Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

KIAT Ternyata Depresi dan Stres Bisa Picu Hipertensi 10 Aug 2018 22:20

Article image
Foto: Ilustrasi pengecekan tekanan darah
Tekanan darah normal diusahakan berada di bawah angka 140 (sistolik) dan 90 (diastolik). Angka ini berlaku untuk segala umur, sehingga perlu perhatian lebih jika angkanya di atas batas tersebut.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Kondisi depresi dan stress ternyata bisa menyebabkan tekanan darah tinggi (hipertensi). Sudah ada studinya bahwa mereka yang mengalami hipertensi berhubungan dengan meningkatnya kejadian depresi dan gangguan kecemasan.”

Demikian diungkapkan Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari RS Jantung Harapan Kita, Bambang Widyantoro seusai konferensi pers di Hotel Fairmont Jakarta, Selasa (7/8/18).

Dijelaskan, hipertensi merupakan penyakit yang amat berbahaya dan dapat menyebabkan komplikasi atau penyulit lanjut seperti stroke, penyakit jantung dan gagal ginjal. Hipertensi bisa disebabkan oleh sejumlah kondisi seperti faktor usia, keturunan, obesitas, hingga kebiasaan merokok. Namun, kondisi depresi dan stres juga sangat berpotensi memicu hipertensi.

Dalam penjelasannya, Bambang menyarankan agar orang yang sering mengalami depresi dan stress serta merasakan gangguan psikis berat, dapat secara intens berkonsultasi dengan spesialis jiwa.

“Meskipun masih ada pandangan di masyarakat awam bahwa mereka yang datang menemui spesialis jiwa dianggap mengalami gangguan kejiwaan, namun depresi dan gangguan kecemasan harus dikenali dan dikonsultasikan sejak awal supaya ada tidak berlanjut secara medis,” sarannya.

Ia menerangkan bahwa hipertensi sendiri selain menyebabkan penyulit fisik juga bisa memengaruhi kondisi psikologis. Menurutnya, seseorang yang memiliki hipertensi juga bisa mengalami peningkatan depresi dan gangguan kecemasan. Ia bahkan meluruskan pandangan awam tentang seseorang yang sering marah-marah dianggap memiliki hipertensi.

“Tidak seperti yang beredar di masyarakat awam bahwa jika sering marah-marah pasti hipertensi. Tidak demikian. Dengan sering berkonsultasi maka dapat diketahui penyebab serta tindakan medis selanjutnya,” tuturnya.

Ia menekankan pentingnya setiap orang agar rutin mengecek tekanan darah. Tekanan darah normal diusahakan berada di bawah angka 140 (sistolik) dan 90 (diastolik). Angka ini berlaku untuk segala umur, sehingga perlu perhatian lebih jika angkanya di atas batas tersebut.

“Umur berapa pun ketika menyentuh 140 atau 90 di bawahnya, sudah termasuk hipertensi. Penting juga diketahui walaupun semakin tinggi usia tekanan darah memang naik, namun kita tidak bisa permisif atau toleran bahwa usia tua wajar punya tensi tinggi,” tandas pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu.

--- Guche Montero

Komentar