Breaking News

HANKAM Terkait Gejolak Papua, SOLID Papua Harapkan Pendekatan Persuasif dan Kasih 09 Sep 2019 12:56

Article image
Aliansi Masyarakat Indonesia Timur suarakan dukungan Papua tetap bagian NKRI (Foto: Liputan6.com)
Papua adalah NKRI, sehingga harus diperlakukan seperti sesama anak bangsa yang harus dilindungi dan diayomi.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Solidaritas Indonesia untuk Keadilan dan Perdamaian Papua (SOLID Papua) turut menanggapi situasi dalam negeri terutama gejolak gerakan demonstrasi di sejumlah tempat di Papua, Surabaya, Malang, bahkan Jakarta.

Melalui keterangan pers yang diterima media ini, Minggu (8/9/19), Koordinator SOLID Papua, Gabriel Goa menyatakan sikap terkait pendekatan penanganan terhadap gejolak di Papua.

Menurut Gabriel, pemicu pernyataan rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya sehingga menimbulkan berbagai gerakan demonstrasi, ibarat 'asap api' yang mengepul ke permukaan. Sehingga, upaya Pemerintah melalui alat negara (Polri-TNI), tidak semata 'memadamkan asap' melainkan harus mengetahui sumber 'asap' yang sebenarnya.

"Persoalan HAM (rasisme, red) sudah sangat riskan terjadi di negeri ini. Namun, untuk konteks Papua, pemerintah harus bijaksana dalam bersikap agar tidak menimbulkan dampak yang lebih buruk. Tuntutan keadilan dan perdamaian di Papua telah menjadi sorotan nasional bahkan dunia internasional. Maka perlu pendekatan yang bijaksana dalam meredam gejolak tuntutan di Papua," ungkap Gabriel.

Terpanggil menegakkan keadilan dan perdamaian di bumi Cendrawasih, kata Gabriel, SOLID Papua menyatakan sikap sebagai bentuk tuntutan dan desakan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait Papua.

Pertama, Presiden Jokowi melalui alat keamanan negara, tidak mengedepankan pendekatan keamanan (security approach) untuk Papua, tetapi pendekatan kultural dan persuasif sesuai karakteristik Papua, baik Peace Building dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) Papua maupun pemberdayaan ekonomi masyarakat Papua.

Kedua, mendesak Presiden Jokowi untuk melakukan pendekatan Kasih, pantang kekerasan terhadap masyarakat Papua dan stop berwacana dengan dalil menghargai harkat dan martabat orang Papua, pantang diskriminatif terhadap orang Papua.

Gabriel beralasan, tipikal orang Papua dan Indonesia Timur pada umumnya, tidak suka berbasa-basi, tetapi terbuka dan blak-blakan.

Ketiga, SOLID Papua mengajak lembaga Agama, Masyarakat serta Pers mengawasi bersama kinerja TNI dan Polri agar tidak mengulangi kembali pendekatan keamanan (security approach) seperti yang terjadi dengan Timor Timur yang akhirnya memisahkan diri dari NKRI menjadi Negara Republik Demokratik Timor Leste.

"Kita perlu belajar dari pengalaman sejarah soal keutuhan NKRI dan pendekatan penyelesaian gejolak yang terjadi dalam negeri. Papua adalah NKRI, sehingga harus diperlakukan seperti sesama anak bangsa yang harus dilindungi dan diayomi saat menuntut hak-hak lewat aspirasi mereka," imbuhnya.

Ia menegaskan bahwa pendekatan kultural dan persuasif menjadi langkah bijak daripada pendekatan keamanan yang berpotensi represif.

--- Guche Montero

Komentar