Breaking News

REGIONAL Terungkap, Operator Dispenduk Sumba Timur Terima Bayaran demi Palsukan Dokumen 29 Jul 2019 13:46

Article image
Para pelaku TPPO di kabupaten Sumba Timur saat diselidiki Polda NTT beserta barang bukti. (Foto: Kompas.com)
Dari tiga ASN itu, hanya dua orang yang melakukan proses data. Sedangkan yang bertugas menerima uang adalah operator.

KUPANG, IndonesiaSatu.co-- Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Nusa Tenggara Timur (NTT), saat ini terus mengembangkan kasus dugaan pemalsuan dokumen sembilan orang calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal KabupatenSumba Timur.

Kepala Unit Tindak Pidana Perdagangan Orang Subdit IV Kekerasan Anak dan Wanita Direskrimum Polda NTT, AKP Tatang Panjaitan mengatakan, pihaknya telah memeriksa tiga orang Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Sumba Timur.

"Tiga orang ASN yang sudah kita periksa  bekerja sebagai operator penerbitan Akta Kelahiran, Kartu Tanda Penduduk dan Kartu Keluarga," ungkap Tatang seperti dilansir Kompas.com, Jumat (26/7/19).

Dari tiga ASN itu, kata Tatang, hanya dua orang yang melakukan proses data. Sedangkan yang bertugas menerima uang adalah operator.

"Hasil pemeriksaan, operator mengakui telah menerima uang Rp 100.000 sebagai upah pembuatan dokumen calon TKI. Untuk total uang yang diterima, operator mengaku lupa. Namun saat ini statusnya masih sebagai saksi oleh pihak penyidik," ujar Tatang.

Berdasarkan keterangan operator tersebut, dia menerima dokumen dan membuat semua permohonan dari petugas lapangan.

Terkait dugaan keterlibatan ASN itu, pihak penyidik akan berkoordinasi sekaligus minta petunjuk kepada jaksa penuntut umum.

Sebelumnya diberitakan, aparat Polda NTT menangkap dan menahan keempat pelaku yang terlibat dalam jaringan perdagangan manusia (human trafficking) termasuk seorang ibu rumah tanggal berinisial FM (53).

Tatang menerangkan, FM adalah warga Kelurahan Hambala, Kecamatan Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur. Selain FM, polisi juga menangkap tiga orang lainnya yakni YNT (27), AL (42) dan DKW (42).

Keempat orang ini ditangkap karena diduga memalsukan dokumen sembilan orang calon tenaga kerja asal Kabupaten Sumba Timur yang hendak dipekerjakan ke Malaysia dan Brunei Darrusalam.

Adapun, sembilan calon pekerja itu masih berusia di bawah 21 tahun. Namun, pada kartu tanda penduduk, ijazah, kartu keluarga dan akta kelahiran, usia mereka diubah.

Sebelum diberangkatkan ke Malaysia, para korban ini ditampung di Kupang.

FM adalah koordinator PT Bukit Mayak Asri (BMA) selaku perusahaan jasa tenaga kerja di Kabupaten Sumba Timur. Sedangkan, YNT, AL dan DKW adalah petugas lapangan yang merekrut sembilan calon tenaga kerja itu.

"Para korban yang rata-rata baru tamat SMA dan belum berusia 21 tahun, direkrut untuk dipekerjakan ke luar negeri sebagai pembantu rumah tangga dengan iming-iming gaji sebesar 1.200 RM atau sekitar Rp 4,4 juta per bulan," ungkap Tatang.

Dokumen para korban ini, lalu diubah di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Sumba Timur.

Aksi mereka itu terungkap setelah dua orang calon tenaga kerja, yakni Labse Dorita Maramba Meha dan Orvin Tatu Ridja, melihat umur mereka diubah di dalam paspor.

Setelah itu, keduanya melarikan diri dari tempat penampungan dan melaporkan ke polisi.

 

--- Guche Montero

Komentar