Breaking News

HUKUM Terkait Pemberitaan Vox NTT, PADMA Indonesia Layangkan Hak Koreksi dan Hak Jawab 16 Sep 2020 16:23

Article image
Kepala Divisi Hukum Lembaga Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian (PADMA) Indonesia, Paulus G. Kune, SH. (Foto: Dokpri PGK)
Segera mengoreksi judul pemberitaan Vox NTT tanggal 1 September 2020 karena pemberitaan tersebut telah merugikan nama baik; baik pribadi, keluarga dan usaha Toko Aneka Jaya.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Lembaga Hukum dan HAM, Pelayanan Advokasi Untuk Keadilan dan Perdamaian (PADMA) Indonesia melayangkan Hak Koreksi dan Hak Jawab atas Pemberitaan media online Vox NTT pada tanggal 1 September 2020 dengan juduI: "Setelah Penjarakan Ayahnya, Kini Pemilik Toko Aneka Jaya Bajawa Polisikan Yohanes Lusi" melalui Surat dengan Nomor : 51/P1-ADV/ IX/2020.

Kepala Divisi Hukum PADMA Indonesia, Paulus G. Kune, SH, kepada media ini, Rabu (16/9/2020) mengatakan bahwa PADMA bertindak untuk dan atas nama klien, Eufrasia Sito Lay terkait Pemberitaan media online Vox NTT tanggal 1 September, memberikan tanggapan kepada Redaksi Vox NTT sebagai berikut:

Pertama, bahwa judul pemberitaan Vox NTT tanggal 1 September 2020 tersebut, melalui penulis Patrick Romeo Djawa dan Editor Yohanes, telah membentuk dan menggiring opini publik untuk percaya bahwa kasus tersebut merupakan peristiwa yang saling terkait dan adanya kelanjutan perisitiwa sebelumnya. Hal tersebut dapat dilihat dari kata 'Setelah.. (dan seterusnya). Kini..(dan seterusnya)' dalam judul tersebut. 

Faktanya, dua kasus tersebut tidak ada kaitan satu sama lain. 

Selain itu, Terungkap Terlapor kasus penyuapan atas nama Nikolaus Sedhu, sedangkan Laporan polisi oleh Ibu Eufrasia S. Lay merupakan kasus pencemaran nama baik, kabar bohong dan pemfitnahan di media sosial (medsos), dengan Terlapor akun Facebook (Fb) Juand Fernando Mmc. Sehingga apa yang diberitakan oleh Penulis Patrick Romeo Djawa dan Editor Yohanes terlalu dini dan terlalu dipaksakan untuk menyimpulkan sebuah opini dalam bentuk judul pemberitaan Vox NTT tanggal 1 September 2020 tersebut.

Kedua, bahwa dalam salah satu alinea dari pemberitaan Vox NTT tanggal 1 September 2020 tersebut, tertera: "Persoalan antara keuarga (maksudnya keluarga, red) Nikolaus dengan Toko Aneka Jaya tak sampai di situ. Dua tahun setelah kematiannya, muncul masalah baru, kali ini Toko Aneka Jaya mempolisikan Yohanes Lusi."

Penulis Patrick Romeo Djawa dan Editor Yohanes dari Vox NTT kembali membentuk opini publik di antaranya: Pertama, persoalan tersebut sebagai sebuah rangkaian perstiwa yang saling terkait dan adanya kelanjutan peristiwa. Hal ini ditunjukan dengan kalimat: "Persoalan antara keluarga... tak sampai di situ.. dua tahun setelah kematiannya, mucul masalah baru, kali ini.. " Kedua, Penulis dan Editor menaikkan persoalan tersebut bukan persoalan orang perorangan, melainkan sebagai persoalan keluarga Nikolaus Sedhu dengan Toko Aneka Jaya. 

Hal itu dapat dilihat dari kalimat: "Persoalan antara keluarga Nikolaus dengan Toko Aneka Jaya Faktanya adalah kasus penyuapan yang melibatkan Nikolaus secara pribadi dan kasus pencemaran nama baik yang melibatkan akun Facebook Juand Femando Mmc. Sehingga alinea tersebut menimbulkan kesan terlalu tendensius dan jauh dari peranan seorang wartawan/jurnalis, yang mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan benar (Pasal 6 butir c, UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers).

Ketiga, bahwa terdapat alinea yang berbunyi "Selain Yohanes, Toko Aneka Jaya juga melaporkan tiga pemilik akun Facebook lainnya karena berlaku rasis dan fitnah melalui tulisan di kolom komentar. Mereka dipolisikan setelah mengabaikan waktu empat hari untuk klarifikasi langsung dan menempuh jalur damai dengannya."

Penulis Patrick Romeo Djawa dan Editor Yohanes memberitakan selain Yohanes, Toko Aneka Jaya melaporkan tiga pemilik akun Facebook lainnya. 

Faktanya, Toko Aneka Jaya sebagai perusahaan dagang/manajemen, tidak pernah melaporkan Yohanes dan tiga pemilik akun Facebook. Yang benar adalah Ibu Eufrasia S. Lay melaporkan akun Facebook Juand Fernando Mmc, dkk, karena Ibu Eufrasia S.Lay tidak mengetahui pemilik akun Facebook tersebut.

Berkenaan dengan hal-hal di atas, PADMA Indonesia menegaskan bahwa pemberitaan media online Vox NTT tanggal 1 September 2020, dengan judul "Setelah Penjarakan Ayahnya, Kini Pemilik Toko Aneka Jaya Bajawa Polisikan Yohanes Lusi", bertentangan dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, khusus Pasal 7 ayat 2 yang berbunyi: Wartawan memiliki dan menaati Kode Etik Jurnalistik.

Bahwa dalam Pasal 1 menyatakan Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang dan tidak beritikat buruk. Tidak beritikat buruk berarti tidak ada niat secara sengaja dan semata-mata untuk menimbulkan kerugian pihak lain.

Oleh karena itu, PADMA Indonesia menyatakan kepada Redaksi media Vox NTT, sebagai berikut:

Pertama: segera mengoreksi judul pemberitaan Vox NTT tanggal 1 September 2020 karena pemberitaan tersebut telah merugikan nama baik; baik pribadi, keluarga dan usaha Toko Aneka Jaya.

Kedua: segera meminta maaf secara terbuka kepada klien kami, Eufrasi S. Lay dan keluarga.

"Demikian surat kami sampaikan dan kami juga menanti jawaban tertulis selama 14 hari kerja sejak surat ini diterima. Atas perhatian dan kerja sama Redaksi Vox NTT kami sampaikan terima kasih. Salus Populi Suprema La, Hear Voice of the Voiceless," demikian PADMA Indonesia.

Adapun Tembusan Surat tersebut disampaikan kepada Dewan Pers RI di Jakarta, Komnas HAM RI di Jakarta, Menteri Komunikasi dan Informatika RI di Jakarta, Kapolda NTT di Kupang, Kapolres Ngada di Bajawa, Pers dan Arsip.

--- Guche Montero

Komentar