Breaking News
  • BI: penurunan suku bunga mendorong intermediasi perbankan
  • BI: penurunan suku bunga sudah perhitungkan FFR
  • Perusahaan China bidik sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia
  • Petambak Lombok berpenghasilan Rp20 juta per bulan
  • Tiga BUMN kembangkan pelabuhan dukung Tol Laut

SEKS & ROMANTIKA Tiga Hal yang Membedakan Antara Cinta dan Nafsu 18 Jul 2017 12:33

Article image
Dalam cinta, seseorang akan selalu bersedia menanti sampai pada waktunya.(Foto: ist)
Nafsu selalu membesarkan ego, memperkecil kepentingan dan kehadiran orang lain. Pada titik tertentu, nafsu cenderung akan melihat orang lain sebagai ‘alat’ pemenuh kebutuhan.

CINTA dan nafsu dalam sebuah hubungan bagaikan dua sisi dari satu mata uang. Namun cinta sering dijadikan topeng pembungkus gelora nafsu yang tak tertahan.

Tidak seperti kaum wanita yang selalu mengedepankan cinta dan komitmen. Kaum pria sebaliknya menggunakan kata cinta sebagai mantra untuk menaklukkan dan meluapkan nafsunya kepada wanita yang belum tentu ingin dicintainya dengan tulus dan sebulat hati.

Berikut ini kiat bagi kaum wanita yang belum mampu membedakan antara nafsu dan cinta:

1. Nafsu selalu berkata ‘Aku’, cinta selalu mengatakan ‘Kamu’. Nafsu selalu mulai dengan ‘Aku’, ‘Diriku’. Nafsu tak pernah mengajak kita untuk memikirkan kepentingan orang lain, atau bahkan kehendak Tuhan sekalipun.

Nafsu selalu membesarkan ego, memperkecil kepentingan dan kehadiran orang lain. Pada titik tertentu, nafsu cenderung akan melihat orang lain sebagai ‘alat’ pemenuh kebutuhan. Sementara, cinta akan berkata: ‘Kamu’.

2. Nafsu selalu berkata: Aku ingin mendapatkan kepuasan, sementara cinta: Aku bersedia menanti.

Bagi mereka yang selalu dikuasai nafsu, kepuasan adalah tujuan. Sayangnya, nafsu tidak pernah bisa dipuaskan. Dalam nafsu, tidak pernah ada kata cukup.

Seorang pria yang sedang dilanda nafsu membara selalu merayu pacarnya, “Sayang, buktikan cintamu, kita making love sekali saja."

Tapi nyatanya, dia tidak akan pernah berhenti meminta dan kejadian itu terus berulang.

Jika cinta adalah kesediaan diri untuk mengarahkan hidup pada orang lain dan melepaskan diri dari ego, maka menanti bukanlah beban.

Dalam penantian, orang yang mempunyai cinta akan mampu menahan diri. Cinta menolongnya untuk berpaling dari hasrat yang bergejolak di dalam hati, demi kebahagiaan orang yang dikasihi.

3. Nafsu selalu berkata: aku ingin mendapatkan kepuasan sekarang, sementara cinta: aku bersedia menanti sampai pada waktunya.

Tapi, nafsu memang tak pernah bisa mengenal penundaan. Penundaan hanya akan membuat sakit dan ketidaknyamanan. Nafsu hanya mengenal: sekarang!

Gambaran nafsu bisa disaksikan dalam adegan film-film biru. Nyaris tidak ada jalinan kisah yang menarik dalam film tersebut. Semua kisah dibuat straight to the point, adegan making love yang ditonjolkan.

Mencinta berarti membuka ruang untuk hadirnya harapan. Mencintai tidak selalu berharap mendapatkan apa yang diharapkan.

--- Simon Leya

Tags:
Seks Romantika

Komentar