Breaking News
  • Bos First Travel Andika Divonis 20 Tahun, Istrinya 18 Tahun
  • Dolar AS Melambung, Harga Premium dan Solar Tak Naik Tahun Ini
  • Hendropriyono: TNI/Polri Jangan Takut Tegakkan Hukum
  • JK: Eks Koruptor Dilarang Nyaleg Agar Wibawa DPR Baik
  • Jonan Targetkan Akuisisi Saham Freeport Rampung Juni

INTERNASIONAL Tanpa Teks, Menteri Susi Beri Kuliah Umum di NUPI Norwegia 08 Jun 2018 23:59

Article image
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti memberi kuliah umum di Norwegian Institute, Oslo (Foto: Kompas.com)
"Di Eropa atau Norwegia, illegal fishing mungkin hanya terkait dengan ikan. Di perairan Indonesia, hal itu bisa sekaligus menjadi pintu masuk bagi kejahatan trans-nasional, seperti narkoba, menggunakan jalur illegal fishing ini. Pasarnya jelas, Indonesia

OSLO, IndonesiaSatu.co-- Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti diminta memberi kuliah umum di Norwegian Institute of International Affairs (NUPI), Kamis (7/6/18) di sela-sela kunjungannya ke Norwegia.

Dilansir Kompas.com, kuliah umum yang berlangsung di pagi hari itu dibuka oleh Kepala Komunikasi NUPI, Asmund Weltzien dengan memaparkan fakta panjangnya garis pantai di Indonesia yang berada di posisi kedua di dunia dan menyebut sekitar 100 juta rakyat Indonesia yang hidup di sepanjang garis pantai itu. Sebelum Menteri Susi menyampaikan kuliah umum, Direktur Kebijakan Kementerian Perikanan Norwegia Gunnar Stolvik tampil dan menggarisbawahi upaya bersama Norwegia dan Indonesia dalam urusan perikanan dan perlawanan terhadap illegal fishing.

Menteri Susi kemudian tampil menyampaikan kuliah umum tanpa teks selama sekitar 1 jam dengan topik "Three Pillars of Fisheries Resources Management: Sovereignty, Sustainability and Prosperity." Seluruh peserta menyimak dengan antusias pemaparan yang dibantu tampilan di layar berisi data dan gambar pendukung.

Menteri Susi memaparkan awal perjalanannya di Kementerian Kelautan dan Perikanan yang tidak mudah. Namun, karena mendapat tugas Presiden Jokowi untuk menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia dan menjadikan laut sebagai masa depan Indonesia, Menteri Susi mencoba mewujudkannya dengan menyelesaikan masalah yang menjadi penghambat.

"Laut Indonesia sangat subur. Namun, karena pencurian ikan, penangkapan ikan tanpa pelaporan dan tanpa aturan, membuat kesuburan itu hilang," ujar Menteri Susi menyebut Illegal, Unreported and Unregulated Fishing (IUUF).

Menteri Susi lantas menjelaskan langkahnya membenahi pencurian ikan itu dengan menetapkan aturan sesuai Undang-Undang dengan penenggelaman kapal-kapal illegal di perairan Indonesia. Menurutnya, meskipun ditentang dari sejumlah pihak bahkan dari beberapa orang di dalam pemerintahan, Kementerian Kelautan dan Perikanan tetap konsisten, tanpa pandang bulu dan tanpa kompromi dalam menegakkan aturan.

“Dampaknya cukup terasa dengan peningkatan stok ikan tahun 2015 di angka 6,5 juta ton menjadi 12,5 juta ton di tahun 2016 . Tahun 2017, minimal angkanya 13 juta ton. Namun perbaikan kondisi dengan penegakan hukum yang terkenal dengan ungkapan "tenggelamkan" membuat para nelayan mudah mendapat ikan. Sejumlah jenis ikan yang beberapa tahun tidak dijumpai nelayan muncul lagi dan ukurannya besar. Namun sekali lagi, karena upaya keras Kementerian Kelautan dan Perikanan bersinggungan dan mengganggu kepentingan sejumlah pihak, upaya perbaikan yang terlihat dari data ini kerap diragukan,” ujar Menteri Susi.

Pada kesempatan itu, Menteri Perikanan Norwegia turut mengklarifikasi untuk beberapa isu perlawanan terhadap kebijakan pelarangan kapal-kapal asing beroperasi di perairan Indonesia dan penenggelaman kapal yang melakukan IUUF terus dilakukan pihak-pihak yang terganggu.

Menteri Susi mengapresiasi dukungan berbagai pihak termasuk Uni Eropa dan FAO untuk upaya perlawanan terhadap IUUF ini.

"Di Eropa atau Norwegia, illegal fishing mungkin hanya terkait dengan ikan. Di perairan Indonesia, hal itu bisa sekaligus menjadi pintu masuk bagi kejahatan trans-nasional. Tidak menutup kemungkinan peredaran obat-obatan terlarang seperti narkoba, menggunakan jalur illegal fishing ini. Pasarnya jelas, Indonesia ada sekitar 5 juta pengguna dan pencandu narkoba," kata Menteri Susi.

Dukungan kepada Menteri Susi diberikan oleh para peserta kuliah umum yang terungkap dalam sesi tanya jawab. Begitu kuliah umum berakhir, sambutan meriah berupa tepuk tangan dan antrean orang menyalami Menteri Susi terjadi.

Selain beberapa pejabat Kementerian Kelautan dan Perikanan, hadir dalam kuliah umum ini Duta Besar Indonesia untuk Norwegia, Todung Mulya Lubis.

Todung menyebut, kuliah umum Menteri Susi di NUPI merupakan kuliah umum perdana pejabat Indonesia. Menurut Todung, tidak sembarang orang atau pejabat diminta memberi kuliah umum di NUPI. Di antara sejumlah peserta dari berbagai negara, tampak hadir Duta Besar Thailand untuk Norwegia. Thailand adalah salah satu negara yang terdampak industri perikanannya karena penegakan hukum di Indonesia khususnya di lautan.

--- Guche Montero

Komentar