Breaking News
  • Bengkulu inisiasi koridor gajah di bentang Kerinci Seblat
  • Gubernur Sumbar pecahkan rekor MURI pantun terbanyak
  • Ibrahimovic teken kontrak baru di MU pekan ini
  • Kanselir Jerman kritik Turki telah selewengkan fungsi Interpol
  • PSG menang 6-2 atas Toulouse, Neymar cetak dua gol

TAJUK Terluka karena Cinta 13 Jun 2017 12:30

Article image
Cinta selalu punya tangan untuk membantu orang lain yang menderita. (Foto: Leohidalog)
Banyak kali kita lihat, banyak orang rela dilukai demi cintanya pada orang lain. Semakin dilukai karena cinta, ia semakin berbahagia.

“SATU kata yang mampu membebaskan kita dari beban derita adalah kata cinta." Tidak tanpa alasan jika Sophocles, penyair dan penulis Yunani kuno menulis demikian. Ada sikap optimisme Sophocles bahwa hanya melalui cinta kita dapat mengatasi penderitaan.

Jika dilihat dari asal usul kata, penderitaan berasal dari kata "derita". Kata derita berasal dari bahasa sansekerta dhra artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan, entah berupa penderitaan lahir atau batin atau lahir dan batin.

Di tengah realitas penderitaan, cinta muncul sebagai kekuatan ampuh, mengatasi penderitaan. Cinta datang dalam keterlibatan menanggung beban, atau kesulitan. “Cinta memiliki tangan untuk menolong orang lain, mempercepat kaki untuk menolong orang miskin dan susah, memiliki mata untuk menemukan penderitaan, mempunyai telinga untuk mendengar teriakan kesusahan orang lain.” Begini kata pemikir besar Agustinus ketika ditanya tentang kekuatan cinta atas penderitaan.

Ini bukan wicara tentang cinta erotis, cinta filial, ataupun cinta romantik. Kita bicara tentang cinta yang  mengangkat derajat-martabat orang yang menderita sebagai subjek di hadapan orang yang mau membantu keluar dari penderitaan. Cinta itu penuh, memberi diri sebagai subjek dalam dialog yang setara. Dalam cinta, tidak ada  posisi subjek-objek, kaya-miskin, kota-desa. Inilah yang dinamakan agape, cinta tanpa syarat.

Cinta tanpa syarat akan memberikan  diri secara total kepada orang lain. Dalam  situasi ini, cinta tidak dapat diganti dengan kebencian. “Cinta tidak memberikan apa-apa kecuali dirinya sendiri dan tidak mengambil apapun kecuali dari dirinya sendiri. Karena cinta sudah cukup bagi cinta,” tulis pujangga terkenal dari Lebanon, Kahlil Gibran. Kita tidak bisa menukar cinta dengan yang lain atas alasan apapun!

Bahkan, menderita karena cinta dapat merupakan cara mengatasi penderitaan. Banyak kali kita lihat, ada orang rela dilukai demi cintanya pada yang lain. Semakin dilukai karena cinta, ia semakin berbahagia. Di sini ada pesan berbobot, sebagaimana disampaikan Albert Camus: salah satu cara mengatasi penderitaan adalah menjalani penderitaan itu!

Percayalah, kekuatan cinta akan membawa kita terbang mengatasi penderitaan. Kita tidak sendirian menangis. Cinta akan muncul dari berbagai macam cara. 

Lagi kata Kahlil Gibran: “Apabila cinta memanggilmu, ikutilah dia walau jalannya berliku, dan apabil sayapnya merangkulmu, pasrah dan menyerahlah, walau pedang yang tersembunyi di sela-sela sayap itu melukaimu.”

Salam Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar