Breaking News

INTERNASIONAL Teladan Chiara Badano – Inspirasi Para Penderita (Kanker) 29 Oct 2019 13:14

Article image
Beata Chiara Luce Badano yang selalu tersenyum. (Foto: ist)
Dia mulai menjalani kemoterapi sambil meneruskan aktivitas hariannya dengan gembira dan penuh iman.

Oleh Simon Leya

 

GEREJA Katolik mendedikasikan tanggal 29 Oktober untuk menghormati Beata Chiara Luce Badano. Belum banyak umat Katolik mengenal Chiara Badano yang oleh Paus Benediktus XVI dianugerahi gelar Beata pada 25 September 2010 di Vatikan.

Andai diberi umur yang panjang, Chiara hari ini genap 48 tahun. Chiara meninggal pada usia menjelang 19 tahun akibat kanker tulang bahu. Gadis muda ini telah menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang karena menjalani penderitaan yang teramat sangat dengan senyum dan iman yang teguh kepada Yesus.

Sebelum menghembuskan nafas penghabisan, Chiara masih sempat berucap, “Jangan tangisi aku. Aku akan pergi kepada Yesus.”

Misa beatifikasi Chiara dihadiri lebih dari 25.000 umat dari 71 negara. Dalam homili, Paus Benediktus XVI mengatakan, Beata Chiara menjadi saksi bagi dunia bahwa kasih Tuhan lebih kuat dari penderitaan dan kematian. 

“Hanya Cinta (C dengan  huruf besar) memberikan kebahagiaan sejati,  dan itu yang telah Beata  Chiara tunjukkan kepada keluarga dan teman-temannya  di  Focolare,” kata paus sebagaimana ditulis Catholic News Service. Focolare adalah sebuah organisasi internasional yang mengampanyekan ide-ide  persatuan dan persaudaraan  universal.

Paus mengatakan, kaum muda dapat menemukan dalam diri Beata Chiara “sebuah contoh tentang keteguhan Kristiani.”  

“Kita memanjatkan pujian kepada Tuhan sebab cinta-Nya lebih kuat dari kejahatan dan kematian; dan kita berterima kasih kepada Bunda Maria yang menuntun kaum muda, bahkan di tengah kesulitan dan penderitaan, jatuh cinta kepada Yesus dan menemukan keindahan hidup,” kata paus.

Meskipun kedua kakinya lumpuh total, dia membagikan pengalaman iman dan cinta Tuhan kepada orang-orang yang datang menjenguknya setiap hari.  Pemberiannya yang terakhir adalah kornea (selaput mata) karena hanya kornea  itu yang tidak teridap kanker dan  ditransplantasikan kepada dua remaja yang sekarang sudah bisa melihat.

Orang tua Chiara,  Teresa dan Ruggero Badano hadir dalam perayaan beatifikasi. Kepada Radio Vatikan, ibundanya menuturkan, kerohanian Chiara tumbuh secara bertahap dan normal.

Ketika Chiara mulai jatuh sakit, kata sang bunda, “Dia mengajarkan kepada kami bagaimana menjalankan kehendak Tuhan, seperti yang sudah dia lakukan, sebab anda tidak hanya mengatakan ‘ya’ ketika segala sesuatu berlangsung baik-baik saja."

Usai misa beatifikasi, sekitar 8,000 orang muda anggota Focolare berkumpul di hall audiens Vatikan semalam suntuk untuk merayakan hari beatifikasi dengan membaca dan bernyanyi.

Para remaja Italia menyampaikan ucapan terima kasih kepada paus. Tapi paus sebaliknya menyampaikan terima kasih kepada mereka semua yang telah membuat kehidupan dan kesaksian Beata Chiara menjadi mungkin, demikian paus sebagaimana dilansir koran Vatikan, L'Osservatore Romano.

Ayah Chiara mengungkapkan, pemberian gelar beata kepada putri tunggal mereka telah memberi mereka pengalaman langsung akan cinta Tuhan. Semenjak kanak-kanak, Chiara menunjukkan cinta yang dalam kepada Tuhan. Dia anak yang patuh,  begitu periang, baik, dan sangat aktif.

 

Focolare - Biarawati

Chiara lahir pada 29 Oktober 1971 di Sassano, Italia. Terlahir sebagai putri tunggal, Chiara hadir di tengah keluarga Badano setelah penantian selama 10 tahun. Dalam sebuah wawancara dengan media Inggris, Daily Mail lima tahun lalu, sang bunda menuturkan, dua moment yang tak dapat dia lukiskan dengan kata-kata.

“Pertama adalah kegembiraan yang saya rasakan ketika Chiara lahir.”

“Dan yang lain adalah kesedihan yang saya rasakan ketika dia meninggal. Tidak ada kata-kata yang dapat melukiskan pengalaman ini,” tuturnya.

Pada umur sembilan tahun Chiara bergabung dalam gerakan Focolare. Chiara memiliki banyak teman dan menyukai olahraga, terutama tenis, renang dan hiking. Pada umur 16 tahun dia memutuskan menjadi biarawati. Tapi cita-citanya kandas, karena tidak lama kemudian dia didiagnosa mengidap kanker pada bahunya.

Dia mulai menjalani kemoterapi sambil meneruskan aktivitas hariannya dengan gembira dan penuh iman. Dia menyumbangkan seluruh tabungannya kepada seorang temannya yang terus menjadi biarawati dan bertugas di Afrika.

Meskipun segala upaya medis sudah dilakukan, penyakitnya terus menggerogotinya dan dia kehilangan fungsi kedua kakinya.

“Jika saya harus memilih antara berjalan atau pergi ke surga, saya akan memilih surga,” kata Chiara kepada keluarganya.

Pada suatu malam ketika dia mengalami sakit yang luar biasa, Chiara masih bisa berkata, “Saya menderita, tapi jiwa saya bernyanyi.”

Pada Juli 1989 dia mengalami pendarahan hebat dan kematian tampak semakin dekat. Kepada orangtuanya gadis cantik itu berkata, “Jangan tangisi aku. Aku akan pergi kepada Yesus. Saya tidak mau ada yang menangis pada hari pemakamanku, lebih baik menyanyi dengan sekuat tenaga.”

Di atas tempat tidurnya, Chiara berdoa mohon kekuatan untuk menjalani rencana Tuhan.

"Saya tidak minta Yesus datang untuk membawa saya ke surga. Saya tidak ingin memberi-Nya kesan bahwa saya tidak mau menderita,” katanya. Dia minta ibunya untuk membantu persiapan pemakamannya dengan mengenakan gaun pesta.

Dia bahkan memberikan instruksi yang sangat detail kepada ibunya tentang gaun, musik, karangan bunga, nyanyian dan bacaan saat pemakaman. Dia minta ibunya untuk mengulangi kata-kata, “Sekarang Chiara, pergilah kepada Yesus,” bila dia wafat nanti.

Chiara meninggal pada 7 Oktober 1990 disaksikan kedua orangtuanya. Teman-temannya berkumpul di luar pintu. Dan ini kata-kata terakhirnya, “Selamat tinggal, berbahagialah karena saya bahagia.” Sekitar 2000 orang menghadiri acara pemakamannya.

Proses pemberian gelar beata kepada Chiara dimulai pada tahun 1999. Alasan pemberian gelar beata didasarkan pada jalan hidup, terutama contoh yang luar biasa yang telah diberikan selama saat-saat  terakhir hidupnya.

Kehidupan Chiara penuh senyum. Ketika ajal menjemput dia masih tersenyum.

Komentar