Breaking News

PARIWISATA TPDI Apresiasi Pencopotan Dirut BOP Labuan Bajo oleh Menpar 18 May 2019 09:07

Article image
Menteri Pariwisata, Arief Yahya (selendang Songke) saat launching Pariwisata NTT (Foto: PortalNTT)
“Keputusan Menteri merupakan langkah tepat dan responsif. Karena, Menteri memahami betul prinsip dasar pelayanan kepariwisataan," unkap Petrus.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) menyampaikan apresiasi kepada Menteri Pariwisata, Arief Yahya atas keputusan menonaktifkan Shana Fatina dari jabatan Direktur Badan Otorita Pariwisata (BOP) Labuan Bajo, Manggarai barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Keputusan Menteri merupakan langkah tepat dan responsif. Karena, Menteri memahami betul prinsip dasar pelayanan kepariwisataan yakni daya tarik budaya, adat dan kearifan lokal, pesona lingkungan alam sekitar serta agama yang mayoritas dianut oleh masyarakat setempat (NTT, red) yang harus dijaga kelestariannya. Jika ada upaya dari pihak-pihak tertentu untuk menyeragamkan masyarakat atas nama dan dalil apa pun, maka hal itu akan kita kutuk dan kita tolak," ungkap Koordinator TPDI, Petrus Selestinus di Jakarta, Jumat (17/5/19).

Petrus menegaskan bahwa ekowisata merupakan bagian dari upaya nyata mewujudkan prinsip negara kepulauan dan ciri kenusantaraan menurut UUD 1945 yang sangat menjunjung tinggi keberagaman dan kebhinekaan di dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Di tengah konteks kehidupan masyarakat dan prinsip pariwisata dengan mengedepankan ekowisata berbasis budaya lokal, maka program ‘wisata halal’ yang hendak diterapkan di Labuan Bajo, jelas merupakan pelanggaran terhadap UUD 45 dan UU Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan,” nilainya.

Apresiasi dan Waspada

Petrus menilai, sebagai warga NTT apresiasi patut diberikan kepada Menteri Pariwisata atas keputusan responsive di tengah resistensi masyarakat dan berbagai kalangan. Meski demikian, Petrus berharap agar segenap pihak tetap waspada terhadap bahaya radikalisme dan intoleransi yang setiap saat hendak memangsa kebhinekaan budaya dan adat istiadat di NTT,

“Penarikan dan penonaktifan Shana Fatina bukan berarti serta-merta menghentikan ancaman radikalisme dan intoleransi di NTT, Karena banyak modus yang dilakukan untuk menanamkan pengaruhnya di NT", tegasnya.

Sebelumnya, diberitakan media ini, kepastian Shana Fatina dinonaktifkan dari Dirut BOP Labuan Bajo disampaikan Direktur Promosi Kementerian Pariwisata Vinsensius Jemadu di Jakarta, Kamis (16/5/19).

"Shana Fatina sudah ditarik ke Jakarta dan dinonaktifkan sementara waktu sambil menunggu hasil evaluasi tim yang dikirim Kemenpar ke Labuan Bajo. Selama masa nonaktif itu akan ditunjuk pejabat sementara Dirut BOP Labuan Bajo," ungkap Vinsensius.

Dirut BOP Labuan Bajo dinonaktifkan terkait kontroversi wacana wisata halal yang disosialisasikan dalam kegiatan bimbingan teknis (bimtek) yang diinisiasi oleh Dinas Pariwisata Manggarai Barat dengan difasilitasi oleh Kemenpar dan BOP Labuan Bajo pada akhir April lalu sehingga menuai resistensi dan penolakan dari berbagai kalangan.

--- Guche Montero

Komentar