Breaking News
  • Bos First Travel Andika Divonis 20 Tahun, Istrinya 18 Tahun
  • Dolar AS Melambung, Harga Premium dan Solar Tak Naik Tahun Ini
  • Hendropriyono: TNI/Polri Jangan Takut Tegakkan Hukum
  • JK: Eks Koruptor Dilarang Nyaleg Agar Wibawa DPR Baik
  • Jonan Targetkan Akuisisi Saham Freeport Rampung Juni

REGIONAL Terjebak Senja di Puncak “Tiwu Sora” 09 May 2018 15:48

Article image
Orang Muda Wolowaru, Ende berfoto bersama di Danau 'Tiwu Sora' (Foto: Che)
“Apa pun yang terjadi, tujuan perjalanan kita yakni ‘Tiwu Sora’. Ini hanya refreshing Hari Minggu,” kata Pastor Laurens meyakinkan rombongan OMK.

ENDE, IndonesiaSatu.co-- Danau ‘tiga warna’ Kelimutu yang terletak di kecamatan Kelimutu, kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah menjadi salah satu destinasi wisata yang mendunia. Gairah wisatawan, baik domestik maupun manca Negara terus meningkat dari tahun ke tahun. Danau Kelimutu menjadi salah satu daya tarik wisata dari sekian destinasi wisata yang ada di Flores, NTT.

Meski demikian, Danau Kelimutu bukan satu-satunya objek wisata yang ada di wilayah kabupaten Ende. Begitu banyak kandungan potensi wisata yang ada di rahim kota sejarah tersebut yang belum dioptimalkan sebagai peluang destinasi jangka panjang.

Danau “Tiwu Sora” yang terletak di desa Deturia, kecamatan Kotabaru, Ende, merupakan salah satu potensi destinasi yang belum dijamah, natural dan mengandung daya magis. Tak luput dari cerita historis para orang tua yang menuturkan asal-muasal terjadinya “Tiwu Sora” tersebut.

Minggu, akhir April 2018. Sebuah perjalanan dengan cerita melelahkan hingga terjebak senja di tengah perjalanan pulang. Puluhan Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Hati Amat Kudus Wolowaru bersama Pastor muda selaku moderator, Pater Laurens Woda, bertaruh nyali dalam misi yang awalnya hanya agenda refreshing ini.

“Apa pun yang terjadi, tujuan perjalanan kita yakni ‘Tiwu Sora’. Ini hanya refreshing Hari Minggu,” kata Pastor Laurens meyakinkan rombongan OMK.

Menempuh perjalanan dengan menggunakan sepeda motor, layaknya para petualang, para anak muda ini menyusuri setiap bukti dan lembah, melalui jalur lintasan daerah Peibenga dan Ratenggoji. Puluhan kilometer ditempuh dengan rasa penasaran dan ingin tahu. Tidak ada ekspresi putus asa, lelah, apalagi menyerah. Semua antusias dengan satu misi final; melihat “Tiwu Sora”

Tantangan medan berat

Setelah melewati daerah Peibenga, tantangan medan berat mulai menguji nyali para pengendara. Ruas jalan yang berbatu-batu, jalan tanah, tebing dan jurang serta tumpukan material longsor yang menutupi seluruh ruas jalan, tidak menyurutkan semangat anak-anak muda. Semua tetap pada rombongan.

Beberapa titik ruas jalan yang hanya layak dengan berjalan kaki, hampir memupus harapan. Beberapa pengendara yang belum biasa menghadapi medan berat seperti itu, mulai ciut. Namun titik demi titik dilalui meski sebagian orang harus menahan nafas. Tumpukan longsor yang menutupi seluruh ruas jalan sama sekali tak tersentuh alat berat. Beberapa kampung yang dilewati masih menampakkan wajah orang-orang terisolir, jauh dari akses yang layak.

Dengan persiapan bekal perjalanan seadanya, rombongan beristirahat sejenak sambil menikmati bekal yang dibawa. Satu titik medan berat dilewati. Pukul 14.30, perjalanan dilanjutkan dengan masih menyusuri medan berat yang semuanya masih jalan tanah. Jalan rabat sama sekali tak tampak, apalagi aspal.

“Danau ‘Tiwu Sora’ dikenal magis. Ada sejarahnya. Konon, dahulu tempat itu merupakan pelataran adat (hanga) yang digunakan pada setiap ritual adat (nggua). Ada sebuah kejadian di mana pada saat itu, warga kampung mendapatkan seekor belut dari hasil jerat. Anehnya, belut itu justru didapat melalui jerat. Padahal, warga kampung saat itu mengeluh binatang hutan (babi hutan, landak) yang memakan tanaman mereka. Karena merasa aneh, para tua adat (mosalaki) lalu mengundang seluruh warga kampung untuk menari tandak (gawi) di hanga sambil menancap belut itu di tengah-tengah hanga  yang oleh warga disebut batu mesbah (musu mase). Pada saat gawi berlangsung, air mulai keluar dari bawah dan mengitari para mosalaki yang sedang menari gawi. Saking asyik menari, air semakin tinggi lalu menutupi semua yang ada di hanga tersebut. Tempat itu lalu menjadi danau sampai sekarang,” kisah Bapak Markus Woda saat ditemui di tengah perjalanan.

Menurut Bapak Markus, nama ‘Tiwu Sora’ karena danau itu terus melebar dari waktu ke waktu. Setiap tepi danau merupakan daerah rawa-rawa sehingga rentan untuk berubah menjadi danau.

“Karena kalian jalan dengan rombongan, maka jangan ada yang jalan terpisah sampai tiba di danau. Kalau mau mengambil gambar, pastikan bahwa tempat yang diinjak tidak rawa-rawa karena bisa berakibat fatal. Kalau sudah tenggelam ke danau, susah untuk keluar lagi. Tetap hati-hati,” kata Bapak Markus mengingatkan.

Masih dengan rasa penasaran, pukul 16.30, rombongan tiba di kaki bukit “Tiwu Sora”. Rona senja di ufuk Barat juga tampak samar-samar sebelum kaki melangkah menuju puncak Danau. Dengan semangat yang sudah terkuras, rombongan dibantu dua orang warga asli kampung Deturia yang memandu perjalanan menuju Danau yang dikenal magis ini.

“Semua tetap dengan rombongan. Jangan ada yang terpisah, tidak boleh berteriak atau bersenang-senang secara berlebihan. Tempat ini dikenal sakral dan magis apalagi kalian baru datang ke tempat ini,” pesan Eddy, salah seorang pemandu.

Keindahan yang Sakral  

Cerita perjalanan yang begitu melelahkan terbayar tuntas, meski tidak lama menikmati keindahan danau ‘Tiwu Sora’. Aura natural-magis begitu terasa. Keindahan yang terselubung dengan daya sakral yang sama sekali belum dijamah, jadi pertanyaan di balik jawaban (keindahan) yang ada di depan mata. Sunyi, hening, magis.

“Semua masih alami, natural. Sangat terasa aura sakral dan magisnya. Beda sekali dengan danau Kelimutu yang sekarang meski sudah jadi destinasi dunia namun kesan magisnya tidak lagi terasa. Ini pengalaman menantang namun menarik sehingga selalu diingat,” kesan Reinha, Nifa dan Lia.

Cerita kembali berlanjut saat menempuh perjalanan pulang. Pukul 21.30, rombongan anak-anak muda berangkat dari kampung Deturia. Namun, bukannya mengikuti jalur saat datang, rombongan memilih pulang melalui jalur Hangalande hingga Kotabaru. Meski tidak separah medan saat datang, namun tantangan dan hambatan perjalanan sering terjadi selama perjalanan pulang. Senyum puas akhirnya pecah saat langkah tualang anak muda kembali tiba di Wolowaru.

“Ini pengalaman pertama yang tidak mungkin kami lupakan. Semua tenaga yang terkuras selama perjalanan akhirnya terjawab dengan keindahan alam danau ‘Tiwu Sora’. Medan yang berat ternyata bukan hambatan. Niat dan kekompakan tim menjadi spirit perjalanan,” kesan Ardo, Ixes, Remond dan Poll.

Harapan orang kampung

Di balik wajah orang-rang kampung yang hanya sibuk dengan rutinitas harian mereka di kebun dan ladang, tersirat harapan di masa mendatang. Harapan akan pembangunan, harapan akan penerangan, harapan akan pendidikan, harapan akan kesejahteraan.

“Kami sudah biasa Pak dengan kondisi seperti ini. Jalan masih tanah, listrik apalagi. Pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan, menjadi harapan kami ke depan. Kami hanya orang kampung, petani kecil, masyarakat biasa yang hampir tidak pernah merasakan apa yang menjadi harapan kami. Mungkin kondisi seperti ini sudah menjadi nasib kami orang kecil,” ungkap seorang ibu yang mengaku rumahnya masih seperti pondok kecil di tengah kebun.

--- Guche Montero

Komentar