Breaking News
  • Bos First Travel Andika Divonis 20 Tahun, Istrinya 18 Tahun
  • Dolar AS Melambung, Harga Premium dan Solar Tak Naik Tahun Ini
  • Hendropriyono: TNI/Polri Jangan Takut Tegakkan Hukum
  • JK: Eks Koruptor Dilarang Nyaleg Agar Wibawa DPR Baik
  • Jonan Targetkan Akuisisi Saham Freeport Rampung Juni

INTERNASIONAL Tiba di Bangladesh, Paus Fransiskus Salami Pengungsi Rohingya 04 Dec 2017 11:16

Article image
Paus Fransiskus Menyalami Pengungsi Rohingya di Bangladesh (Foto: Reuters)
"Tragedi Anda sangat keras, sangat besar kami menyediakan ruang di hati kami untuk Anda. Atas nama semua orang, dari orang-orang yang menganiaya anda, orang-orang yang menyakiti anda, dan terutama ketidakpedulian dunia, saya mohon maaf. Maafkan kami. Keh

BANGLADESH, IndonesiaSatu.co-- Pemimpin Tertinggi umat Katolik Roma, Paus Fransiskus, Jumat (1/12/17) waktu setempat tiba di Bangladesh. Paus Fransiskus memberikan dukungan kepada warga Rohingya saat berjumpa dengan pengungsi dari minoritas Muslim Myanmar di Ibu Kota Dhaka, Bangladesh.

Sebelumnya, dukungan serupa dilakukan Paus asal Argentina ini dengan berkunjung ke Myanmar. Selama kunjungannya ke Myanmar, Paus Fransiskus bertemu dengan dua pemimpin terpenting di negara tersebut yakni pemimpin sipil, Aung San Suu Kyi dan Jenderal Senior, Min Aung Hlaing, panglima tertinggi angkatan bersenjata Myanmar.

Dilansir CNN, ketika berada di Myanmar, Paus Fransiskus tidak secara terbuka menunjukkan dukungannya terhadap Muslim Rohingya. Pasalnya, dukungan yang dilontarkan Paus untuk etnis Muslim Rohingya memicu kecaman dan kemarahan dari netizen Myanmar. Diberitakan, ketika berada di Myanmar, Paus Fransiskus disarankan untuk tidak menyinggung isu Rohingya oleh Gereja Katolik Myanmar. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari ketegangan antara umat Kristen minoritas dan umat Buddha yang ada di sana. Meski demikian, dalam pidatonya di Myanmar, paus juga telah menekankan pentingnya perdamaian, belas kasih dan rasa hormat untuk semua kelompok etnis.

"Tragedi Anda sangat keras, sangat besar kami menyediakan ruang di hati kami untuk Anda. Atas nama semua orang, dari orang-orang yang menganiaya anda, orang-orang yang menyakiti anda, dan terutama ketidakpedulian dunia, saya mohon maaf. Maafkan kami. Kehadiran Tuhan hari ini juga disebut Rohingya," kata Paus Fransiskus saat menjumpai pengungsi Rohinhgya di Katedral St. Mary, kota Dhaka.

Foyez Ali Majhi, seorang pengungsi dari kamp Balukhali yang bertemu dengan Paus Fransiskus, mengatakan bahwa dia meminta Paus untuk menyebarkan informasi ke dunia tentang penderitaan mereka.

"Rumah kami dibakar dan mereka (militer Myanmar) telah mengambil semuanya. Saya memberi tahu Paus untuk mengusahakan keadilan bagi kami. Yang utama adalah memberi identitas kami kembali. Kami menginginkan kewarganegaraan Rohingya di Myanmar,” katanya seperti yang dilansir Al Jazeera.

Abul Syed, pengungsi Rohingya lainnya yang bertemu dengan Paus Fransiskus, mengatakan bahwa mereka berbicara mengenai tuntutan tertentu.

Syed, yang berbicara atas nama kelompok pengungsi Rohingya menuturkan, mereka menuntut agar Myanmar memastikan pemulangan semua etnis Rohingya yang telah melarikan diri.

Terlihat dalam momen itu, beberapa pengungsi Rohingya menitikan air matanya saat menunggu bertemu pemimpin 1,3 miliar umat katolik dunia tersebut. Paus pun memeluk satu per satu perwakilan etnis minoritas Rohingya itu.

Paus Fransiskus selama ini mengadvokasi pengungsi dan kelompok minoritas yang rentan terhadap penganiayaan. Dia berulang kali mengutuk kekerasan terhadap sebagian besar minoritas Muslim, menyebut mereka sebagai saudara laki-laki dan perempuannya dan memberi label kepada orang-orang Kristen yang menolak untuk memperlakukan mereka manusiawi sebagai orang munafik.

Lebih dari 600.000 orang Rohingya telah melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh karena takut akan pelanggaran oleh militer Myanmar. Mereka mengalami serangkaian tindakan diskriminatif oleh pemerintah Myanmar seperti dicabut kewarganegaraannya.

Sementara pemerintah Myanmar tidak menggunakan istilah Rohingya untuk merujuk pada pengungsi itu. Rohingya dianggap imigran gelap dari Bangladesh, meskipun beberapa keluarga telah tinggal di Myanmar selama berabad-abad. Rohingya tidak diakui sebagai minoritas resmi di Myanmar, yang secara efektif berarti mereka ditolak kewarganegaraannya.

 

--- Guche Montero

Komentar