Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

INTERNASIONAL Theresa May Resmi Ajukan "Perpisahan" Inggris dari Uni Eropa 29 Mar 2017 08:16

Article image
Perdana Menteri Inggris Theresa May (REUTERS/Peter Nicholls)
“Kini keputusan sudah diambil untuk keluar dari Uni Eropa, saatnya sekarang untuk bersatu…”

LONDON, IndonesiaSatu.co – Inggris secara resmi akan mengajukan surat perpisahan dari keanggotaan Uni Eropa (Brexit), hari ini, Rabu (29/3/2017). Dengan demikian surat cerai ini mengantarkan Inggris kepada ketidakmenentuan yang sekaligus memicu proses lama negosiasi tidak menentu yang akan menguji daya tahan Uni Eropa.

Seperti dikutip Antara dari Reuters, setelah sembilan bulan setelah rakyat Inggris memutuskan keluar dari Uni Eropa, Perdana Menteri Theresa May akan resmi memberi tahu Presiden Dewan Uni  Eropa Donald Tusk melalui sebuah surat bahwa Inggris Raya benar-benar akan keluar dari blok yang sudah diikuti Inggris sejak 1973 itu.

May yang sejatinya penentang Brexit dan menjadi perdana menteri di tengah gejolak politik akibat referendum Brexit, kemudian akan memiliki waktu dua tahun untuk menyelesaikan syarat-syarat perceraian dengan Eropa sebelum Brexit efektif akhir Maret 2019.

"Kini keputusan sudah diambil untuk keluar dari Uni Eropa, saatnya sekarang untuk bersatu," kata May dalam naskah pidato yang disiapkan kepada parlemen Inggris.

"Ketika saya duduk di meja negosiasi pada bulan-bulan mendatang, saya akan mewakili semua kalangan rakyat Inggris Raya, yang muda, yang tua, kaya dan miskin, kota besar, kota kecil, desa, dan semua dusun serta hamlet," kata May.

Di ambang Brexit, May memiliki tugas paling sulit yang mesti dihadapi seorang perdana menteri Inggris Raya, menyatukan Inggris Raya di tengah ancaman tuntutan kemerdekaan dari Skotlandia, sembari menggelar pembicaraan terus menerus dengan 27 negara Uni Eropa mengenai keuangan, perdagangan, keamanan dan sejumlah masalah pelik lainnya.

Hasil negosiasi dengan Uni Eropa akan membentuk masa dengan sistem perekonomian Inggris yang bernilai 2,6 triliun dolar AS yang merupakan kelima terbesar di dunia dan sekaligus menentukan apakah London bisa mempertahankan posisinya sebagai salah satu dari dua pusat keuangan dunia.

Bagi Uni Eropa sendiri yang sudah dihantam krisis utang dan pengungsi, kehilangan Inggris Raya menjadi pukulan terberat dalam 60 tahun upaya menyatukan Eropa setelah dua perang dunia yang sangat menyengsarakan benua itu.

Para pemimpinnya mengatakan bahwa mereka tak ingin menghukum Inggris. Tetapi bangkitnya partai-partai nasionalis yang anti Uni Eropa, telah memaksa mereka untuk tidak bermulut manis kepada Inggris yang mungkin menyemangati negara-negara Uni Eropa lainnya untuk mengikuti jejaknya keluar dari Uni Eropa.

--- Sandy Romualdus

Komentar