Breaking News

BUDAYA Terkait Kasus Pencurian Gading di Sikka, Petrus Selestinus: Pemda Harus Proaktif Bersama Polisi 16 Apr 2020 19:13

Article image
Koordinator TPDI dan sesepuh asal Sikka, Petrus Selestinus. (Foto: Ist)
"Model kasus seperti ini sudah termasuk dalam sindikat penampung benda-benda purbakala yang berpotensi merusak nilai dan kearifan budaya masyarakat Sikka. Budaya adalah jati diri dan identitas yang harus dijaga dan dilestarikan," kata Petrus.

MAUMERE, IndonesiaSatu.co-- Kasus pencurian dan penadahan aset berharga (gading) milik salah satu Suku (Lepo) di Dusun Hewokloang, Kabupaten Sikka pada tanggal 13 Desember 2019 silam yang ditangani Polres Sikka, akhirnya berhasil terungkap dengan membekuk para pelaku pencurian termasuk pihak penadah, modus operandi dan motifnya.

"Meskipun belum semua pelaku ditangkap, namun kerja keras Polres Sikka patut diapresiasi. Karena keberhasilan Polres Sikka merupakan kabar baik bagi Lepo pemilik gading dan bagi Pemda Sikka, yang memiliki tanggung jawab terhadap pelestarian Gading dan benda-benda adat budaya lainnya, yang nampak diabaikan," ungkap Petrus Selestinus kepada media ini, Kamis (16/4/20).

Menurut Petrus, masyarakat dan para pemerhati budaya Sikka berharap agar penanganan kasus pencurian gading harus menjadi momentum bagi Pemda Sikka dan Polri untuk bersinergi memberikan perlindungan dan pemeliharaan maksimal terhadap semua objek Pemajuan Kebudayaan di Sikka yang selama ini tidak dikelola secara optimal.

"Tugas memelihara adat dan budaya merupakan kewajiban konstitusional bagi pemerintah dan masyarakat. Ini bukan tugas yang bersifat fakultatif, sehingga semua pihak harus turun tangan agar kasus-kasus pencurian gading yang akhir-akhir ini marak terjadi, dapat dihentikan dan tidak berdaya rusak terhadap kelangsungan ekosistem kebudayaan Sikka," nilainya.

Objek Pemajuan Kebudayaan

Menurut salah satu sesepuh asal Sikka ini, penangan kasus pencurian gading yang terjadi di Dusun Hewokloang, tidak dipandang sebagai kasus pencurian biasa yakni hanya dengan menangkap lalu mengadili pelakunya. 

"Yang urgen adalah bagaimana sinergi antara Polisi, Pemda dan Masyarakat Sikka untuk melakukan langkah-langkah penyelamatan. Sebab, gading menjadi salah satu aset berharga dan objek pemajuan kebudayaan Sikka," imbuhnya.

Dengan demikian, Koordinatir TPDI ini beralasan, penyidikan kasus pencurian dan penadahan gading, harus mempertimbangkan semangat dan nilai-nilai historis, filosofis dan yuridis, yang terkandung dalam pembentukan UU Nomor 5 Tahun 2017. Artinya, dalam strata sosial budaya Sikka, gading menjadi unsur penting dalam ekosistem kebudayaan masyarakat Sikka, Maumere.

"Karena itu, sukses Polres Sikka dalam mengungkap kejahatan pencurian dan penadahan gading, harus dijadikan momentum bagi Pemda dan masyarakat Sikka, untuk bahu-membahu membantu Polres Sikka dalam mengungkap tuntas sindikat pelaku pencurian dan penadah gading," imbau Petrus.

Bentuk Tim Bersama

Dalam mengungkap kejahatan pencurian gading tersebut, pemerhati sosial-budaya NTT ini mengharapkan agar Kapolres Sikka membentuk “Tim Sapurata" guna mengungkap sindikat pencurian dan penadahan gading, juga Pemda Sikka perlu membentuk “Tim Khusus” yang disinergikan dengan Polres Sikka untuk kepentingan ke depan.

"Kerjasama dan sinergitas Tim bentukan Kapolres dan Pemda, diyakini menjadi gebrakan baru dalam upaya pemajuan kebudayaan Sikka, baik dengan mendata semua gading dan benda-benda lain yang bernilai budaya agar memberikan perlindungan khusus terhadap kelestariannya," sarannya.

Petrus menandaskan bahwa kasus pencurian dan penadahan gading harus menjadi catatan kritis bagi Pemda dan Masyarakat Sikka.

"Model kasus seperti ini sudah termasuk dalam sindikat penampung benda-benda purbakala yang berpotensi merusak nilai dan kearifan budaya masyarakat Sikka. Budaya adalah jati diri dan identitas yang harus dijaga dan dilestarikan," pungkasnya.

--- Guche Montero

Komentar