Breaking News

REGIONAL TPDI: PT. Yasoonus Komunikatama Indonesia Diduga Palsukan Rekam Jejak dan Identitas 08 Jun 2020 01:04

Article image
Koordinator TPDI dan Advokat Peradi, Petrus Selestinus. (Foto: Ist)
"Namun agenda untuk membangun Mall di Sikka yang justru tidak urgent, malah tetap jadi prioritas," sentil Petrus.

MAUMERE, IndonesiaSatu.co-- Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) menduga ada 'aroma' manipulatif yang dilakukan oleh PT. Yasoonus Komunikatama Indonesia (PT. YKI) yang direncanakan akan diteken Memorandum of Understanding (MoU) dengan Pemda Sikka guna menindaklanjuti rencana pembangunan Mall di Pasar Alok, Kota Baru, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Koordinator TPDI, Petrus Selestinus, dalam keterangan tertulis kepada media ini, Minggu (7/6/20), menduga PT. YKI membuat profil palsu tentang rekam jejak (track record) dan identitasnya.

"Secara kasat, ternyata PT. YKI umurnya belum setahun jagung. Para Direksi dan Komisaris juga belum cukup berpengalaman dalam bidang jasa, konstruksi, saham dan investaai, karena PT. YKI baru berdiri dan mendapat pengesahan status Badan Hukum dari Kementerian Hukum dan HAM RI Nomor: AHU-0027742.AH.01.01. tanggal 31 Mei 2019, sehingga masih minus pengalaman," kata Petrus.

Petrus mengakui bahwa Pemerintah daerah Sikka (Bupati Robi Idong, red) tengah sibuk dalam mengatasi bahaya pandemi Covid-19 di Kabupaten Sikka.

Meski demikian, masih sempat melakukan rapat untuk menindaklanjuti rencana pembangunan Mall di Pasar Alok, Kota Baru, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, termasuk Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan DPRD Sikka guna membahas MoU antara Pemda Sikka dengan PT. YKI.

Padahal, kata Petrus, seluruh aparat Pemerintah, baik di Pusat maupun Daerah wajib mencurahkan seluruh waktu, tenaga, pikiran dan biaya untuk mengatasi bahaya pandemi Covid-19 dengan berbagai protokol kesehatan, sehingga hampir seluruh mata anggaran dan agenda pembangunan penting lainnya direalokasi dan refocussing.

"Namun agenda untuk membangun Mall di Sikka yang justru tidak urgent, malah tetap jadi prioritas," sentil Petrus.

Advokat Peradi ini menyinggung bahwa kepada Wartawan di Sikka, Bupati Robi dengan tegas menyatakan bahwa antara Pemda Sikka dengan PT. YKI belum ada kesepakatan apapun tentang rencana pembangunan Mall, karena Pemda masih memerlukan persetujuan DPRD, masyarakat dan pelaku pasar. 

"Namun anehnya, draft MoU untuk kerjasama antara Pemda Sikka dengan PT. YKI sudah disiapkan matang dan telah beredar ke beberapa pihak meski dengan kualifikasi konfidensial," sebut Petrus.

Petrus menyayangkan bahwa di tengah semua unsur, elemen dan stakeholders pembangunan di Sikka dalam kondisi lesu akibat ancaman pandemi Covid-19 yang berlangsung tiga bulan, Bupati Robi justru door to door mengantarkan BLT-DD dan BST kepada warga Sikka dan warga yang merasa berutang budi karena mengira bantuan itu berasal dari Bupati Robi.

"Lalu pada saat yang sama, Bupati justru meminta persetujuan untuk membangun Mall di Sikka. Wajarkah sikap demikian?" timpal Petrus.

Advokat senior asal Sikka ini menikai, langkah Bupati Robi nampak tergesa-gesa, tidak ada waktu untuk sosialisasi tentang perlunya Mall dibangun di Sikka, karena kondisi trauma Covid-19 tidak tepat dilakukan saat ini. 

"Pertanyaannya, mengapa sikap Bupati Robi seolah-olah sedang 'memburu rente atau sudah kena jebakan batman', lantas di tengah bahaya pandemi Covid-19 masih menjadi momok, warga justru dicekoki untuk memilih Mall atau Pasar Tradisional," sorotnya.

Padahal, lanjut dia, ada permasalahan utama yang mestinya diteliti terlebih dahulu (tracking) yakni rekam jejak dan kredibilitas Direksi dan Komisaris PT. YKI, terutama perlu klarifikasi beberapa hal terkait PT. YKI sebagai investor yang berumur setahun jagung, belum memiliki jam terbang untuk melakukan investasi dengan nilai trilunan, ditambah kondisi negara yang mengalami defisit dan mengaku sudah membangun menara di Jakarta, Surabaya, Yogyakarta dan Medan.

Motif Pencantuman Status Persero dan Perusahaan Tbk

Pertrus menilai, hingga kini belum ada alasan logis mengapa Pemda Sikka (Bupati Robi, red) begitu terpesona dengan PT. YKI, meski di tengah kesibukan menyikapi persoalan Covid-19 di Kabupaten Sikka yang menjadi salah satu zona merah pasien positif Covid-19.

Jika dicermati profile PT. YKI berdasarkan data yang tercantum di dalam internet (https://yasoonusindonesia.co.id/) maka akan ditemukan beberapa informasi yang memerlukan klarifikasi lebih lanjut tentang pengalaman Direksi dan Komisaris PT. YKI, prestasi yang ditorehkan dengan usia perusahaan yang baru setahun berdiri, track record pengalaman dari bidang usaha yang digeluti (sektor perdagangan, jasa, konstruksi atau investasi).

Menurutnya, di balik usia yang belum setahun jagung, ada temuan yang sangat mengganggu dan menimbulkan prasangka buruk tentang PT. YKI, yakni di dalam profil PT. YKI di Internet, tertera bahwa PT. Yasoonus Komunikatama Indonesia (Persero) dan Perusahaan Terbuka. Dua predikat (Persero) dan (Perusahaan Terbuka) ini ditemukan dalam pencarian googling website PT. YKI. 

"Padahal pencantuman kata (Persero) di depan nama PT. YKI dalam kurung, mengandung konsekuensi yuridis bahwa PT. YKI adalah Badan Hukum milik Pemerintah yang saham dan modalnya berasal dari pemerintah," ujar Petrus. 

"Begitu pula dengan pencantuman sebagai 'Perusahaan Terbuka' yang berarti perusahaan ini telah menjadi milik publik melalui instrumen Initial Public Overing (IPO); sebuah bentuk penawaran saham kepada publik untuk ikut memiliki, sehingga menjadi Perusahaan Terbuka. Padahal kenyataannya tidak," lanjutnya. 

Ia mengatakan bahwa hasil googling internet tidak ditemukan klarifikasi atas pertimbangan apa PT. YKI mencantumkan kata (Persero) dalam kurung setelah nama PT. Yasoonus Komiunikatama Indonesia dan ada kata Perusahaan Terbuka. 

"Apakah ini untuk mengecoh publik dalam rangka memikat calon mitra di daerah?" timpalnya. 

Karena pada kenyataannya, sorotnya, PT. YKI merupakan perusahaan yang baru berumur setahun jagung, saham dan modalnya dimiliki oleh perorangan yaitu Sdr. Yamanotona B. Lase M.Div dan Drs. Penunjang Waruwu, dkk. atas nama pribadi.

Maka timbul pertanyaan; apa motif mencantumkan kata (Persero) dan kata 'Perusahaan Terbuka' di dalam profile website PT. YKI, yang mudah diakses oleh publik.

Selain itu, ada statemen bombastis di dalam profile bahwa PT. YKI adalah Perusahaan Terbuka dan mengokohkan komitmen untuk meningkatkan kinerja operasional, dstnya., bertekad mengembangkan perekonomian melalui pemberdayaan masyarakat melalui pilar-pilar bisnis yang telah dibangun.

"Pilar apa yang dibangun dengan usia seumur jagung? Apakah menara kamuflase di Sikka yang dimaksud?" sentilnya.

Ia berharap agar hal itu dipercayakan kepada Lembaga DPRD Sikka untuk melakukan penyelidikan secara transparan. Karena publik Sikka tidak ingin pengalaman Koperasi Obor Mas yang gagal membangun rumah karena investornya kabur, atau Investasi bodong PT. Mitra Tiara di Larantuka terulang kembali dengan memakan korban yang sama. 

Petrus mengingatkan agar Lembaga DPRD Sikka dan Bupati Sikka harus hati-hati dan meminta klarifikasi tentang beberapa hal sebagai berikut;

Pertama, apakah benar PT. YKI sudah mulai membangun menara kamuflase di beberapa masjid di Indonesia dan sekarang akan masuk wilayah gereja?

Kedua, apakah benar di Gelora Samador dan di Bundaran bandara Frans Seda sudah dibangun menara kamuflase berbentuk Pohon dan Olimpic untuk Gelora Samador?

Ketiga, apakah benar PT. YKI sudah membangun menara di Jakarta, Surabaya, Yogyakarta dan Medan, mengingat usianya baru setahun jagung?

"Jika tidak ada titik terang klarifikasi, maka dugaan manipulatif dan motif konspirasi menjadi suatu keniscayaan yang akan meruntuhkan kredibilitas publik terhadap kebijakan Pemda Sikka yang justru diragukan urgensinya dan menyuburkan peluang korporasi di Sikka," tandasnya.

--- Guche Montero

Komentar