Breaking News

INVESTASI Tingkatkan Pelayanan MFO, Basilio Kawal MoU Krakatau International Port dan Pertamina Patra Niaga 05 Aug 2021 19:34

Article image
MoU antara Dirut M. Akbar Djohan dari KIPort dan Direktur Marketing Patra Niaga, Hasto Wibowo dari PT Pertamina Patra Niaga pada Rabu (04/08/2021). (Foto: ist)
MoU tersebut dilakukan demi mempertegas kerjasama pelayanan jasa Bunkering Marine Fuel Oil di pelabuhan KIP serta di wilayah perairan strategis Indonesia terutama di Selat Sunda.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co  – Realisasikan kerja sama di bidang Bunkering Marine Fuel Oil (MFO), Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi, Basilio Dias Araujo, S.S, M.A mengawal sekaligus menyaksikan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding-MoU) antara  Dirut M. Akbar Djohan dari Krakatau International Port dengan Direktur Marketing Patra Niaga, Hasto Wibowo dari PT Pertamina Patra Niaga pada Rabu (04/08/2021).

Mantan penerjemah Mendagri ini menyatakan bahwa MoU tersebut dilakukan demi mempertegas kerjasama pelayanan jasa Bunkering Marine Fuel Oil di pelabuhan Krakatau Internastional Port (KIP) serta di wilayah perairan strategis Indonesia terutama di Selat Sunda.

“Nota Kesepahaman ini merupakan realisasi komitmen Indonesia untuk menciptakan dan meningkatkan pelayanan jasa Bunkering Marine Fuel Oil di berbagai pelabuhan strategis di Indonesia,” jelas Deputi Basilio.

Basilio menjelaskan, MFO dengan kandungan sulfur maksimal 0,5 persen mass by mass (m/m) ini merupakan bahan bakar kapal yang sesuai dengan mandatori International Maritime Organization (IMO). Dan bahan bakar kapal dengan kadar sulfur maksimal 0,5 persen wt yang berlaku mulai 1 Januari 2020.

Sebagai Deputi yang tak hanya bertanggung jawab untuk menjaga kedaulatan maritim, Basilio juga menangani isu energi, yang dalam konteks ini, Bahan Bakar Minyak untuk Kapal mempunyai potensi sangat ekonomis untuk dimaksimalkan.

Mencermati besarnya peluang ekonomi yang belum dioptimalkan selama ini, terutama ribuan kapal baik ukuran besar dan kargo internasional yang melintas di sepanjang Selat Sunda, Deputi Basilio meyakini bahwa “economic and opportunity loss” akibat belum adanya jasa bunkering bahan bakar minyak untuk kapal di Selat Sunda hingga Selat Malaka.

Diestimasikan, kata mantan Sespri Dubes Portugl itu,  sekitar US$ 173 milyar dollar opportunity loss dari jasa bunkering, crew change, dan penyediaan logistik dari kapal-kapal yang melewati Selat Malaka, Selat Singapura, Selat Sunda, dan Selat Lombok. Data tahun 2020, jumlah kapal yang melintas di sepanjang Selat Sunda sebanyak 53.068 kapal (dengan 150 kapal melintas per harinya), sedangkan di jalur Selat Malaka dan Selat Singapura berkisar 120.000 kapal (dengan 350 kapal melintas per harinya di Selat Malaka).

Terkait perkiraan potensi kerugian tersebut Deputi asal Timor ini menyatakan bahwa pemerintah, dalam hal ini Kemenko Marves melalui Kedeputiannya telah mempersiapkan hot spots beberapa pelabuhan strategis di sepanjang selat-selat tersebut dengan pola bisnis MFO. 

“Kita telah siapkan hot spots beberapa Pelabuhan Strategis di sepanjang selat-selat tersebut dengan bisnis MFO ini,” jelas Deputi Basilio.

“Kami yakin, kerja sama ini dapat meningkatkan penerimaan negara dan keuntungan luar biasa terutama untuk revenue negara, kesejahteraan masyarakat, dan yang terpenting Indonesia siap dan mampu untuk memberikan layanan jasa MFO di wilayah perairan strategis kita.  Ke depannya, pelabuhan di Indonesia bisa memberikan pelayanan terbaik dan mampu bersaing dengan negara tetangga lainnya.”

Melalui kerjasama bisnis Bunkering Marine Fuel Oil  tersebut, pengembangan potensi ekonomi melalui pelayanan jasa Bunkering Marine Fuel di berbagai pelabuhan strategis di Indonesia akan semakin meningkatkan profil Kepelabuhanan Indonesia sekaligus memperkuat posture energi Indonesia khususnya penyediaan Bahan Bakar Kapal Marine Fuel Oil (MFO) Sulfur rendah 180 cSt (centistockes) bersama Pertamina Group.

Deputi Basilio juga menambahkan bahwa hal ini sejalan dengan regulasi nasional (Peraturan Menteri Perhubungan No 29 tahun 2014 tentang pencegahan pencemaran lingkungan maritim dikarenakan kadar sulfur pada bahan bakar kapal) dan internasional untuk memproduksi MFO Sulfur rendah 180 cSt.

Pertamina melalui Refinery Unit (RU) III Plaju telah meluncurkan Bahan Bakar Kapal Marine Fuel Oil (MFO) Sulfur rendah 180 cSt (centistockes) dan akan memproduksi MFO 180 cSt sebanyak 380.000 KL per tahun atau kurang lebih 200 ribu barel per bulan serta dapat didistribusikan bagi kapal-kapal berbendera Indonesia maupun selain Indonesia yang memasuki pelabuhan di Wilayah Perairan Indonesia.

 

---Bernad Baran

Komentar