Ashraf Ghani mencederai kesepakatan dengan kubu Washington (AS) yang telah ditandatangani pada akhir Februari lalu.

--- Rikard Mosa Dhae