Breaking News

REGIONAL Terus Meningkat, Jumlah PMI Asal NTT yang Meninggal Tercatat 86 Orang 15 Sep 2019 17:55

Article image
Ilustrasi korban pekerja migran yang meninggal di luar negeri (Foto: Istockphoto/Katarzyna Bialasiewicz)
"Soal moratorium oleh Pemprov NTT, mestinya diimbangi dengan pengawasan dan sanksi hukum yang jelas dan tegas," kata Gabriel.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Jumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang meninggal dunia di luar negeri terus meningkat.

Koordinator bidang pelayanan advokasi, hukum dan HAM Jaringan Nasional Anti Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), Gabriel Goa mengatakan, sejak Januari 2019 tercatat jumlah jenazah PMI asal NTT mencapai 86 orang.

"Jenazah ke-86 akan tiba siang ini, Minggu (15/9/19) di Bandara El Tari Kupang, NTT atas nama Maria Yance Siki asal Desa Tun Noe, RT 07/ 03, Miomafo Timur, Kabupaten Timot Tengah Utara (TTU) dengan pesawat GA 438," kata Gabriel.

Dua hari sebelumnya yakni pada Jumat dan Sabtu (14/9), NTT juga menerima kiriman jenazah PMI bernama Yanto Olin asal Desa Banfanu Noemuti dan Jidron Faot.

"Mayoritas jenazah PMI yang dipulangkan ke NTT berstatus non prosedural (illegal) sehingga mempersulit urusan administrasi kepulangan bahkan terkait jaminan hasil kerja bagi keluarga dari PMI yang meninggal di luar negeri. Belakangan ini, jumlah jenazah PMI dari luar negeri terus meningkat," kata Gebby.

Gebby mendesak agar Pemprov NTT melalui dinas-dinas terkait, para pemangku kepentingan (stakeholders) harus memberi atensi dan tindakan serius menyikapi persoalan tersebut.

"Ini bencana kemanusiaan yang terus melanda NTT. Dengan angka yang terus meningkat drastis ini, harus ada upaya serius untuk membendung arus tenaga kerja asal NTT ke luar negeri. Soal moratorium oleh Pemprov NTT, mestinya diimbangi dengan pengawasan dan sanksi hukum yang jelas dan tegas," katanya.

Sementara, Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) NTT sudah mencatat jumlah jenazah PMI sejak Januari hingga Agustus lalu.

Mereka mencatat ada 73 jenazah yang telah diterima per Agustus. Jumlah tersebut terus meningkat memasuki bulan September yang kini telah mencapai 86 jenazah.

"Berdasarkan data kami, sejak Januari sampai 19 Agustus 2019, NTT sudah menerima 73 jenazah PMI," tutur Kepala BP3TKI NTT, Siwa mengutip Antara, Rabu (4/9).

Sebagai pembanding, pada 2017 lalu, jumlah pekerja migran yang meninggal dunia dan dikirim ke NTT sebanyak 62 orang. Jumlah tersebut meningkat pada 2018 yang mencapai 105 orang.

Siwa menjelaskan bahwa pekerja migran asal NTT yang selama ini menjadi korban kekerasan hingga meninggal dunia umumnya tidak melalui prosedur resmi. Akibatnya, mereka tidak mendapat perlindungan, sehingga menjadi korban kekerasan hingga meninggal dunia.

Siwa yakin pekerja migran yang melalui prosedur resmi tidak mendapat perlakuan serupa. Alasannya, pemerintah menjamin perlindungan kepada mereka.

"Kalau PMI resmi (legal), di manapun mereka bekerja, majikan tidak berani berbuat yang aneh-aneh karena ada perlindungan dari negara. Berbeda dengan PMI tidak resmi, bisa diperlakukan secara tidak manusiawi," katanya.

Siwa mengatakan pihaknya akan terus mendorong masyarakat yang ingin bekerja di luar negeri agar melalui prosedur resmi.

"Jika pekerja yang ingin bekerja di luar negeri melalui prosedur reami, maka hal itu dapat mengurangi jumlah pekerja migran yang menjadi korban kekerasan hingga meninggal dunia," tutupnya.

--- Guche Montero

Komentar