Breaking News
  • Ada 70.000 ibu hamil dan menyusui di antara pengungsi Rohingya
  • ASEAN Para Games - Doni Yulianto sumbang emas nomor kursi roda 1.500m
  • Kemenperin buka rekrutmen PNS untuk 380 formasi
  • Malaka, NTT diguncang gempa
  • Menhub: uji coba Transjabodetabek hasilnya kurang maksimal

OPINI Teror Mengganggu Kita (Lagi): Catatan Kecil Pasca "Aksi 2405" 25 May 2017 16:16

Article image
Kelompok teroris manapun selalu bekerja secara klandestin (bawah tanah/rahasia). (Foto: Tibet Post)
Deradikalisasi jauh lebih penting dan bermanfaat jangka panjang ketimbang hanya penindakan (pendekatan hukum) oleh aparat terkait.

Oleh Valens Daki-Soo

 

SETIDAKNYA tiga kali di Harian Kompas dan lebih dari sekali di Harian Suara Pembaruan saya pernah menulis tentang isu teror(isme). Salah satu judul artikel saya di Kompas adalah "Mengapa Teror Terus Terjadi?"

Dalam artikel tersebut saya menawarkan beberapa perspektif untuk menilai dan memahami terorisme, tidak hanya mengerlingnya dari sudut pandang agama dan ideologi. Namun, tentu saja agama merupakan salah satu faktor serius pula. Misalnya, misinterpretasi secara tekstual terhadap ayat suci dapat menjadi fondasi dan legitimasi bagi aksi jihadis berbentuk teror. Belum lagi jika terjadi manipulasi agama demi kepentingan politik dan ekonomi.

Semalam jelang dinihari sekitar pukul 01.00, usai lihat-lihat TKP aksi bom bunuh diri di Kampung Melayu Jakarta Timur, saya sengaja berjalan kaki dari TKP hingga Matraman. Dari samping Gereja St. Yosef Matraman saya menyusuri lorong-lorong Kayumanis hingga Utankayu yang mulut jalannya berseberangan dengan Rawamangun. Dari sana saya kembali naik mobil menuju rumah di kawasan sebelah Pulomas.

Sambil menikmati jalan kaki saya perhatikan ekspresi wajah orang-orang di jalanan. Di dua-tiga titik masih ada tukang ojek bergerombol menanti pengguna jasa. Seorang penjual nasi goreng dikerubuti sejumlah orang di pinggir jalan Jatinegara. Beberapa tampaknya aparat polisi berpakaian kasual. Di Jl. Matraman beberapa kelompok orang duduk di pinggir jalan, tidak memberi kesan tercekam ketakutan (dalam bahasa Latin, "terror" berarti takut/ketakutan).

Secara positif, 'pars pro toto' ekspresi mereka menggambarkan warga Jakarta yang gak takut teroris, tidak terintimidasi oleh aksi teror. Namun, bisa juga ini bukan soal takut atau berani melainkan urusan 'survival', khususnya orang-orang kecil yang harus menjaring rejeki dengan bekerja seperti ini. Kehidupan harus terus berjalan, apapun yang terjadi.

Tentang aksi teror ini, kita tunggu hasil kerja pihak kepolisian. Jika ada yang bertanya, mengapa aksi teror tidak bisa dicegah, saya bisa jelaskan begini. Pihak intelijen, khususnya bidang intel Densus 88, memang punya data tentang peta jaringan domestik, sumber dan aliran dana (basis logistik), simpul-simpul pendukung, basis ideologis, tali-temali kaitan dan kerja sama antar kelompok dan sebagainya. Namun, kita sulit mengetahui persisnya kapan dan di mana suatu aksi teror dilancarkan. Kelompok teroris manapun selalu bekerja secara klandestin (bawah tanah/rahasia).

Salah satu masalah dalam CB (cara bertindak) aparat kepolisian dalam menindak aksi teror (dan juga berbagai jenis kejahatan) adalah mereka bekerja "post factum": setelah kejadian meletus. Anda jangan bayangkan aparat intel era Orba khususnya zaman Jenderal Benny Moerdani yang bisa tangkap orang kapanpun dan di mana saja asalkan ditengarai atau diketahui mereka "mau/akan" beraksi. Zaman itu aparat intel amat berkuasa, mereka bisa bergerak mendahului aksi 'subversif' tertentu. CB macam itu tidak bisa Anda harapkan berlaku dewasa ini, karena tidak diizinkan UU dan juga berpotensi besar melanggar HAM.

Oleh karena itu, menghadapi dan mengatasi terorisme sebagai "musuh bersama" kita sebagai bangsa dan komunitas umat manusia, langkah proaktif-preventif adalah deradikalisasi. Itu tidak bisa hanya dilakukan Polri dan TNI, tetapi harus jadi kerja sama antar berbagai elemen bangsa, dari kaum ulama hingga LSM dan kampus/mahasiswa.

Deradikalisasi jauh lebih penting dan bermanfaat jangka panjang ketimbang hanya penindakan (pendekatan hukum) oleh aparat terkait. Pendekatan kesejahteraan amat penting karena kemiskinan, kebodohan dan ketidakadilan dapat menjadi ladang subur bagi benih-benih radikalisme dan terorisme.

Menjawab komentar bernada curiga di medsos bahwa aksi teror Kampung Melayu merupakan hasil rekayasa Densus 88, dapat ditegaskan kecurigaan itu tak berdasar. Apakah Densus yang merekayasa ISIS/IS (Islamic State) atau Daulah Islamiyyah di Timur Tengah? Tidak. Apakah Densus yang memunculkan ide dan upaya membangun Khilafah Islamiyyah? Tidak. Apakah Densus yang bikin organisasi radikalis semacam al-Jamaah al-Islamiyyah? Tidak. Organisasi itu malah lahir tahun 1970, jauh sebelum Densus 88 (2004).

Kecurigaan itu biasanya dilemparkan pihak yang tidak suka aparat menindak tegas kelompok-kelompok radikalis. Atau mungkin hanya karena tidak tahu peta situasi dan kurang mengikuti dinamika ideologis.

Mari kita terus memperkuat dan melaksanakan nilai-nilai Pancasila dan merawat keindonesiaan kita yang menutup pintu terhadap segala aksi kekerasan termasuk terorisme.

Indonesia sejatinya adalah rumah bersama kita yang aman dan damai. 

 

Penulis adalah pemerhati politik dan keamanan, Pendiri dan Pemimpin Redaksi IndonesiaSatu.co

Tags:
Terorisme

Komentar