Breaking News
  • BI: penurunan suku bunga mendorong intermediasi perbankan
  • BI: penurunan suku bunga sudah perhitungkan FFR
  • Perusahaan China bidik sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia
  • Petambak Lombok berpenghasilan Rp20 juta per bulan
  • Tiga BUMN kembangkan pelabuhan dukung Tol Laut

HUKUM Tangkap Asma Dewi, Polisi Telusuri Kaitan Saracen dan Tamasya Al Maidah 12 Sep 2017 12:15

Article image
Asma Dewi ditangkap polisi karena menyebarkan ujaran kebencian. (Foto: Ist)
Dari pengembangan penyidikan, Polisi mengetahui bahwa Dewi mentransfer uang sebesar Rp 75 juta ke pengurus inti kelompok Saracen.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Pada Jumat (8/9/2017), Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri menangkap Asma Dewi di Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan, Jumat (8/9/2017). Pada mulanya Asma Dewi ditangkap karena mengunggah konten ujaran kebencian, penghinaan agama dan ras tertentu.

Dari pengembangan penyidikan, Polisi mengetahui bahwa Dewi mentransfer uang sebesar Rp 75 juta ke pengurus inti kelompok Saracen. Kelompok tersebut sebelumnya diciduk lantaran menyebarkan ujaran kebencian dan konten berbau SARA di media sosial.

"Masih didalami (perannya). Yang jelas aliran dana ada. Kami tidak tahu, apakah dia mencari order atau dia yang mengorder," ujar Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto, Senin, (11/9/2017).

Dugaan sementara, lanjut Setyo, Asma Dewi diyakini terlibat sindikat penebar kebencian Saracen. Sebab uang senilai Rp 75 juta yang dikirimkannya diberikan kepada tiga anggota Saracen yang hingga kini masih diburu kepolisian.

"Dia salah satu kaki tangan mengambil itu (uang), karena aliran dana diinformasikan dari dia dikirim ke siapa dan lewat lagi. Untuk ketiga orang yang namanya dialirkan dana tersebut sedang dikejar," ujar Setyo.

Dikenal sebagai ibu rumah tangga, Asma Dewi dikenal aktif dalam gerakan aksi Bela Islam yang berlangsung di Jakarta beberapa waktu lalu.

Dalam sebuah poster, nama Asma Dewi juga tercantum sebagai salah satu panitia Tamasya Al Maidah yang dilaksanakan 19 April lalu atau berbarengan dengan Pilkada DKI Jakarta putaran dua. Mereka memobilisasi massa dari daerah ke Jakarta untuk mengawal proses pemilihan kepala daerah.

Dalam penelusuran di Facebook Dewi, beberapa postingan yang diunggah menunjukkan konten dukungan terhadap pasangan kepala daerah DKI Jakarta terpilih Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Namun, polisi belum dapat menarik benang merah antara dukungan tersebut dengan suntikan dana ke Saracen.

Bersama sejumlah nama lain seperti Tetet Sito dan Gimi, Asma Dewi jadi pihak yang bisa dimintai informasi terkait Tamasya Al Maidah. Nama Dewi beserta nomor ponselnya juga tercantum dalam pamflet Tamasya Al Maidah yang tersebar di media sosial.

Sebagaimana diberitakan, penyebaran ujaran kebencian di media sosial ternyata dilakukan secara sengaja dan berbayar. Polisi berhasil mengungkap sindikat penyebar ujaran kebencian bernama “Saracen”.

Kepala Subdit I Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kombes Irwan Anwar menjelaskan terbongkarnya sindikat ini tidak direncanakan.

Kombes Irwan menceritakan pengungkapan Saracen bermula dari penangkapan tersangka Sri Rahayu Ningsin pada 5 Agustus lalu. Sri Rayahayu Ningsih menjadi tersangka karena melakukan penghinaan pada Presiden Jokowi.

Hingga saat ini diketahui jumlah akun yang tergabung dalam jaringan Grup Saracen lebih dari 800.000 akun.

--- Redem Kono

Komentar