Breaking News

HUKUM TPDI: Autopsi Harus 'Dibudayakan' Guna Kepentingan Peradilan dan Kebenaran Materil 03 Dec 2019 09:39

Article image
Tim Laboratorium Forensik Cabang Denpasar, Polres Ende dan keluarga korban saat autopsi terhadap almarhum Ansel Wora. (Foto: IAN/Voxntt.com)
"Autopsi ini guna memastikan sebab-sebab kematian dan mengungkap pelaku di balik peristiwa tragis tersebut," kata Petrus.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) menilai autopsi adalah sah sesuai ketentuan pasal 133 KUHAP, untuk kepentingan peradilan dan mengungkap kebenaran materil.

Koordinator TPDI, Petrus Selestinus melalui rilis kepada media ini, Senin (2/12/19) mengatakan masyarakat kabupaten Ende harus membuka diri dan 'membudayakan' autopsi sebagai opsi mengungkap kebenaran materil.

Hal itu dikatakan Petrus menanggapi peristiwa autopsi oleh Tim Laboratorium Forensik Cabang Denpasar pada Rabu (27/11/19) atas kematian Anselmus Wora, ASN di Dishub Kabupaten Ende yang meninggal di Pulau Ende pada akhir September 2019 lalu.

"Kehadiran Tim Laboratorium Forensik Cabang Denpasar di Ende dalam rangka autopsi, merupakan sebuah langkah maju, oleh karena masyarakat NTT pada umumnya masih menganggap tabu autopsi sesuai dengan pelarangan sosial adat dan budayanya. Namun berkat kerjasama dan saling pengertian antara Polres Ende dan keluarga almarhum Anselmus di bawah koordinasi Polda NTT, maka disepakati untuk dilakukan autopsi," komentar Petrus.

Menurut Advokat Peradi ini, autopsi tersebut sebagai sebuah kemajuan dalam cara pandang masyarakat adat di Kabupaten Ende yang selama ini masih menganut pelarangan sosial dan menganggap tabu autopsi jenazah seseorang yang telah dimakamkan.

"Kita patut mengapresiasi sikap Keluarga Anselmus Wora (alm) yang meskipun masih diliputi suasana duka yang mendalam, namun akhirnya menyetujui dilakukan autopsi guna memastikan sebab-sebab kematian dan mengungkap pelaku di balik peristiwa tragis tersebut," katanya.

Petrus berharap agar semua pihak wajib mengawal hasil autopsi oleh Tim Laburatorium Forensik Cabang Denpasar dan percaya bahwa Polda NTT, Polres Ende dan pihak Laboratorium Forensik Cabang Denpasar akan bekerja secara profesional, independen dan tidak diintervensi oleh kekuatan mana pun dengan membelokan hasil autopsi untuk tujuan lain di luar tujuan penegakan hukum sesuai KUHAP.

"Kita semual mengaharapkan agar penyidikan yang sudah berjalan selama dua bulan, berbagai informasi, fakta dan alat-alat bukti yang sudah dimiliki penyidik, serta hasil autopsi dapat mengungkap dan memastikan sebab, motif, dan para pelaku yang terlibat dalam kematian Anselmus," harap Petrus.

Sebelumnya, Polisi sudah melakukan olah TKP, menyita sejumlah barang bukti yang diperoleh dari hasil rekonstruksi, investigasi melalui alat komunikasi (ITE) milik korban Anselmus Wora dengan pihak lain serta keterangan 35 Saksi.

"Dengan demikian, autopsi ini untuk memastikan sebab-sebab kematian; apakah dugaan pembunuhan berencana atau hanya sekedar penganiayaan yang menyebabkan kematian. Publik menunggu dan terus mengawal hasilnya hingga kepastian hukum," tandasnya.

--- Guche Montero

Komentar