Breaking News
  • Bengkulu inisiasi koridor gajah di bentang Kerinci Seblat
  • Gubernur Sumbar pecahkan rekor MURI pantun terbanyak
  • Ibrahimovic teken kontrak baru di MU pekan ini
  • Kanselir Jerman kritik Turki telah selewengkan fungsi Interpol
  • PSG menang 6-2 atas Toulouse, Neymar cetak dua gol

TAJUK Testimoni tentang Kekuasaan 14 Jun 2017 12:29

Article image
Pemimpin yang dewasa harus terbuka terhadap kontrol kritis demi pendewasaan. (Foto: Okezone)
Ukuran diri seorang tampak jelas pada apa yang dilakukannya dengan kekuasaan yang ada padanya.

TIDAK tanpa kebetulan jika seorang pemikir besar Eropa bernama Montesquieu menulis sebuah kalimat berkarakter tentang kekuasaan.

Tulisnya: Jeder Mensch, der Macht hat, wird dazu getrieben, sie zu missbrauchen. Darum benoetigt alle Macht eine Gegenmacht, die Macht bremst - Setiap manusia yang memiliki kuasa didorong untuk menyalahgunakannya. Maka setiap kuasa membutuhkan mekanisme kontrol yang membatasi kekuasaan tersebut (Montesquieu, Ueber die Gesetze, bab 4).

Montesquieu menulis dalam zamannya ketika rezim pemerintahan despotik mengurung masyarakat Prancis. Pemerintahan despotik yang mengandalkan kesewenang-wenangan seseorang pemimpin secara pasti menggunakan kekuasaannya dengan tangan besi. Kekuasaan ditempatkan dalam situasi sakral di mana ia tidak dapat dibantah. Kekuasaan itu sakral, suci.

Dalam situasi demikian, pemimpin despotik yang berkuasa bersikap anti-kritik. Ia tidak segan-segan menindak tegas pihak-pihak yang berseberangan dengannya atas nama kepatuhan total. Bersikap kritis artinya bersikap subversif, menyimpang.

Seruan Montesquieu masih relevan kini ketika kekuasaan despotik mengancam nurani para pemimpin. Namun, itu tidak hanya terjadi dalam kekuasaan politik. Ini berlaku untuk semua jenis kekuasaan, juga yang atas nama kekudusan.

Ada pemimpin (organisasi) keagamaan yang bersikap despotik, yang menganggap kekuasaannya tidak dapat diganggu atau dikontrol. Komunikasi berjejaring secara internal maupun eksternal ditutupnya rapat. Mungkin ia berpandangan bahwa kekuasaan adalah anugerah Ilahi yang tidak dapat dikontrol karena telah paripurna.

Ukuran diri seorang tampak jelas pada apa yang dilakukannya dengan kekuasaan yang ada padanya. Demikian  Plato pernah menulis. Karakter kekuasaan menggambarkan karakter pemimpin. Apabila kekuasaan digunakan sewenang-wenang, maka pemimpin entah pemimpin politik maupun agama tidak boleh kebal kritik.

Pemimpin yang matang dalam kekuasaannya adalah pemimpin yang tahan uji terhadap kritik sebagai kontrol yang mendewasakan. Semakin diuji, semakin bersinar seperti emas diuji dalam tanur api.

Salam Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar