Breaking News

INTERNASIONAL Tolak RUU Ekstradisi China, Jutaan Warga Hong Kong Turun ke Jalan 10 Jun 2019 10:24

Article image
Aksi warga Hong Kong menentang RUU Ekstradisi ke China. (Foto: DPA).
Unjuk rasa tersebut merupakan yang terbesar dalam 15 tahun terakhir, bahkan lebih besar dari protes massal yang diwarnai insiden berdarah di Beijing, 4 Juni 1989.

HONG KONG, IndonesiaSatu.co -- Lebih dari satu juta warga Hong Kong melakukan unjuk rasa menentang rancangan undang-undang ekstradisi di Hong Kong, Minggu sore (9/6/2019) waktu setempat.

Disitir dari Spiegel Online, Senin (10/6/2019), mayoritas warga Hong Kong menolak rencana undang-undang ekstradisi yang akan mengizinkan tersangka dikirim ke China untuk diadili.

Kepala kepolisian Hong Kong menghimbau para pengunjuk rasa agar menahan diri. Lebih dari 2.000 personel dikerahkan untuk mengamankan “pawai penolakan” tersebut.

Pihak kepolisian menyebutkan, aksi unjuk rasa atau pawai penolakan rancangan undang-undang ekstradisi itu merupakan yang terbesar dalam 15 tahun terakhir, bahkan lebih besar dari protes massal yang diwarnai insiden berdarah di Beijing, 4 Juni 1989.

Pada 2003 ribuan demonstran turun ke jalan untuk menentang rencana pemerintah untuk menerapkan peraturan keamanan nasional yang lebih ketat. Rencana tersebut kemudian dibekukan.

Aksi penolakan hukum ekstradisi itu diikuti oleh berbagai kelompok dan lapisan masyarakat, dari pengusaha, pengacara, aktivis prodemokrasi, kelompok agama, hingga pelajar,

"(Aksi) ini mungkin tak berguna, tak peduli berapa banyak orang yang hadir di sini. Kami memiliki cukup kekuatan untuk melawan rencana Pemerintah Hong Kong yang didukung oleh China Daratan," ujar salah seorang demonstran bernama Lai di kawasan Victoria Park, Hong Kong.

Para demonstran juga menuntut pemimpin eksekutif Hongkong Carrie Lam mundur dari jabatannya karena diduga mendukung rancangan undang-undang ekstradiksi tersebut.

--- Rikard Mosa Dhae