Breaking News

OPINI Tentang Komodo Jurasic Park dan Orisinalitas Budaya 08 Nov 2020 13:15

Article image
Pada prinsipnya, desain model apapun harus berdasarkan riset soal Komodo dan soal prinsip konservasinya.

Oleh: Ignas Iryanto*

 

Wacana Komoda Jurasic Park yang tengah ramai diperbincangkan di ruang-ruang publik dan media sosial, menyedot perhatian berbagai elemen yang juga menaruh perhatian terhadap Pariwisata Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo yang ada di Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menyoal wacana pembangunan Jurasic Park sebagai implementasi dari kebijakan konservasi di TN Komodo, terdapat argumentasi pencerahan terkait dampak Jurasic Park terhadap orisinalitas Budaya (habitat Komodo).

Di manakah ada bangunan modern yang menjadi bagian dari upaya konservasi hewan langka di dunia ini? 

Seluruh lokasi di Afrika (sejauh yang saya tahu), dipertahankan habitat aslinya. Bangunan yang dibuat sangat minim dan umumnya tidak untuk ditempati. 

Di Serawak, Malaysia, misalnya, ada lokasi konservasi untuk bekantan, juga sama prinsipnya. Sebagai obyek wisata, menjadi prioritas kesekian dan aspek aspek keselamatan menyesesuikan diri dengan prinsip konservasi.

Ketika bergabung dalam team kecil mendampingi dua remaja puteri yang ingin mengembangkan konservasi bekantan di Kalimantan Selatan (Kalsel), justru yang dilakukan hanya sebatas mengamankan pasokan makanan bagi bekantan di Habitatnya, dengan menanam tanaman khusus yang diketahui menjadi makanan Bekantan tersebut. 

Bekantan yang sudah dipelihara mayarakat di rumah, dibeli lagi dan dilakukan proses adaptasi sebelum dilepas kembali ke habitat tersebut. Tidak ada desain bangunan modern apapun di kawasan itu.

Demikian pula Yayasan Samboja yang melakukan upaya konservasi Orang Utan dan Beruang Madu di Kalimantan Timur (Kaltim). Prinsip yang sama juga dipakai. Mereka malah membuat semacam "sekolah" buat Orang Utan dan Beruang Madu agar di lokasi "sekolah" tersebut, kedua hewan tersebut dapat dipersiapkan untuk hidup lagi di alam lepas, pada habitatnya yang sesungguhnya.

Kondisi di kawassan "sekolah" itu malah dibuat agar sangat mirip dengan kondisi di alam asli.

Ketika ke Langkawi Malaysia, ada kawasan konservasi burung rajawali, yang dilakukan hanyalah menjaga kawasan itu agar tetap asli, tidk ada perburuan atau penembakan, dan lain-lain.

Sebagai obyek wisata, hanya disiapkan speed boat yang melintasi kawasan itu yang kadang-kadang berhenti di titik tertentu dan menikmati kawanan burung rajawali itu terbang rendah sekali, baik sendiri maupun dengan pasangannya. Beruntung, saya bersama isteri dan ibu Okty bersama suaminya, sempat menikmati kawasan ini.

Jika dibangun secara modern, biasanya itu merupakan penangkaran. Misalnya penangkaran buaya di pinggiran kota Balikpapan. Di sana Buaya dipelihara, wisatawan bisa datang berkunjung dan buaya-buaya ini dipelihara untuk kemudian dibunuh untuk diambil kulitnya.

Lalu apa yang mau dibangun di kawasan Komodo, khususnya Pulau Rinca?

Banyak yang sudah protes serta mengajukan keberatan. Para penguasa (NTT maupun Pusat) bertahan dengan alasan keselamatan pengunjung, kenyamanan pengunjung dan bahkan berkali-kali bersumpah bahwa habitatnya akan terjaga. Ingat, habitat komodo itu alam aslinya. Jika ingin membangun berbagai bangunan modern, dengan gedung dan jalan beton, dengan taman segala, maka hal itu bukan membuat bagus habitatnya, justru sebaliknya merusak habitatnya. 

Sebab, inti dari konservasi bukan kenyamanan bagi pengunjung, namun kenyamanan bagi Komodo. Dan itu tidak lain adalah konservasi habitat aslinya.

Janganlah bersikap sama seperti orang dalam kisah spiritual dari Antony de Mello SJ, yang ingin menyelamatkan ikan dari bahaya tenggelam dan mengambilnya dari dalam air dan meletakannya ke tanah.

Lalu bagaimana? Tidak cukup hanya dengan kritik.

Pada prinsipnya, desain model apapun harus berdasarkan riset soal Komodo dan soal prinsip konservasinya. Itu dulu. 

Siapa ahli mengenai Komodo yang dilibatkan dalam desain ini? Sejauh yang saya tahu, walaupun Komodo berada di Indonesia, ahli-ahli tentang Komodo berasal dari negara lain. Mereka tentu bisa digerakan oleh UNESCO, jika Unesco dilibatkan secara siginifikan dalam desain ini. 

Atau dapat mendalami kajian Servas Pandur (putra asli Manggarai) yang memiliki paper lengkap tentang ini sebagai referensi.

Secara prinsip common sense, dengan logika sederhana saya (yang bukan ahli Komodo), terdapat beberapa prinsip dasar sebagai berikut:

Pertama, utamakan konservasi.

Bagaimana sustainabilitas dari supply makanan buat komodo-komodo ini? Apa yang dimakannya? Cukupkah tersedia dihabitatnya? Bagaimana menambah jumlahnya?

Sempat diberitakan bahwa kawanan rusa di pulau tersebut mestinya menjadi makanan utama dari Komodo.

Bagaimana meningkatkan populasi rusa di sana? Apakah perlu mendatangkan bibit rusa beberapa puluh pasang di sana? 

Selain itu, sempat pula diberitakan bahwa sering terjadi perburuan rusa di pulau rinca oleh nelayan-nelayan dari luar NTT. Bagaimana ini dapat ditangani? Juga supply makanan buat kawanan rusa tersebut juga mesti dipikirkan, ketersedian rumput di padang padang di sana, dan lain-lain.

Dari data mengenai komodo, disebutkan bahwa hewan ini mampu berenang. Apakah selama 10 tahun terakhir terjadi perpindahan komodo antar pulau-pulau di kawasan tersebut? Jika dimungkinkan, ini sebaiknya dicegah. Jika habitat yang disiapkan hanya di dua pulau (Rinca dan Komodo), maka perlu dipikirkan cara agar komodo-komodo itu tidak akan sampai ke pantai dan berenang ke pulau terdekat. Ini juga akan membahayakan keselamatan para wisatawan.

Berapa jumlah populasi komodo di dua pulau itu? Bagaimana populasi ini bisa dikontrol terus? Apakah diperlukan dipasang mini transmitter di tubuh komodo yang sekarang hidup agar kondisinya dapat dideteksi terus? Juga untuk mengecek adanya kelahiran komodo baru maupun kematiannya.

Itu hal-hal yang datang begitu saja secara common sense, jika bicara mengenai konservasi, yang seharusnya menjadi yang utama. Namun tentu saja yang benar adalah berpijak pada hasil riset.

Wilayah Kaltim sempat bangga dengan adanya pesut mahakam, satu-satunya lumba-lumba yang hidup di air tawar. Apakah spesies ini masih ada?

Saya tidak tahu namun berita mengenai spesies ini sudah jarang terdengar. Apakah sudah punah? Walahu alam.

Kita harus menjaga agar Komodo, yang merupakan satu-satunya spesies sejenis di muka bumi ini, tidak punah karena sikap ngawur kita saat ini. Itu dosa yg tidak terampuni.

Kedua, soal Wisata.

Jika persoalan konservasi sudah jelas desain dan planningnya, baru dipikirkan bagaimana komodo itu dapat dinikmati oleh para wisatawan.

Pertanyaannya, apakah para wisatawan harus masuk ke pulau itu? Apalagi masuk dan menetap serta menikmati sajian di sekitar objek wisata.

Ada beberapa alternatif sebenarnya. Di titik-titik tertentu, (sebaiknya dekat pantai) bisa saja terpadu dengan sistem perlindungan agar komodo tidak sampai ke pantai dan berenang ke pulau tetangga.

Juga di titik-titik tertentu dibangun menara-menara pengamatan dengan teropong khusus. Orang bisa antri di sana, atau yang agak mahal, siapkan helicopter dan nikmati dari atas.

Jangan pikirkan taman yang indah di mana turis jalan-jalan di situ, ada cafe, hotel atau apalagi yang disiapkan di sana.

Tujuan wisatawan yakni hanya untuk melihat Komodo di Habitat aslinya.

Saya hanyalah warga negara yg terdorong untuk memberikan opini, siapa tahu bisa dipertimbangkan. 

Sebagai pimpinan daerah apalagi pimpinan negara, tanggung jawab yang ada di pundak bukan hanya terhadap penduduk (masyarakat), namun juga terhadap alam; baik yg biotik maupun abiotik, baik flora dan fauna. Semoga tidak dilupakan.

Catatan soal Premium dan Super Premium

Saya barusan menonton suatu video dari aktivis pariwisata senior di Flores. Rekan ini bernama Heribertus Ajo (kalau tidak salah ingat). Dia telah menjadi guide di seluruh kawasan Flores selama 30 tahun dan menjadi saksi langsung bagaimana perkembangan dunia wisata di Flores selama 3 dasawarsa tersebut.

Dari isi video, semuanya menarik dan benar, fakta dan opininya yang disampaikan dengan sangat santun dan rendah hati. Namun hanya satu opininya yang ingin saya angkat di sini, yaitu bahwa Premium dan Super-premium dari wisata di Flores (bukan hanya Labuan Bajo) justru terletak pada orisinalitas budaya, keaslian alam serta karakter Flores yang serba terbuka dalam menerima pendatang (wisatawan).

Di sanalah terletak daya tarik sesungguhnya sehingga kesan tentang Flores bertahan terus walaupun orang harus bersusah payah untuk bisa datang kembali ke sana. Bukan terletak pada modernitas bangunan dan lain-lain. Bukankah modernitas bangunan itu bisa didapatkan di mana saja di dunia ini?

Keliru sekali jika meletakkan level premium dan super-premium itu dalam kemewahan fasilitas dan infratruktur. Apalagi jika untuk itu, anda mengorbankan originalitas habitat, alam dan budaya serta karakter manusianya.

Saya setuju dengan opini ini. Teman-teman silakan cari video itu dan tontonlah!

Salam dari Muara Tuhup (masih karantina).

 

 *Penulis adalah intelektual dan salah satu tokoh asal NTT dari paguyuban "Aspirasi Indonesia" (AI)

--- Guche Montero

Komentar